Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rumah Peninggalan Prof Sardjito di Kota Jogja Dijual Miliaran Rupiah

Rumah Peninggalan Prof Sardjito di Kota Jogja Dijual Miliaran Rupiah
Rumah peninggalan pahlawan nasional, Prof. dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Intinya Sih
  • Keluarga Prof. dr. M. Sardjito menjual rumah warisan bergaya indische di Terban, Yogyakarta, senilai miliaran rupiah setelah disepakati oleh para ahli waris.
  • Rumah bersejarah ini pernah menjadi tempat tinggal Sardjito, rektor pertama UGM dan ketiga UII, serta lokasi pertemuan tokoh nasional dan produksi obat tradisional Calcusol.
  • Budhi Santoso telah menawarkan rumah tersebut ke berbagai pihak, berharap UGM atau UII membelinya agar tetap berfungsi sebagai situs sejarah dan tidak berubah menjadi kafe.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Yogyakarta, IDN Times - Rumah peninggalan pahlawan nasional, Prof. dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, dijual oleh keluarga. Rumah yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjalanan sejarah pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta itu kini dilego senilai miliaran rupiah oleh ahli waris.

1. Berat hati dilepas

Rumah peninggalan Prof. dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Yogyakarta dengan dinding batu hitam dan taman hijau di depannya.
Rumah peninggalan pahlawan nasional, Prof. dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta

Rumah peninggalan Sardjito ini memiliki gaya arsitektur indische. Didirikan di atas lahan 1.206 meter persegi dengan luasan bangunan sekitar 800 meter.

Rumah tersebut sekarang dihuni oleh Budhi Santoso (70), kerabat Sardjito. Budhi menuturkan, rumah itu merupakan warisan Sardjito yang kini telah disepakati keluarga untuk dilepas. Ahli waris dari aset ini adalah cucu Sardjito, Alita dan Dyani Poedjioetomo yang kini tinggal di Jakarta.

"Akhirnya saya dulu sudah saya beranikan dengan berat hati saya sampaikan pada ahli waris semuanya karena hanya dua mereka setuju kalau ini dilepas," kata Budhi.

2. Jejak historis dan tempat lahirnya bisnis obat peluruh batu urin

Papan nama Pusat Produksi Calcusol milik Perusahaan Jamu Tradisional Dr. Sardjito di Jalan Cik Ditiro No. 16, Yogyakarta.
Rumah peninggalan pahlawan nasional, Prof. dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Budhi menuturkan, ia mulai menempati rumah tersebut sejak 1980, sekitar satu dekade setelah Sardjito wafat. Rumah itu sebelumnya ditempati istri Sardjito, RAy. Soeko Emi, yang kemudian didampingi Budhi karena putra tunggal Sardjito, Pek Poedjioetomo, menetap di luar negeri.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti sejarah awal rumah tersebut. Namun, berdasarkan informasi yang diketahuinya, bangunan itu sebelum kemerdekaan pernah dimiliki warga negara Inggris, lalu sempat menjadi rumah dinas rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelum akhirnya menjadi kediaman pribadi Sardjito.

Sardjito selama ini juga dikenal sebagai rektor pertama UGM, selain juga rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII).

Sebagai bangunan warisan budaya, rumah itu disebut masih mempertahankan bentuk asli beserta sebagian besar isi di dalamnya. Sejumlah furnitur, foto keluarga, lemari koleksi keris, hingga rak buku peninggalan Sardjito masih tersimpan dan dirawat.

Budhi mengatakan rumah tersebut pernah menjadi tempat pertemuan dan diskusi sejumlah tokoh penting nasional pada masa awal berdirinya UGM. Seperti Soekarno, Moh. Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, juga Soemitro Djojohadikusumo.

"Foto-foto masih ada kok," katanya.

Selain menjadi tempat tinggal keluarga, rumah itu juga pernah menjadi bagian dari pengembangan usaha obat tradisional peninggalan Sardjito. Di bagian belakang rumah, RAy. Soeko Emi melanjutkan produksi obat peluruh batu urin Calcusol melalui PT Perusahaan Jamu Tradisional Dr. Sardjito yang berdiri sejak 1986.

Menurut Budhi, memasuki generasi keempat keluarga Sardjito, pelestarian rumah mulai dirasa membutuhkan tangan-tangan yang lebih mumpuni.

"Namanya warisan, itu kalau nggak diselesaikan dengan baik ke belakangnya pasti ada aja," kata Budhi.

3. Ditawarkan ke 10 pihak, harap UGM dan UII terdepan

Tampak depan rumah peninggalan Prof. dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Yogyakarta, dengan dinding batu alam dan tanaman hijau di sekitarnya.
Rumah peninggalan pahlawan nasional, Prof. dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Ia mengaku telah menawarkan rumah tersebut kepada sejumlah pihak, termasuk Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia mantan pejabat daerah, pejabat aktif, hingga sejumlah pengusaha. Budhi berharap rumah itu dapat dibeli oleh UGM atau UII agar tetap memiliki nilai sejarah dan dimanfaatkan untuk kepentingan publik.

"Paling mulia rumah ini dipakai hunian pribadi atau dibeli UGM atau UII dipakai rumah sejarah. Kalau UGM jelas bisa dipakai rumah dinasnya antar Rektor, kalau UII nanti terserah apa wong dulu Pak Sardjito jadi Rektor UII ya kan," harapnya.

Ia enggan mengungkap harga pasti rumah tersebut, namun menyebut nilainya mencapai miliaran rupiah.

Budhi juga berharap rumah peninggalan Sardjito itu tidak berubah fungsi menjadi kafe seperti sejumlah bangunan lain di kawasan tersebut. Kata Budhi, seperti halnya ruh Sardjito, ia berharap rumah ini ketika menemukan pemilik barunya bisa dimanfaatkan sebagai museum, rumah bakti sosial atau puskesmas.

"Tapi maaf kalau ini dibeli sama orang asing ya entah siapapun kalau dipakai kafe saya tuh susah, ngelus dada," ucap Budhi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More