Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dukungan Gelar Pahlawan Sultan HB II Mengalir, HB X Akan Buka Seminar
Potret Sri Sultan Hamengku Buwono II (Dok. Kraton Jogja)
  • Dukungan terhadap penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan Hamengku Buwono II semakin kuat melalui rencana Seminar Nasional bertema ‘Jejak Pahlawan Sultan HB II’ yang akan digelar akhir Maret 2026.
  • Sultan HB II dikenal sebagai pemimpin tegas yang menolak intervensi kolonial Belanda dan Inggris, mempertahankan kedaulatan keraton, serta menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan di tanah Jawa.
  • Seminar ini menghadirkan Sri Sultan HB X sebagai pembicara utama bersama pejabat dan akademisi nasional untuk memperkuat legitimasi sejarah perjuangan Sultan HB II dalam upaya pengusulan gelar Pahlawan Nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Dukungan Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk memperoleh gelar pahlawan terus mengalir. Salah satunya ditunjukkan dengan rencana Seminar Nasional bertajuk ‘Jejak Pahlawan Sultan Hamengku Buwono II’ akhir Maret nanti. Dalam seminar ini Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X direncanakan akan menjadi pembicara kunci.

Kabar kesediaan Sri Sultan HB X sebagai Keynote Speaker pada Seminar Nasional tersebut diinformasikan salah satu sesepuh Trah Sultan HB II, Romo Artha Prararta Dharma, atau dikenal Romo Artha dari Setda DIY. Dukungan penuh dari Sultan HB X, kata Romo Artha dipandang sebagai momentum strategis. Trah HB II berharap keterlibatan tokoh-tokoh besar dalam seminar ini akan membuka mata masyarakat luas mengenai pentingnya pengakuan negara terhadap perjuangan Sultan HB II yang selama ini dinilai sangat gigih menjaga martabat bangsa.

1. Kupas tuntas sepak terjang HB II

Pameran temporer Adhyatmaka bertajuk Sang Adiwira: Sri Sultan HB II di Keraton Yogyakarta. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Menurut Romo Artha, seminar nasional ini rencananya akan mengupas tuntas sepak terjang Sultan HB II yang dikenal karena keteguhan pendiriannya dalam menentang intervensi Belanda. "Diharapkan ini mampu menggali fakta sejarah, menyajikan data-data primer terkait kebijakan politik Sultan HB II yang belum banyak diketahui. Memperkuat argumen mengenai relevansi nilai-nilai perjuangan Sultan HB II di era modern," jelas Romo Artha, Rabu (18/3/2026).

Selain itu dengan diadakannya seminar nasional mampu menghimpun dukungan dari para sejarawan dan akademisi di seluruh Indonesia. "Semangat yang kami bawa adalah semangat pelurusan sejarah. Dengan dukungan Ngarso Dalem, kami optimis langkah menuju penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini akan semakin lancar," jelasnya.

Romo Artha mengungkap bahwa Sultan HB II dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki pendirian teguh dalam menjaga martabat keraton dari intervensi kekuatan asing. Sejak naik takhta pada tahun 1792, Sultan HB II secara konsisten menolak untuk menundukkan kedaulatan kerajaannya, termasuk dengan tidak meminta persetujuan VOC saat menunjuk patihnya sendiri.

"Bahkan, beliau secara tegas menolak tuntutan wakil VOC agar posisi duduk mereka disejajarkan dengan Sultan dalam upacara resmi keraton," jelasnya.

2. Kiprah HB II tidak tunduk pada kehendak kolonial

Sri Sultan HB II. (Dok. Istimewa)

Keteguhan sikap Sultan HB II dalam mempertahankan otoritasnya membuat pihak kolonial merasa kesulitan untuk mengendalikan beliau. Meskipun telah berganti kekuasaan dari pemerintahan Daendels ke masa Thomas Stamford Raffles, Sultan tetap tidak bersedia tunduk pada kehendak kolonial. Penolakan terhadap campur tangan asing ini dipandang oleh para pejabat kolonial kala itu sebagai sikap "keras kepala" dan "sulit dikendalikan".​

Puncak dari ketegangan tersebut terjadi pada Juni 1812, ketika pasukan Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta dengan menggunakan meriam dan tentara dari India. Penyerbuan ini mengakibatkan benteng keraton runtuh, istana diduduki, serta penjarahan terhadap pusaka dan naskah kuno kerajaan. Meskipun secara fisik keraton jatuh, sejarah mencatat peristiwa ini sebagai bukti keberanian seorang raja yang tidak mau menyerahkan martabat negerinya kepada penjajah. Perlawanan Sultan HB II dipandang oleh banyak sejarawan sebagai bara awal yang memicu semangat perjuangan di tanah Jawa.

"Bara perlawanan tersebut diyakini terus bertahan hingga beberapa tahun kemudian, yang pada akhirnya menyulut perang besar di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro. Keberanian Sultan dalam berkata tidak kepada penjajahan pun menempatkan beliau pada posisi yang terhormat dalam catatan sejarah bangsa," pungkas Romo Artha.

3. Pejabat dan akademisi akan menjadi pembicara

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Ketua Panitia sekaligus perwakilan Trah HB II dan Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto, menyampaikan bahwa kehadiran Sultan HB X bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk legitimasi sejarah yang sangat berarti bagi upaya pengusulan Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional. "Bagi Trah Sultan HB II, sosok Sultan HB X memiliki peran sentral dalam memberikan perspektif komprehensif mengenai kontribusi leluhurnya," jelas Fajar.

Trah Sultan HB II meyakini bahwa kehadiran pemimpin Yogyakarta saat ini akan memberikan bobot akademis dan historis yang kuat terhadap narasi perjuangan Sultan HB II melawan kolonialisme. "Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Ngarso Dalem (Sultan HB X). Kesediaan beliau menjadi keynote speaker memberikan energi luar biasa bagi kami untuk terus mengawal proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi eyang kami, Sultan HB II," ujarnya.

Seminar Nasional yang dijadwalkan 30 Maret 2026 secara hybrid ini akan dihadiri oleh para tokoh Nasional, sejarawan, akademisi, pemerhati budaya, serta elemen masyarakat yang peduli terhadap pelestarian sejarah bangsa. Selain Sri Sultan HB X, untuk membedah sejarah tersebut secara multidimensi, panitia yang diinisiasi oleh Vasatii Socaning Lokika Foundation menghadirkan deretan pakar dan pejabat negara sebagai pembicara Agus Jabo Priyono (Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia). Lalu ada narasumber ahli Ananta Hari Noorsasetya (Dosen Univ. Mercu Buana & Pengamat Seni Budaya Trah HB II), Harto Juwono (Dosen Ilmu Sejarah FIB Universitas Sebelas Maret), Sri Margana (Departemen Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada), dan ​Prof. Djoko Marihandono (Guru Besar Ilmu Sejarah FIB Universitas Indonesia).

Editorial Team