Dosen UNY Ajak Eksplorasi Musikalitas Teman Tuli lewat Buku

- Drijastuti Jogjaningrum, dosen UNY, menulis buku untuk meluruskan stigma bahwa teman Tuli tidak bisa menikmati musik, dengan menekankan bahwa musik dapat dirasakan lewat getaran, visual, dan gerak tubuh.
- Buku Jelajah Keajaiban Musikalitas Tunarungu menjelaskan konsep musikalitas khas difabel rungu melalui pendekatan multisensori yang mencakup sensori taktil, visual, dan kinestetik dalam pendidikan serta teknologi inklusif.
- Karya ini diharapkan membuka perspektif baru masyarakat tentang hak teman Tuli dalam bermusik serta menjadi referensi bagi pendidik, peneliti, dan pengembang teknologi menuju ekosistem musik yang lebih inklusif.
Yogyakarta, IDN Times - Difabel rungu atau teman Tuli masih kerap dianggap tidak dapat menikmati maupun memainkan musik. Pandangan bahwa musik hanya bisa diakses melalui pendengaran dinilai menjadi stigma yang membatasi ruang ekspresi mereka.
Dosen Program Studi Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Drijastuti Jogjaningrum, berupaya meluruskan persepsi tersebut melalui buku berjudul Jelajah Keajaiban Musikalitas Tunarungu.
Buku yang diterbitkan UNY Press pada Februari 2026 itu menghadirkan sudut pandang baru mengenai hubungan musik dan penyandang difabel rungu. Selain membahas teori musik, buku tersebut juga mengulas sejarah pendidikan difabel rungu di dunia dan Indonesia, perkembangan bahasa isyarat, hingga praktik musikalitas yang dapat diakses melalui pengalaman multisensori.
1. Apakah teman Tuli bisa main musik?
Drijastuti mengatakan difabel rungu masih sering menghadapi keraguan dari masyarakat terkait kemampuan mereka menikmati musik. Menurutnya, pertanyaan seperti “Apa iya Tuli bisa main musik?” hingga anggapan “Tuli kok main musik” masih kerap muncul di tengah masyarakat. Melalui bukunya, ia ingin menunjukkan bahwa musik tidak hanya hadir melalui bunyi, tetapi juga dapat dirasakan lewat visual, getaran, dan gerak tubuh.
Dalam buku tersebut, Drijastuti menekankan bahwa musik bukan sekadar fenomena auditif, melainkan pengalaman multimodal yang bisa dilihat dan dirasakan. Bagi teman Tuli, pengalaman musikal dapat muncul melalui ritme yang dirasakan tubuh, getaran yang diterima indra peraba, hingga ekspresi visual melalui bahasa isyarat dan gerakan.
“Selama ini masih ada stigma bahwa penyandang tunarungu tidak dapat menikmati musik karena tidak mendengar bunyi. Padahal, musikalitas tidak hanya hadir melalui suara, tetapi juga melalui getaran, visual, dan pengalaman tubuh. Buku ini saya tulis untuk membuka perspektif bahwa musik adalah ruang ekspresi yang juga dapat diakses oleh penyandang tunarungu,” ujar Drijastuti, Rabu (13/5/2026), dilansir laman resmi UNY.
2. Identitas musikalitas yang khas

Dalam bukunya, Drijastuti menjelaskan difabel rungu memiliki identitas musikalitas yang khas. Ia menyebut pengalaman bermusik dapat diakses melalui tiga dimensi utama, yakni sensori taktil untuk merasakan getaran musik, sensori visual untuk menangkap pola ritme dan ekspresi musikal, serta sensori kinestetik melalui gerak tubuh. Pendekatan multisensori tersebut menunjukkan keterbatasan pendengaran bukan menjadi penghalang untuk menikmati musik.
Selain membahas konsep musikalitas Tuli, buku itu juga mengulas penerapan praktis dalam bidang terapi, pendidikan, sosial budaya, hingga teknologi. Dalam dunia pendidikan, pendekatan musikal multisensori dinilai dapat menjadi alternatif pembelajaran yang lebih inklusif bagi peserta didik Tuli. Sementara di bidang teknologi, pengembangan perangkat berbasis getaran dan visual disebut membuka peluang akses musik yang lebih luas bagi komunitas Tuli.
3. Sudut pandang baru bagi masyarakat
Melalui buku tersebut, Drijastuti berharap masyarakat memiliki sudut pandang baru terkait hak difabel rungu untuk memperoleh pengalaman bermusik yang setara. Ia juga berharap buku itu dapat menjadi referensi bagi sekolah luar biasa, institusi pendidikan, peneliti, musisi, hingga pengembang teknologi dalam membangun ekosistem musik yang lebih inklusif.
“Musik tidak selalu harus dipahami sebagai pengalaman auditif semata. Penyandang Tuli memiliki cara musikalitas yang khas, melalui vibrasi, ritme visual, dan ekspresi gerak. Saya berharap buku ini dapat menjadi jembatan pemahaman sekaligus referensi pendidikan seni yang lebih inklusif,” kata Drijastuti.

















