Belajar dari Kehidupan Nyata di Sanggar Anak Alam Yogyakarta

Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta lahir dari kegelisahan pendirinya terhadap sistem pendidikan formal yang dianggap menjauh dari realitas hidup dan tidak membebaskan cara berpikir anak.
Salam menerapkan kurikulum berbasis kehidupan nyata dengan pilar pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial-budaya; anak belajar lewat riset sesuai minat tanpa batasan mata pelajaran konvensional.
Melalui keterlibatan orangtua dan fasilitator, Salam menumbuhkan kemandirian serta tanggung jawab anak untuk memahami diri dan masyarakat, menghasilkan lulusan yang aktif serta berdaya guna.
Bantul, IDN Times – Pagi itu, di Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta yang berlokasi di Nitiprayan, Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul tampak sejumlah anak berlarian di halaman. Dari halaman yang luas, suara tawa anak-anak terdengar bersahutan, berbaur dengan langkah kaki yang berlarian tanpa pola. Beberapa anak berkejaran, sementara yang lain berjalan santai menyusuri pematang sawah di tepi area belajar, seolah garis batas antara sekolah dan alam memang sengaja dibiarkan samar.
Di satu sudut, sekelompok anak tampak lebih serius. Mereka berbaris rapi, berlatih untuk upacara peringatan Hari Kartini. Sesekali terdengar instruksi, lalu diikuti gerakan yang masih canggung, diselingi tawa kecil ketika ada yang salah langkah. Tak jauh dari sana, suara hentakan kaki dan seruan pendek menandai latihan silat yang sedang berlangsung. Gerak tubuh yang tegas kontras dengan suasana santai di sekelilingnya.
Namun tidak ada yang benar-benar terpisah. Aktivitas-aktivitas itu berjalan bersamaan, tanpa sekat ruang. Anak-anak lain tampak duduk bergerombol di tanah, berbincang ringan, atau sekadar mengamati teman-temannya.
Di Salam, halaman bukan sekadar tempat bermain, ia adalah ruang belajar yang hidup. Pematang sawah bukan hanya jalur setapak, tetapi juga jalur pengamatan. Bahkan latihan upacara atau silat pun menjadi bagian dari proses yang lebih besar dalam belajar.
Tak ada bel yang terdengar memerintahkan anak-anak untuk masuk kelas. Tak ada suara guru yang mendominasi. Yang ada justru ritme alami, anak-anak berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, mengikuti minat dan kesepakatan bersama. Dari kejauhan, mungkin tampak seperti kebebasan tanpa arah. Namun jika diamati lebih lama, terlihat pola yang tumbuh perlahan, tentang bagaimana mereka belajar mengambil peran, berinteraksi, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami dunia.
1. Berawal dari ironi pendidikan formal

Salam Yogyakarta lahir dari kegelisahan panjang pendirinya, Sri Wahyaningsih dan Toto Rahardjo, terhadap wajah pendidikan formal di Indonesia. Ia melihat ironi yang sulit diabaikan, sekolah makin mudah diakses, tetapi angka putus sekolah tetap tinggi. Mereka yang lulus pun tak sedikit yang menjadi “pengangguran intelektual”, berpendidikan, tetapi tercerabut dari realitas hidupnya.
Kegelisahan itu membawanya pulang ke Lawen, Banjarnegara, pada akhir 1980-an. Di desa yang tanahnya subur itu, ia justru menemukan kemiskinan dan tingginya angka pernikahan dini. Sebuah paradoks yang menohok. “Daerahnya subur, tapi masyarakatnya miskin. Ini kan ada paradoks,” kenang Wahya saat diwawancara IDN Times, 17 April 2026.
Ia memutuskan tinggal di sana, meninggalkan pekerjaannya. Tanpa rencana besar, ia mulai mengajak anak-anak belajar. Tak disangka, sekitar 180 anak berkumpul pada 1988. Dengan keterbatasan tenaga, ia membagi mereka ke dalam kelompok-kelompok kecil lintas usia. Anak-anak itu tidak duduk di kelas, mereka turun ke pasar, ke ladang, ke tengah masyarakat.
Dari pengamatan sederhana, lahir pertanyaan-pertanyaan yang justru tajam, mengapa pasar desa diisi pedagang dari luar? Mengapa petani membeli sayur? Mengapa lahan subur dibiarkan kosong? Mengapa anak muda memilih urbanisasi?
Dari situlah ia menyadari, ada jarak antara sekolah dan kehidupan nyata. Ia menemukan resonansi pemikiran Paulo Freire, bahwa pendidikan seharusnya membebaskan dan berakar pada realitas. Salam pun lahir dari semangat itu, sekolah yang tidak mengajari anak untuk menghafal, tetapi untuk memahami dan mengolah hidup.
“Selama ini kan sekolah hanya hafalan dan seolah-olah sekolah itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang real. Itulah Sejarah Salam,” ujar Wahya.
2. Belajar dari persoalan mendasar kehidupan

Di Salam, kurikulum tidak disusun dari daftar mata pelajaran, melainkan dari persoalan mendasar kehidupan. Ada empat pilar utama: pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial-budaya. Keempatnya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait, seperti kehidupan itu sendiri. Kini juga berkembang ke energi.
Anak-anak belajar melalui riset. Setiap anak bisa memiliki topik yang berbeda, sesuai minatnya. Dalam satu, misal kelas berisi 15 anak, bisa ada 15 penelitian kecil yang berjalan bersamaan. Mereka merancang, mengumpulkan data, menganalisis, hingga menarik kesimpulan. Matematika, bahasa, sains, hingga ilmu sosial hadir secara organik dalam proses itu.
“Ketika logika anak jalan, mereka bisa menstrukturkan pikirannya. Bukan sekadar hafalan,” ujar Wahya.
Pendekatan ini membuat banyak hal yang dianggap “pelajaran” justru terasa alami. Anak PAUD sudah mulai menulis buku. Siswa kelas 4 SD mampu menulis novel. Literasi sudah ditanamkan sejak dini. Di sisi lain, struktur sekolah juga berbeda. Guru disebut fasilitator, mereka tidak mengajar satu arah, melainkan mendampingi proses belajar anak.
Salam memang bukan sekolah formal dalam arti umum. Secara administratif, ia terdaftar sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dengan jenjang Paket A, B, dan C. Namun, dalam praktiknya, Salam mengembangkan sistem pendidikan sendiri tanpa terpengaruh kurikulum nasional yang kerap berubah, tanpa melihat esensi.
Selama hampir 26 tahun di Yogyakarta, Salam berjalan relatif mandiri. Bantuan pemerintah baru datang pada 2018. Sebelumnya, dukungan justru datang dari komunitas dan bahkan lembaga internasional, termasuk bantuan pembangunan dari Kedutaan Besar Australia. Salam juga pernah masuk dalam daftar sekolah unik dunia.
Namun bagi pendirinya, pengakuan bukan tujuan utama. Yang lebih penting adalah membuktikan bahwa pendekatan ini bekerja. Lulusan Salam melanjutkan pendidikan tanpa hambatan. Banyak yang diterima di perguruan tinggi, dengan capaian akademik yang baik. Lebih dari itu, mereka aktif, menulis, berorganisasi, hingga membangun inisiatif sosial.
3. Temukan nilai yang tidak didapat di sekolah formal

Bagi orangtua, Salam sering kali menjadi pilihan setelah kekecewaan terhadap sekolah formal. Ningrum, salah satu wali murid, mengaku awalnya ragu. Ia sempat menyekolahkan anaknya di sekolah konvensional, tetapi menemukan banyak hal yang terasa membatasi.
“Hal-hal kecil tapi penting, seperti anak tidak bebas bermain, bahkan soal rambut bisa jadi intimidasi,” katanya.
Ia melihat anaknya kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri. Setelah mengenal Salam dari kerabat, ia memutuskan memindahkan anaknya. Di sana, ia menemukan hal yang berbeda, kebebasan yang disertai tanggung jawab.
“Tidak banyak aturan, tapi ada kesadaran yang tumbuh dari dalam. Anak belajar menjaga diri, teman, dan lingkungan,” ujarnya.
Sebagai orangtua, ia juga ikut terlibat dalam proses belajar. Dalam konsep trisentra pendidikan yang dianut Salam, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Orangtua bukan sekadar pengamat, tetapi bagian dari ekosistem belajar.
Hasilnya terasa bukan hanya pada pengetahuan, tetapi pada cara berpikir. Anak-anak terbiasa menyusun argumen, mencari tahu, dan belajar mandiri. Bahkan ketika melanjutkan ke sekolah formal, mereka tidak mengalami kesulitan akademik, meski terkadang perlu beradaptasi secara sosial.
Di tengah sistem yang cair itu, suara anak-anak tetap menjadi pusat. Rengganis Kirana Sinta, siswa kelas 6, menggambarkan kesehariannya dengan sederhana. “Di sini tidak ada mata pelajaran. Kami riset sesuai minat, lalu dipresentasikan,” katanya.
Konflik antarteman pun menjadi bagian dari pembelajaran. Anak-anak didorong menyelesaikan masalah sendiri sebelum meminta bantuan. Sekolah menjadi ruang untuk berlatih hidup, bukan sekadar tempat belajar teori.
Hal serupa ditegaskan oleh Erwin, salah satu fasilitator. Menurutnya, setiap peristiwa bisa menjadi bahan belajar. Dari pengalaman sehari-hari, anak-anak diajak menggali pertanyaan, lalu menjadikannya tema riset. Proses ini melibatkan diskusi antara anak, fasilitator, dan orangtua.
“Kami bukan pengajar. Kami belajar bersama anak-anak. Tiap anak punya indikator capaian sendiri, sesuai tema yang mereka pilih,” jelasnya.
4. Lahirkan anak-anak yang bermanfaat

Kini, Salam memiliki sekitar 220 siswa aktif, dengan jumlah per kelas yang sengaja dibatasi agar pendampingan lebih intensif. Komunitasnya juga terus berkembang, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di keluarga.
Ke depan, Salam tidak menargetkan bentuk tertentu. Ia bisa menjadi komunitas, konsorsium, atau tetap seperti sekarang. Yang penting, nilai-nilainya tetap hidup, kemandirian, kesadaran, dan kebermanfaatan.
“Mengalir saja, Salam berbasis komunitas, konsorsium, atau apa, saya gak terlalu harus seperti apa. Saya bersyukur awalnya sedikit nilai itu bermanfaat, tertanam betul, mereka tanggung jawab. Saya melihat anak-anak konsisten menemukan jati diri, berperan di masyarakat kental banget,” ucap Wahya.
Jejak itu sudah terlihat pada para alumninya. Ada yang kembali ke desa, membangun sanggar, membuka usaha, hingga menciptakan lapangan kerja. Ada pula yang bergerak di isu lingkungan, mengolah sampah menjadi energi. Mereka datang dari latar yang sama: belajar memahami diri dan dunia sejak dini.
Di Salam, pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak yang dihafal, tetapi seberapa dalam anak mengenali dirinya dan perannya. Sebab, seperti keyakinan yang menjadi fondasinya sejak awal, setiap anak pada akhirnya akan menemukan jalannya, jika diberi ruang untuk benar-benar belajar dari kehidupan.
Artikel ini adalah bagian dari liputan INSIDEnesia: Para Pelakon Pendidikan 'Indie', Meretas Batas Sekolah Formal

















