BGN DIY Tanggapi Video Diduga Pegawai SPPG Bantul Ejek Korban Keracunan MBG

- Video yang diduga menampilkan pegawai SPPG Bantul mengolok korban insiden keamanan pangan MBG di Karo memicu perhatian; BGN DIY menyatakan prihatin dan menyesalkan minimnya empati.
- BGN DIY meminta setiap insiden keamanan pangan ditangani serius, dengan mengutamakan kemanusiaan, sensitivitas, dan fakta, serta tidak mendahului proses verifikasi maupun pembuktian.
- Seluruh jajaran SPPG diminta menjaga etika komunikasi publik, memperkuat kepatuhan SOP, serta fokus pada keamanan pangan, kualitas pelayanan, dan pencegahan kejadian serupa.
Yogyakarta, IDN Times – Beredar sebuah video memperlihatkan seorang pria yang diduga pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bantul menjadi perhatian di media sosial. Video tersebut diunggah ulang oleh salah satu pemilik akun Threads dan diduga berisi pernyataan yang mengolok-olok korban kejadian keamanan pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Wirandita Gagat Widyatmoko menyampaikan keprihatinan. Ia menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG di Bantul yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak.
1. BGN DIY minta kejadian keamanan pangan disikapi dengan empati
Gagat menegaskan setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan dan berdampak kepada penerima manfaat harus disikapi secara serius. Menurutnya, aspek kemanusiaan dan empati harus menjadi perhatian utama.
“Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak. Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,” ucap Gagat, Sabtu (19/9/2026).
Ia mengatakan kejadian yang terjadi di satu wilayah seharusnya menjadi pembelajaran bagi seluruh jajaran SPPG di daerah lainnya. Menurutnya, kejadian yang menimpa penerima manfaat tidak semestinya dijadikan bahan candaan, olok-olok, maupun komentar yang berpotensi melukai pihak yang sedang menghadapi situasi sulit.
2. BGN ingatkan agar tidak mendahului proses pemeriksaan
Gagat juga mengingatkan seluruh pihak untuk tetap berpegang pada fakta dalam menyikapi setiap kejadian. Ia meminta penggunaan istilah seperti “dugaan”, “indikasi”, atau “informasi awal” dilakukan secara tepat hingga proses verifikasi dan pembuktian selesai.
“Kita harus bisa membedakan antara memberikan klarifikasi, memberikan pendapat, dan memberikan penilaian terhadap suatu kejadian. Jangan sampai karena ingin memberikan komentar, justru muncul pernyataan yang tidak sensitif dan kemudian memperbesar persoalan,” ucapnya.
Menurutnya, respons terhadap suatu kejadian tidak boleh justru menimbulkan persoalan baru, terlebih ketika pernyataan tersebut disampaikan di ruang publik dan media sosial.
3. Seluruh jajaran SPPG diminta menjaga etika komunikasi
Gagat mengingatkan seluruh jajaran, mulai dari koordinator wilayah, koordinator kecamatan, kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas keuangan hingga seluruh personel SPPG untuk menjaga etika komunikasi.
Ia menilai setiap pernyataan yang disampaikan di ruang publik dapat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan Program MBG secara keseluruhan.
Hal tersebut, kata dia, sejalan dengan pentingnya penguatan tata kelola dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), terutama setelah berbagai kejadian keamanan pangan menjadi perhatian publik.
“Kami mengajak seluruh jajaran untuk saling menghormati. Ketika ada saudara kita, penerima manfaat, atau masyarakat yang diduga terdampak suatu kejadian, respons pertama kita seharusnya adalah empati, bukan menghakimi. Jadikan setiap kejadian sebagai pembelajaran untuk memperbaiki pelayanan dan memperkuat pencegahan,” kata dia.
Gagat menambahkan BGN tetap menghormati proses pemeriksaan dan pembuktian terhadap setiap kejadian. Fokus seluruh jajaran, menurutnya, harus diarahkan pada memastikan keamanan pangan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mencegah kejadian serupa melalui penerapan SOP secara konsisten.
“Kita bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari jaga bukan hanya kualitas makanan yang kita berikan, tetapi juga cara kita memperlakukan dan berkomunikasi dengan masyarakat. Sensitif terhadap keadaan, empati terhadap yang terdampak, dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita,” kata dia.

















