Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

UGM Kembangkan Peternakan Berbasis Kesejahteraan Hewan

UGM Kembangkan Peternakan Berbasis Kesejahteraan Hewan
Peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan pendekatan free range, di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Fapet UGM. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Intinya Sih
  • Fakultas Peternakan UGM bersama JAPFA mengembangkan peternakan berbasis kesejahteraan hewan dengan sistem free range sebagai laboratorium hidup untuk riset dan edukasi pangan berkelanjutan.
  • Fasilitas ini menjadi pusat inovasi akademik, memungkinkan mahasiswa belajar langsung praktik kesejahteraan hewan melalui tiga model kandang: cages, cage-free, dan free range.
  • Penerapan teknologi mutakhir seperti otomasi dan AI difokuskan untuk riset pendidikan, bukan komersialisasi, sekaligus membuka peluang pengembangan pasar telur premium yang berkelanjutan di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sleman, IDN Times – Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) dengan dukungan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mengembangkan peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan pendekatan free range, di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Fapet UGM. Peternakan berbasis kesejahteraan hewan yang dikembangkan menjadi tempat riset dan diharap bisa menjadi percontohan. 

Inisiatif ini menjadi tonggak baru dalam kemitraan jangka panjang antara JAPFA dan UGM yang telah terjalin sejak tahun 2003. Kolaborasi tersebut secara bertahap berkembang melalui berbagai inisiatif, mulai dari pembangunan Teaching Farm Closed House pada 2017, hibah laboratorium pascapanen berkapasitas 20.000 ekor ayam per hari, hingga pengembangan Closed House yang difokuskan pada penelitian makanan ternak yang mengikuti perbaikan genetika ayam untuk mendapatkan efisiensi optimum pada tahun 2019. Kini, sinergi tersebut berlanjut melalui penguatan sistem peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) melalui pendekatan free range.

1. Penguatan sistem kesejahteraan hewan

Beberapa orang mengamati area peternakan ayam dengan sistem free range di fasilitas Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi Fapet UGM.
Peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan pendekatan free range, di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Fapet UGM. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sinergi UGM dan JAPFA kali ini diwujudkan lewat fasilitas hibah 1.500 ekor ayam petelur (layer). Penguatan sistem peternakan berbasis kesejahteraan hewan melalui pendekatan free range menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

COO Poultry Indonesia JAPFA, Arif Widjaja menyampaikan bahwa fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup (living laboratory) untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan.

“Pada tahap awal, kami menargetkan populasi 1.500 ayam petelur dengan potensi produksi sekitar 1.275 telur per hari. Lebih dari itu, kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendorong inovasi sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya produk pangan yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” ujar Arif, Selasa (21/4/2026).

2. Sebagai pusat inovasi akademik

Kolaborasi Fapet UGM dan JAPFA. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Kolaborasi Fapet UGM dan JAPFA. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Dekan Fapet UGM, Prof. Budi Guntoro menyampaikan apresiasinya atas kontribusi JAPFA dalam mendukung pengembangan akademik dan riset. “Fasilitas Layer Free range ini menjadi pusat inovasi akademis yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Mahasiswa dapat belajar langsung mengenai praktik terbaik dalam kesejahteraan hewan, sehingga menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri peternakan ke depan,” ungkap Prof. Budi. 

Fakultas Peternakan UGM sedang mengembangkan tiga model kandang yaitu cages, cage-free, dan free range untuk pembelajaran mahasiswa dengan pendekatan automasi dan sistem. Hibah ayam petelur free range ini merupakan bagian dari upaya nyata untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan di lingkungan akademik. Hibah ayam free range ini tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga fasilitas penelitian untuk mengkaji metode pemeliharaan ayam yang paling efektif dan berkelanjutan.

Sistem free range yang diterapkan dalam fasilitas ini mengedepankan prinsip lima kebebasan hewan (Five Freedoms), di mana ayam memiliki akses ke area umbaran (outdoor) untuk mengekspresikan perilaku alaminya, seperti bergerak bebas, berinteraksi, dan berjemur di bawah sinar matahari. Pada siang hari, ayam dilepas di area terbuka, sementara pada malam hari kembali ke kandang utama untuk menjaga keamanan dari predator.

Penerapan sistem ini telah banyak diadopsi di berbagai negara dan terbukti memberikan dampak positif, baik terhadap kesehatan fisik dan mental ayam maupun terhadap kualitas telur yang dihasilkan. Akses terhadap pakan alami seperti serangga dan cacing di area umbaran turut berkontribusi pada peningkatan nilai nutrisi telur.

3. Pemanfaatan teknologi mutakhir

Peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan pendekatan free range, di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Fapet UGM. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan pendekatan free range, di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Fapet UGM. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Prof. Budi mengatakan penekanan khusus pada pemanfaatan teknologi mutakhir di dalam fasilitas tersebut, dengan prinsip operasional yang berfokus pada pendidikan, bukan komersialisasi semata. Di samping itu, kurikulum Fakultas Peternakan saat ini bernuansa otomasi.

“Kami merekrut dosen-dosen di bidang otomasi untuk memberikan bekal kepada mahasiswa. Sistem otomasi ini akan diterapkan pada tiga model kandang tersebut untuk dimanfaatkan dalam riset dosen dan mahasiswa. Perguruan tinggi membawa mandat bahwa fasilitas yang ada di kampus ditujukan untuk peningkatan kualitas riset, terutama yang saat ini diarahkan pada AI (Artificial Intelligence), otomasi, dan mekanisasi. Oleh karena itu, jangan dibayangkan fasilitas ini murni untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Bisa membiayai operasionalnya sendiri saja sudah sangat baik,” jelas Prof. Budi..

Lebih lanjut, kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan pasar telur premium di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan hewan dalam proses produksi pangan. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen JAPFA sebagai perusahaan agribisnis terintegrasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein hewani yang halal, aman, dan higienis, sekaligus mendorong transformasi industri peternakan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More