Kepala BKKBN Sebut Yogyakarta Daerah Tingkat Gangguan Mental Tertinggi

- Kepala BKKBN Wihaji menyebut Yogyakarta memiliki tingkat gangguan kesehatan mental tertinggi di Indonesia, terutama pada anak dan remaja akibat menurunnya interaksi langsung dalam keluarga.
- Wihaji mengingatkan orangtua agar tidak membiarkan ponsel menggantikan peran keluarga serta mendorong komunikasi rutin antara orangtua dan anak untuk menjaga kesehatan mental generasi muda.
- Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo berkomitmen memperkuat ketahanan keluarga dan sistem deteksi dini gangguan mental melalui kolaborasi sekolah, puskesmas, hingga rumah sakit.
Yogyakarta, IDN Times - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyebut Jogja adalah daerah dengan tingkat gangguan kesehatan mental tertinggi se-Indonesia.
"Ini riset dan tertinggi di Jogja," kata Wihaji saat menghadiri diskusi bersama komunitas ayah di Kompleks Balai Kota Yogyakarta dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, Kamis (25/6/2026).
1. Wanti-wanti ponsel jadi anggota keluarga baru

Wihaji menyampaikan fenomena gangguan kesehatan mental, khususnya pada anak dan remaja, tidak lepas dari berkurangnya interaksi langsung antara orangtua dan anak di tengah masifnya penggunaan ponsel.
Mantan Bupati Batang itu mengingatkan orangtua tidak membiarkan ponsel mengambil alih peran keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Minimnya komunikasi, kata dia, berpotensi membuat ponsel atau handphone menjadi 'orang tua baru' yang membentuk pola pikir dan perilaku generasi muda saat ini.
"Itu ada 8-10 jam keluarga baru kita ini ngobrol sama anak kita. Siapa keluarga baru kita ini? Keluarga baru kita ini namanya handphone. Dan sekarang kalau nggak hati-hati handphone menjadi bapak-bapaknya anak kita. Tidak hanya bapak, bapak ibunya anak kita. Dan otaknya, algoritmanya sekarang dipengaruhi oleh orangtua baru," papar Wihaji.
"Sementara kita sebagai orangtua, bapak-bapak ini ngobrol sama anak maksimal hanya 5 sampai 10 menit per hari. Hanya tanya sudah makan belum, sudah salat belum, PR-nya ada tidak," sambungnya.
2. Ortu jangan buru-buru salahkan anak

Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat, baik di desa maupun di kota. Menurutnya, kebiasaan berkumpul sambil bercengkerama kini mulai tergantikan dengan aktivitas masing-masing di depan layar ponsel.
"Zaman dulu orang apa-apa belum ada handphone. Ngobrol sambil makan mie ayam, nge-hik (nongkrong), ngobrol. Sekarang bareng bapak ibunya anak ini makan bareng tapi pegang handphone sendiri-sendiri," katanya.
Di sisi lain, Wihaji mengingatkan orangtua tidak menyalahkan anak ketika komunikasi di dalam keluarga semakin sulit terjalin. Menurutnya, kesibukan orangtua juga menjadi faktor yang memengaruhi hubungan dengan anak.
Wihaji mengajak orangtua meluangkan waktu untuk berbincang dengan anak setiap hari. Ia menegaskan tidak menolak penggunaan telepon genggam, tapi meminta agar penggunaannya diimbangi dengan komunikasi yang lebih intens di keluarga.
"Saya berharap ayo sempatkan ngobrol sama anak. Ya handphone tetap lah. Wihaji tidak anti handphone tetapi sempatkan. Letakkan handphone sebentar," pesannya.
Wihaji mengungkap alasan Jogja menjadi salah satu lokasi kampanye kesehatan mental melalui Harganas. Yakni, karakteristiknya sebagai miniatur Indonesia yang sangat plural dan memiliki tantangan sosial yang beragam. Harapannya, dari Kota Gudeg lahir gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan keluarga dan kesehatan mental generasi muda.
"Karena itu terus kita kampanyekan dan Yogyakarta menurut saya titik nol untuk kembali mengampanyekan tentang bagaimana kesehatan mental itu sangat penting dan tentu kita tidak kapok, tidak lelah untuk terus mengedukasi bahwa anak-anak kita ayo diajak ngobrol, ayo diajak diskusi," pungkasnya.
3. Respons Wali Kota Yogyakarta

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengaku bakal menindaklanjuti dan memperkuat ketahanan keluarga, termasuk sistem deteksi dini gangguan kesehatan mental generasi muda.
Dari kacamatanya, tantangan yang dihadapi Yogyakarta cukup kompleks karena tingginya keberagaman masyarakat. "Kami akan tindak lanjuti termasuk misalkan Yogyakarta ya sedikit banyak bisa menjadi contoh sistem screening untuk mental disorder dari sekolah, yang kemudian rujukan berjenjang Ke puskesmas kemudian ke rumah sakit," kata Hasto.
Hasto turut berpesan kepada orangtua agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman supaya dapat membangun kedekatan dengan anak-anak. Baginya, komunikasi yang baik menjadi solusi beragam masalah di lingkungan keluarga maupun sekolah.
















