Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejarah Paskibraka dari Masa ke Masa, Bermula dari Yogyakarta

Kota Yogyakarta
Sejarah Paskibraka dari Masa ke Masa, Bermula dari Yogyakarta
ilustrasi Paskibraka 2025 (pexels.com/Gabriel Judas)
  • Cikal bakal Paskibraka lahir saat upacara 17 Agustus 1946 di Gedung Agung Yogyakarta, ketika kota itu menjadi ibu kota RI setelah pemerintah meninggalkan Jakarta.
  • Mayor Husein Mutahar menggagas pengibar bendera dari kalangan pemuda; formasi awal lima orang kemudian disempurnakan menjadi susunan 17-8-45 pada 1967.
  • Sejak 1969, Paskibraka melibatkan pelajar SLTA perwakilan provinsi; nama Paskibraka resmi digunakan pada 1973 dan kini menjadi program kaderisasi berlandaskan Pancasila.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap tanggal 17 Agustus, mata seluruh Indonesia selalu tertuju ke barisan pemuda-pemudi berseragam putih-putih yang berjalan tegap membawa bendera pusaka. Tapi pernah gak sih kamu terpikirkan, dari mana sebenarnya tradisi Paskibraka ini bermula?

Jawabannya ternyata gak jauh-jauh dari Jogja. Ya, kota pelajar ini pernah jadi ibu kota Republik Indonesia dan menjadi saksi lahirnya cikal bakal Paskibraka. Yuk, simak perjalanan sejarahnya dari masa ke masa berikut ini!

  1. 1. Berawal dari Jogja jadi ibu kota darurat RI

    Kisah ini dimulai pada awal 1946, di mana situasi Jakarta tengah gawat-gawatnya akibat agresi militer Belanda. Pada 4 Januari 1946, Presiden dan Wakil Presiden RI meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta menggunakan kereta api, dengan Bendera Pusaka yang turut dibawa dalam koper pribadi Presiden Soekarno. Sejak saat itu, Yogyakarta resmi menjadi ibu kota Republik Indonesia menggantikan Jakarta.

    Menjelang peringatan detik-detik proklamasi yang pertama pada 17 Agustus 1946, pemerintah tetap kekeh mau menggelar upacara kemerdekaan meski dalam kondisi serba terbatas. Halaman Gedung Agung Yogyakarta pun dipilih jadi lokasi upacara pengibaran bendera pusaka hasil jahitan Fatmawati. Momen inilah yang jadi titik awal lahirnya tradisi yang kini kita kenal sebagai Paskibraka.

  2. 2. Husein Mutahar dan lima pemuda pertama

    Husein Mutahar (commons.wikimedia.org/Government of Jakarta Special Region)
    Husein Mutahar (commons.wikimedia.org/Government of Jakarta Special Region)

    Nama Husein Mutahar gak bisa dilepaskan dari sejarah Paskibraka. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Pertama Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Soekarno memerintahkan Mayor Husein Mutahar, salah satu ajudannya, untuk menyiapkan upacara pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Dari sinilah gagasan besar itu muncul.

    Mutahar punya ide yang cukup progresif pada zamannya. Ia mencetuskan gagasan bahwa pengibaran bendera pusaka sebaiknya dilakukan para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air sebagai simbol generasi penerus perjuangan bangsa. Sayangnya, karena waktu persiapan yang mepet, hanya lima pemuda dari berbagai daerah yang akhirnya bisa hadir, salah satunya Siti Dewi Sutan Assin yang membawa baki bendera pusaka. Formasi lima orang inilah yang jadi cikal bakal pasukan pengibar bendera, dengan jumlahnya yang melambangkan lima sila dalam Pancasila.

  3. 3. Sempat vakum usai ibu kota kembali ke Jakarta

    Setelah situasi mulai kondusif, ibu kota RI resmi kembali ke Jakarta pada 1950. Peran Mutahar sebagai penanggung jawab pengibaran bendera pun otomatis berhenti di titik ini. Tugas besar itu kemudian dialihkan ke Rumah Tangga Kepresidenan, yang melibatkan pelajar dan mahasiswa asal Jakarta sebagai petugas pengibar bendera hingga pertengahan 1960-an.

    Periode ini terbilang jadi masa transisi yang cukup panjang. Belum ada sistem baku soal seleksi atau keterwakilan daerah seperti sekarang, sebab petugas pengibar bendera masih terbatas pada pelajar di sekitar ibu kota saja. Kondisi ini bertahan sampai ada perombakan besar-besaran menjelang akhir dekade 1960-an.

  4. 4. Lahirnya formasi 17-8-45 di era Soeharto

    ilustrasi paskibraka (unsplash.com/Mufid Majnun)
    ilustrasi paskibraka (unsplash.com/Mufid Majnun)

    Momen penting berikutnya terjadi pada 1967. Presiden Soeharto kembali memberikan tugas kepada Mutahar untuk mempersiapkan upacara pengibaran bendera, dan dari pengalaman pelaksanaan upacara tahun 1946 di Yogyakarta, Mutahar kemudian menyempurnakan konsep dengan membentuk susunan pasukan 17-8-45 yang masih dipakai sampai sekarang.

    Formasi ini bukan sekadar angka acak, lho. Pasukan 17 berada di bagian depan sebagai pengiring atau pemandu yang merujuk pada tanggal proklamasi, Pasukan 8 merujuk pada bulan Agustus sebagai bulan kemerdekaan, sementara Pasukan 45 berada di belakang sebagai pengawal kehormatan yang merujuk pada tahun 1945. Setahun berikutnya, konsep ini mulai diperluas dengan melibatkan perwakilan dari berbagai provinsi, meski belum semua provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun sebelumnya.

  5. 5. Era keterwakilan pelajar SLTA se-Indonesia

    Titik balik yang signifikan kembali terjadi pada 1969. Sejak tahun tersebut, anggota pengibar bendera pusaka adalah remaja siswa SLTA se-Indonesia yang menjadi perwakilan sepasang remaja putra dan putri dari seluruh provinsi di Indonesia. Ini jadi format yang bertahan dan terus disempurnakan sampai hari ini.

    Bukan cuma soal keterwakilan, urusan bendera yang dikibarkan juga berubah. Pada 5 Agustus 1969 di Istana Negara Jakarta, digelar upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih beserta reproduksi Naskah Proklamasi oleh Soeharto kepada para gubernur seluruh Indonesia, dan bendera duplikat inilah yang kemudian dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka asli pada peringatan 17 Agustus 1969. Sejak saat itu, bendera pusaka asli disimpan dan gak lagi dikibarkan langsung demi menjaga kelestariannya.

  6. 6. Nama "Paskibraka" resmi dipakai sejak 1973

    Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mengibarkan Bendera Merah Putih dalam Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (1
    Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mengibarkan Bendera Merah Putih dalam Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

    Kalau kamu penasaran sejak kapan nama "Paskibraka" mulai populer, jawabannya baru muncul di 1973. Sebelum itu, sebutan resminya adalah Pasukan Pengerek Bendera Pusaka yang dipakai sejak 1967. Barulah pada 1973, Idik Sulaeman memperkenalkan nama "Paskibraka" yang berasal dari singkatan PAS (pasukan), KIB (pengibar), RA (bendera), dan KA (pusaka).

    Sejak momen itu, istilah Paskibraka melekat kuat sebagai identitas resmi pasukan pengibar bendera pusaka tingkat nasional. Nama ini juga yang kemudian diadopsi di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, meski istilah "Paskibra" tanpa akhiran "ka" tetap dipakai buat pasukan pengibar di lingkup sekolah atau instansi umum.

  7. 7. Jadi program kaderisasi generasi muda hingga kini

    Paskibraka masa kini gak cuma soal baris-berbaris dan mengibarkan bendera. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2022 tentang Program Paskibraka, pembentukan Paskibraka ditegaskan bukan hanya untuk menjalankan tugas mengibarkan dan menurunkan bendera pusaka, tetapi juga sebagai program kaderisasi calon pemimpin bangsa yang berjiwa Pancasila.

    Makanya gak heran kalau proses seleksinya sekarang jauh lebih ketat dan panjang. Pembinaan dalam pendidikan dan pelatihan mencakup pembelajaran aktif ideologi Pancasila, penguatan wawasan kebangsaan, pelatihan kepemimpinan, latihan baris-berbaris, hingga pengasuhan untuk membentuk generasi yang tangguh dan mandiri. Dari lima pemuda di halaman Gedung Agung Jogja pada 1946, kini Paskibraka sudah berkembang jadi simbol nasional yang diperebutkan ribuan pelajar se-Indonesia setiap tahunnya.

    Itulah perjalanan panjang sejarah Paskibraka, mulai dari halaman Gedung Agung Jogja di tahun 1946 sampai jadi program kaderisasi nasional seperti sekarang. Jadi, tiap kali kamu lihat barisan Paskibraka mengibarkan bendera di layar TV, coba deh ingat lagi kalau semua itu berawal dari lima pemuda dan satu momen bersejarah di Jogja. Yuk, share artikel ini biar makin banyak yang tahu kalau Jogja punya andil besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More