Yogyakarta, IDN Times - Mubal! Mbludak!
Sejumlah jurnalis yang berkolaborasi meliput penanganan COVID-19 berseru saat melihat angka kasus terkonfirmasi positif per 19 September 2020 lalu yang dinilai tak terkontrol. Ada 74 kasus pada hari itu. Lonjakannya boleh dibilang cukup tinggi, jika dibandingkan dengan tingkat positif (positivity rate) selama September atau pun pada bulan-bulan sebelumnya.
Diakui Sekretaris Daerah Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kadarmanta Baskara Aji, angka 74 itu yang tertinggi sejak Maret 2020 hingga 30 September 2020.
“Memang sengaja pekan-pekan itu kami lakukan swab massal seperti yang dimaui WHO (Badan Kesehatan Dunia),” tukas Kadarmanta dalam wawancara secara virtual pada 25 September 2020 lalu.
Ketentuan WHO menyebutkan harus ada swab yang dilakukan terhadap 1.000 orang untuk tiap 1 juta penduduk tiap pekan. Ada 3,8 juta penduduk di DIY. Setidaknya ada 3.800 orang yang di-swab per pekan untuk memenuhi standar itu.
Berdasarkan data yang dikumpulkan para jurnalis ini, jumlah kasus positif sejak triwulan kedua COVID-19 merajalela di wilayah DIY. Tepatnya Juli-September 2020. Mari kita simak angka-angkanya.
Sejak kasus pertama di DIY per 15 Maret 2020-30 Juni 2020 ada 313 kasus positif. Jumlah itu tak surut dan malah meningkat menjadi 361 kasus pada Juli atau rata-rata kasus positif 11 orang per hari, Agustus ada 751 kasus atau rata-rata kasus positif 24 orang per hari. Dan kenaikan angkanya menjadi luar biasa fantastis pada September yang langsung menembus angka tiga digit, yaitu 1.218 kasus atau 40,6 kasus per harinya. Lonjakan kasus pada September itu setara dengan 85 persen total kasus pertengahan Maret-Agustus 2020.
Sedari 15 Maret hingga 30 September 2020, total jumlah pasien yang terkonfirmasi positif ada 2.643 kasus. Bayangkan, penambahan kasus positif dari 1 kasus menjadi 1.000 kasus butuh waktu 157 hari. Namun dari 1.000 kasus menjadi 2 ribu hanya butuh 34 hari.
Sementara jumlah pasien sembuh 1.885 orang dan 691 orang dirawat di rumah sakit. Mereka menempati ruang kritis di rumah sakit rujukan COVID-19 yang dilengkapi ventilator sebanyak 30 bed dan tersisa 18 bed. Juga mengisi ruang non kritis atau tanpa ventilator dengan 179 bed yang menyisakan 225 bed. Selebihnya memilih isolasi mandiri di rumah atau pun di shelter-shelter yang disediakan karena kondisi asimtomatik (tanpa gejala).
Sedangkan angka kematian positif COVID-19 yang telah lepas dari angka ‘keramat’ delapan karena bertahan sejak Maret hingga 16 Mei 2020, kini bergeser menjadi 12 kasus pada Juli, Agustus menjadi 19 kasus, dan 28 kematian pada September 2020.
Lantas mengapa September yang katanya ceria itu berubah menjadi nestapa?
