Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ini Alasan Seorang Ibu di Bantul Lakban Balita Berusia 3 Tahun

Ini Alasan Seorang Ibu di Bantul Lakban Balita Berusia 3 Tahun
iluastrasi balita (pexels.com/Alina Matveycheva)
Intinya Sih
  • Polres Bantul memeriksa TKS, ibu balita ACB, yang mengakui melakban dan mengikat anaknya karena merasa lelah mengurus sendirian tanpa mempertimbangkan risiko tindakannya.
  • Suami TKS meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan dan menilai istrinya mengalami gangguan psikis akibat kelelahan menjadi ibu baru atau disebut baby blues.
  • Balita ACB ditemukan warga dalam kondisi lemas dengan tangan dan kaki terikat serta mulut dilakban, kini sudah sehat dan dirawat keluarga ayahnya di Gunungkidul.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bantul, IDN Times - Polres Bantul mengungkap hasil pemeriksaan terhadap TKS (25), ibu dari balita berinisial ACB yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi kaki dan tangan terikat serta mulut dilakban di sebuah rumah kontrakan, daerah Pleret.

1. Terlalu lelah sampai tak pikirkan risiko

‎Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto .(Dok.Humas Polres Bantul)
‎Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto .(Dok.Humas Polres Bantul)

Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, menjelaskan TKS saat diperiksa tak menyangkal telah mengikat kaki dan tangan balita berusia tiga tahun tersebut, serta menutup mulut anaknya menggunakan lakban. Alasannya, ia ingin melepas penat karena lelah mengurus anak seorang diri.

"Pelaku dalam hal ini ibu kandung korban melakban anak dengan tujuan untuk refreshing jalan-jalan melepas penat yang selama ini dirasa lelahnya mengasuh anak sendirian," kata Rita dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026) malam.

Menurut Rita, TKS mengaku tidak mempertimbangkan risiko dari tindakannya karena sudah mengalami kelelahan harus mengurus anak sendirian.

"Sedangkan ayah korban atau suami pelaku kerja di Jakarta pulang ke Yogyakarta sebulan sekali," kata Rita.

2. Keluarga anggap pelaku alami baby blues

ilustrasi kaki balita (pixabay.com/Esi Grünhagen)
ilustrasi kaki balita (pixabay.com/Esi Grünhagen)

Ridho Fahriza yang merupakan suami TKS dan ayah ACB, menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul akibat peristiwa tersebut. Ia meminta persoalan ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan berkomitmen untuk memperbaiki rumah tangganya.

"Keluarga dan suami pelaku menganggap kejadian tersebut sebagai gangguan psikis akibat lelahnya mengurus anak sendirian dan pertama kali menjadi seorang ibu atau kata lain baby blues," tutup Rita.

3. Ditemukan dalam kondisi lemas

ilustrasi lakban (unsplash.com/Lucas Dudek)
ilustrasi lakban (unsplash.com/Lucas Dudek)

Sebelumnya, pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 21.00 WIB, ACB ditemukan di rumah kontrakan mereka di Pleret, Bantul, dalam keadaan kaki dan tangan terikat menggunakan lakban serta selendang, sementara mulutnya ditutup dengan plester.

Balita tersebut ditemukan sejumlah warga yang mendengar suara tangis dari dalam rumah pada malam hari. Saat ditemukan, kondisi korban tampak lemah.

Sementara itu, TKS diamankan di wilayah Pleret pada Rabu (3/6/2026). Setelah kejadian tersebut, ACB dipastikan berada dalam kondisi sehat dan saat ini dirawat oleh keluarga dari pihak ayahnya di Gunungkidul.

Share Article
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More