Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tiyo Mantan Ketua BEM UGM Cuek soal Temuan Alat Pelacak di Mobil

Tiyo Mantan Ketua BEM UGM Cuek soal Temuan Alat Pelacak di Mobil
Mantan ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. (IDN Times/Tunggul)
Intinya Sih
  • Tiyo Ardianto menemukan dua alat pelacak di mobilnya, ia memilih tidak melapor ke polisi karena menganggap terlalu banyak hal yang harus dilaporkan.

  • Ia menilai pemasangan alat pelacak itu sengaja dibuat mudah ditemukan dan enggan mencari siapa dalangnya agar tidak menghabiskan energi.

  • Tiyo memandang kejadian ini sebagai alarm bagi demokrasi, menandakan bahwa aktivis yang peduli bangsa masih dibayangi ancaman dan pengawasan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sleman, IDN Times - Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menyatakan enggan untuk melaporkan kepada pihak kepolisian terkait ditemukannya dua perangkat pelacak pada mobil yang ia kemudikan beberapa waktu lalu.

"Saya kira kalau harus melaporkan polisi terlalu banyak hal yang harus saya laporkan," kata Tiyo saat ditemui di UC UGM, Sleman, DIY, Kamis (25/6/2026).

1. Terlalu banyak jika semua kejadian dipolisikan

Tangkap layar Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto saat menunjukkan alat pelacak yang terpasang di mobilnya. (Dok. Istimewa)
Tangkap layar Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto saat menunjukkan alat pelacak yang terpasang di mobilnya. (Dok. Istimewa)

Tiyo merinci bahwa selama berkeliling ke berbagai daerah, ia mengalami berbagai kejadian. Menurutnya, jika semua pengalaman tersebut harus dilaporkan kepada pihak kepolisian, jumlahnya terlalu banyak.

"Kalau harus saya laporkan, terlalu banyak," ujarnya menguatkan alasan soal tak perlu melapor ke polisi untuk temuan alat pelacak di mobil.

2. Ogah habiskan energi buat cari dalangnya

Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Lagipula, kata Tiyo, cara pemasangan alat pelacak tersebut justru terkesan sengaja dibuat agar mudah ditemukan oleh targetnya. Ia menilai pesan yang ingin disampaikan cukup jelas, yakni setiap pergerakannya dapat dipantau. Karena itu, ia tidak ingin menghabiskan energi untuk menelusuri siapa pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

"Saya juga tidak mau disibukkan untuk mencari siapa yang melakukan ini. Itu bisa dilakukan oleh kekuasaan, bisa juga dilakukan oleh mereka yang pengin membenturkan saya dengan kekuasaan," ungkap Tiyo.

3. Buka mata publik soal alarm demokrasi

WhatsApp Image 2026-02-13 at 18.21.35.jpeg
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Dengan alasan itu semua, Tiyo memilih cuek dengan kejadian penemuan alat pelacak bernama PBX Finder itu. Baginya, masyarakat telah mengetahui peristiwa yang kemungkinan bisa menjadi peringatan untuk iklim demokrasi.

"Saya pribadi mengabaikannya semua, yang penting rakyat tahu bahwa peristiwa ini terjadi dan itu menjadi alarm bagi demokrasi, bahwa mereka yang peduli pada bangsa justru dibayang-bayangi oleh bahaya," ujarnya.

Sebelumnya, Tiyo mengungkapkan bahwa ia menemukan dua perangkat pelacak yang terpasang pada mobil yang dikemudikannya. Informasi tersebut ia sampaikan melalui akun Instagram pribadinya setelah menerima sejumlah notifikasi dari perangkat pendeteksi pelacak bernama PBX Finder ketika melakukan perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta.

Tiyo menjelaskan kecurigaannya bermula saat menghadiri sebuah diskusi di Semarang pada Sabtu (13/6/2026). Ketika itu, ia merasa diawasi oleh beberapa orang yang tidak dikenalnya, yang disebut secara terbuka mengikuti dan mengambil foto dirinya.

Setelah kegiatan selesai, Tiyo melanjutkan perjalanan ke Jogja untuk mengikuti aksi demonstrasi di kawasan Gejayan. Dalam perjalanan, telepon genggamnya menerima pemberitahuan mengenai keberadaan perangkat pelacak yang bergerak bersamaan dengannya. Seusai aksi, ia memeriksa kendaraannya dan menemukan sebuah alat berbentuk kotak dengan magnet yang menempel di bagian belakang bodi mobil.

Pada hari berikutnya, saat bertolak kembali ke Semarang, notifikasi serupa kembali muncul meski perangkat pertama telah dilepas. Setelah melakukan pemeriksaan ulang, Tiyo menemukan alat kedua yang berbentuk bulat pipih dan direkatkan menggunakan lakban hitam pada bagian ban kanan belakang kendaraan.

Tiyo mengaku sempat merasa cemas karena tidak mengetahui apakah kedua perangkat tersebut memiliki keterkaitan. Ia menduga alat pertama dipasang saat dirinya berada di Jogja karena kondisinya masih tampak baru dan bersih. Sementara alat kedua diduga terpasang sejak Jumat (12/6/2026) dan terakhir terdeteksi diperiksa oleh pemiliknya ketika Tiyo masih berada di sebuah hotel di kawasan Tembalang, Semarang.

Setelah berdiskusi dengan sejumlah pihak, Tiyo berkesimpulan bahwa pemasangan perangkat pelacak tersebut kemungkinan merupakan bentuk intimidasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More