KPR atau Ngontrak Rumah? Pakar UMY Ajak Gen Z Rencanakan Hunian

- Dimas Bagus Wiranatakusuma menekankan pentingnya perencanaan kepemilikan rumah sejak muda karena harga properti terus naik akibat keterbatasan lahan dan penurunan nilai uang oleh inflasi.
- Ia menjelaskan KPR syariah seperti akad murabahah dan Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) menawarkan cicilan lebih stabil serta total pembayaran lebih rendah dibanding skema konvensional yang bunganya bisa meningkat.
- Dimas menyarankan cicilan rumah tidak melebihi 50 persen pendapatan dan bagi yang belum mampu membeli, disarankan mulai menabung atau berinvestasi untuk mempersiapkan uang muka sejak dini.
Yogyakarta, IDN Times - Kenaikan harga properti dari tahun ke tahun membuat kepemilikan rumah menjadi tantangan besar bagi Generasi Z. Kondisi tersebut membuat pilihan mengontrak hunian dinilai lebih realistis bagi sebagian anak muda.
Pakar manajemen risiko Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma, mengatakan perencanaan kepemilikan rumah perlu dilakukan sejak usia muda. Menurutnya, harga properti akan terus meningkat seiring tingginya permintaan dan terbatasnya ketersediaan lahan.
Dimas menilai kenaikan harga rumah juga dipengaruhi penurunan nilai mata uang akibat inflasi. “Harga rumah sebenarnya bukan semakin mahal, melainkan nilai uang kita yang terus menurun akibat inflasi. Sementara itu, rumah, tanah, dan emas merupakan aset yang memiliki nilai intrinsik dan cenderung terus meningkat dibanding uang tunai,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Tips Mengelola Keuangan Sehat
Meskipun gaya hidup menyewa rumah mulai populer, keputusan terbaik tetap harus menyesuaikan kondisi finansial masing-masing. Dimas menyarankan agar cicilan rumah tidak melebihi 50 persen dari total pendapatan rutin agar kondisi keuangan tetap stabil. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan ekonomi pribadi di masa depan.
Bagi mereka yang belum mampu membeli rumah sekarang, ia menyarankan untuk mulai mengumpulkan aset lancar.
“Kalau memang belum mampu membeli rumah sekarang, minimal mulai siapkan aset lancar seperti tabungan, emas, atau investasi untuk DP. Yang terpenting adalah mulai merencanakannya sejak dini,” tutupnya.
1. Rumah tapak diperkirakan semakin sulit dijangkau

Dimas mengatakan pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibanding ketersediaan lahan membuat harga rumah semakin sulit dijangkau jika tidak dipersiapkan sejak dini. Ia memprediksi Indonesia berpotensi mengalami kondisi serupa dengan Singapura dan Malaysia, di mana rumah tapak semakin sulit dimiliki sehingga masyarakat beralih ke hunian vertikal seperti apartemen.
Menurut Dimas, kredit pemilikan rumah (KPR) masih menjadi solusi realistis bagi anak muda. Namun, tantangan terbesar tetap pada kemampuan mengumpulkan uang muka dan menjaga kestabilan cicilan. Karena itu, generasi Z diminta lebih cermat memilih skema pembiayaan agar tidak hanya tergiur cicilan ringan di awal tanpa memahami risiko jangka panjang.
“Kalau bank konvensional biasanya terlihat murah di awal. Bunganya rendah beberapa tahun pertama, tetapi setelah itu bersifat floating dan bisa naik cukup tinggi setelah periode fixed rate selesai,” ujarnya.
2. Opsi pembiayaan syariah untuk hunian

Dimas menjelaskan skema kredit pemilikan rumah (KPR) konvensional umumnya memiliki porsi pembayaran bunga yang besar pada awal masa cicilan. Kondisi tersebut dinilai dapat membebani peminjam dalam jangka panjang. Sebagai alternatif, ia menyebut pembiayaan syariah melalui akad murabahah maupun Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) menawarkan cicilan yang lebih stabil. Dalam sejumlah simulasi, skema tersebut bahkan dinilai dapat menghasilkan total pembayaran lebih rendah.
Menurut Dimas, akad murabahah menerapkan cicilan tetap sejak awal hingga akhir masa pembiayaan. Sementara akad MMQ menggunakan konsep kerja sama kepemilikan dan sewa. “Kalau ingin total pembayaran lebih murah, MMQ sebenarnya cukup menarik. Namun, memang belum banyak bank yang menawarkan karena margin keuntungannya lebih kecil dibanding murabahah,” jelasnya.
3. Kontrak rumah perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan

Dimas menilai tren menyewa rumah yang mulai diminati anak muda tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Ia menyarankan porsi cicilan rumah tidak melebihi 50 persen dari pendapatan rutin agar kondisi finansial tetap sehat dalam jangka panjang.
Bagi masyarakat yang belum mampu membeli rumah, Dimas menyarankan mulai menyiapkan aset lancar sebagai persiapan uang muka. “Kalau memang belum mampu membeli rumah sekarang, minimal mulai siapkan aset lancar seperti tabungan, emas, atau investasi untuk DP. Yang terpenting adalah mulai merencanakannya sejak dini,” tutupnya.
















