Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Daun Jati Tetap Lestari Jadi Pembungkus Tempe di Bantul
Daun jati yang dijual di Pasar Imogiri Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)
  • Sarijem, pedagang tempe di Pasar Imogiri, tetap mempertahankan tradisi membungkus tempe dengan daun jati dan pisang meski tren plastik makin dominan sejak tahun 1990-an.
  • Pasokan daun jati untuk pasar berasal dari daerah Selopamioro dan Dlingo, dijual sekitar Rp20 ribu per ikat dan digunakan juga untuk bungkus jajanan pasar seperti mi pentil.
  • Kenaikan harga plastik tidak meningkatkan permintaan daun jati karena masyarakat sudah terbiasa memakai plastik meski tahu dampaknya kurang ramah lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Seorang nenek tampak duduk dengan kaki selonjor di salah satu selasar Pasar Imogiri, Kabupaten Bantul pada Sabtu (16/5/2026). Tangannya yang sudah keriput masih terlihat terampil memungut kedelai yang telah diberi ragi, dimasukkan dalam daun jati bagian luar dan bagian dalamnya diberi daun pisang.

Daun jati kemudian dilipat menjadi persegi empat dan kemudian ditali dengan pelepah pisang yang telah dikeringkan hingga menjadi sebuah tempe. ‎"Niki damel tempe (ini buat tempe) mas," kata Sarijem (70) salah satu pedagang di Pasar Imogiri.

1. ‎Puluhan tahun jualan tempe dengan bungkus daun jati

Salah satu pedagang di Pasar Imogiri, Sarijem (70).(IDN Times/Daruwaskita)

Sarijem mengaku berjualan tempe sejak Pasar Imogiri lama berdiri dan roboh akibat gempa 2006 silam. Ia meneruskan usahanya ke Pasar Imogiri yang ada saat ini.

‎"Ya sejak sebelum nikah saya jualan tempe yang dibungkus dengan daun jati bagian luar dan dalamnya dilapisi daun pisang," ujarnya.

‎Pada tahun 1990-an, sebagian besar tempe yang dijual di Pasar Imogiri menggunakan bungkus dari daun jati, pisang dan daun awar-awar dan laku cukup keras. Namun dengan perkembangan zaman dengan maraknya bungkus tempe dengan plastik, jumlahnya terus menurun.

‎"Saya punya pelanggan sendiri dan dibeli oleh pedagang yang tempenya dijual lagi di warung-warung yang ada di kampung," ungkapnya.

2. ‎Mendapatkan pasokan daun jati dari Selopamioro dan Imogiri

ilustrasi daun jati (pexels.com/homesh)

Sarijem mengaku pedagang di Pasar Imogiri mendapatkan pasokan daun jati dari pedagang di Selopamioro dan Dlingo yang daerahnya masih terdapat banyak tanaman jati.

‎"Pedagang daun jati ini biasanya hanya titip dan setelah laku uangnya baru diambil. Satu ikat daun jati dihargai Rp20 ribu. Pedagang di Pasar Imogiri tidak hanya menjual lagi daun jati ke pembeli, namun juga digunakan sendiri untuk bungkus tempe," ujarnya.

‎"Kalau ada pembeli daun jati biasanya untuk bungkus mi pentil atau jajanan pasar lainnya," imbuhnya.

3. ‎Harga plastik yang naik tak berpengaruh pada peningkatan permintaan daun jati

Tempe yang dibungkus dengan daun jati. (IDN Times/Daruwaskita)

Sarijem menjelaskan di Pasar Imogiri ada sekitar 10 pedagang yang menjual daun jati dan daun pisang. Meski harga plastik kini melonjak, tetapi kondisi itu tidak berdampak pada meningkatnya permintaan daun jati.

‎"Ya kalau ada hanya pesanan untuk kegiatan tertentu saja dan jumlahnya juga tidak banyak. Tapi justru orang dari kota yang sering membeli tempe atau makanan lainnya yang dibungkus dari daun jati ataupun pisang. Tempe yang dibungkus dengan jati atau pisang rasanya lebih gurih jika digoreng, dibandingkan tempe yang dibungkus dengan plastik," ungkapnya.

‎Adanya gerakan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik pun tidak serta merta membuat warga pindah membungkus makanan menggunakan daun jati atau pisang.

‎"Ya plastik mahal tetap saja yang diburu bungkusnya dari plastik. Jelang kurban (Iduladha) ini juga tidak ada pesanan daun jati untuk membungkus daging kurban," ucapnya.

4. ‎Masyarakat sudah tergantung pada plastik

Suwardi (52) anak dari Sarijem salah satu pedagang daun jati di Pasar Imogiri Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)

Suwardi (52) anak dari Sarijem mengaku pembeli daun jati lebih banyak sesama pedagang di Pasar Imogiri. Daun digunakan sebagai pembungkus tempe atau mi pentil yang banyak dijual di pasar ini.‎

‎"Ada juga masyarakat yang membeli daun pisang namun sangat jarang. Masyarakat lebih senang membungkus makanan dengan bungkus plastik karena sangat praktis meski tidak ramah lingkungan. Masyarakat sudah tergantung pada plastik meski tidak ramah lingkungan," ungkapnya.

Editorial Team