Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rip Current, Si Pembunuh Senyap di Balik Ombak Pantai Selatan Jogja
Kunjungan wisatawan ke Pantai Parangtritis Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)
  • Empat remaja nyaris tenggelam di Pantai Parangtritis akibat rip current, fenomena arus balik kuat yang berulang setiap tahun di pantai selatan Yogyakarta.
  • Penelitian menunjukkan seluruh pantai pasir di DIY, terutama Bantul dan Kulon Progo, memiliki potensi rip current akibat kombinasi gelombang pecah dan morfologi pantai.
  • Kecepatan rip current bisa mencapai lebih dari 2 meter per detik, dua kali lebih cepat dari kemampuan renang manusia, membuatnya sangat mematikan bagi pengunjung pantai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bahaya itu nyata, dan kembali terjadi. Kemarin sore, Minggu (22/3/2026), empat remaja nyaris meregang nyawa setelah terseret rip current di Pantai Parangtritis, Bantul. dua di antaranya bahkan sempat tenggelam sebelum berhasil dievakuasi tim SAR.

Kejadian serupa terus berulang setiap tahun di pantai selatan Yogyakarta: Januari 2025, 13 siswa SMPN 7 Mojokerto terseret arus di Pantai Drini, Gunungkidul, dan empat di antaranya meninggal dunia. Pelakunya selalu sama: rip current, arus tarik yang tak terlihat tapi mematikan.

Fenomena ini bukan sekadar ombak besar biasa. Ia adalah arus tersembunyi yang bergerak dari pantai menuju laut lepas dengan kecepatan tinggi, dan bisa menyeret siapa saja dalam hitungan detik. Lalu, apa sebenarnya rip current itu dan mengapa pantai selatan Jogja begitu rentan?

1. Penyebab rip current

Ilustrasi wisatawan di Pantai Parangtritis. (IDN Times/Daruwaskita)

Dalam jurnal “Studi Rip Current di Pantai Selatan Yogyakarta” (2015), Ishak Putra Pangururan, dkk menjelaskan bahwa rip current merupakan arus yang bergerak dari pantai menuju laut. Rip current ini dapat terjadi setiap hari dengan kondisi bervariasi mulai dari kecil serta pelan sehingga tak berbahaya hingga arus yang bisa menyeret orang ke tengah laut.

Hubungan antara gelombang yang datang menuju pantai dan kondisi morfologi pantai menurut Ishak Putra Pangururan, dkk menjadi penyebab munculnya rip current atau arus tarik. Hal ini diamini oleh Wendy Carey, seorang ahli risiko pantai dari University of Delaware. Ia mengatakan kunci terbentuknya rip current adalah ada tidaknya gelombang pecah atau breaking waves.

“Jika tak ada breaking waves maka rip rurrent tidak akan muncul,” katanya dikutip Live Science.

2. Di mana pantai yang memiliki rip current?

instagram.com/lensaddict_/

Berdasarkan penelitian terhadap 10 pantai yang terletak di Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo, Ishak Putra Pangururan, dkk mengatakan bahwa arus tarik ada pada setiap pantai pasir di Yogyakarta.

Kesepuluh pantai yang menjadi objek penelitian adalah Pantai Parangtritis, Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Trisik, Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Indrayanti, Pantai Siung, dan Pantai Wediombo. Rip current di atas ditemukan di pantai pasir baik yang berbentuk lurus maupun teluk.

Ishak Putra Pangururan, dkk pun mengatakan bahwa rip current lebih banyak ditemukan di pantai yang terletak di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Gelombang pecah berjenis plunging di sisi lain ditemukan di 10 pantai yang menjadi objek penelitian. Keberadaan breaking waves ini menjadi penyebab munculnya rip current.

3. Berapa kecepatan rip current sehingga bisa menyeret manusia?

Rip current (commons.wikimedia.org/NOAA)

Seberapa cepat sebenarnya arus ini? Penelitian Ishak Putra Pangururan, dkk. di sepuluh pantai pasir DIY mencatat kecepatan rip current berkisar antara 0,08 hingga 1 meter per detik.

Namun, Pusat Meteorologi Maritim BMKG mencatat kecepatan rip current yang sudah pernah terukur bisa melebihi 2 meter per detik. Sebagai perbandingan, kecepatan renang rata-rata manusia hanya sekitar 0,9 meter per detik. Artinya, arus ini nyaris dua kali lebih cepat dari kemampuan manusia berenang. Tak heran jika BMKG secara tegas menyatakan bahwa rip current mampu menyapu perenang paling andal sekalipun ke laut lepas.

4. Arus tarik yang mematikan

ilustrasi orang yang nyaris tenggelam (unsplash/Nicco Macaspac)

Petugas SAR Parangtritis menyebutkan bahwa rip current, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan "ekor palung", tersebar di berbagai titik sepanjang pantai dengan posisi yang tidak tetap alias berpindah-pindah. Dari catatan tim SAR, 90 persen korban yang terseret arus ekor palung dinyatakan meninggal dunia.

Fakta bahwa seluruh pantai pasir di DIY berpotensi memiliki arus ini seharusnya cukup untuk membuat kita lebih waspada. Sebelum menginjakkan kaki di bibir pantai selatan, pastikan kamu sudah paham cara mengenali dan menghadapi rip current. Patuhi rambu larangan, ikuti arahan petugas SAR, dan yang terpenting, jangan pernah menganggap remeh tenangnya permukaan laut di pantai selatan Jogja. Karena di balik airnya yang terlihat damai, bisa jadi ada arus yang siap menarikmu jauh ke tengah lautan.

Editorial Team