Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pengrajin Batik di Jogja Didorong Adaptif dan Gunakan Pewarna Alami

Pengrajin Batik di Jogja Didorong Adaptif dan Gunakan Pewarna Alami
Ilustrasi batik. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Intinya Sih
  • Pemerintah DIY menggelar pelatihan dan sertifikasi batik fokus pada pewarna alami serta perancangan motif untuk dorong industri batik adaptif, berkelanjutan, dan sesuai prinsip green economy.
  • Imam Pratanadi menekankan pentingnya peningkatan kualitas, inovasi desain, serta pengelolaan limbah ramah lingkungan agar batik Jogja mampu bersaing di pasar internasional dan tetap jadi identitas budaya.
  • BBSPJIKB bersama Dispar DIY menggandeng generasi muda dalam modernisasi motif batik tanpa meninggalkan nilai tradisional, guna menjaga daya saing industri di tengah perubahan tren global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Yogyakarta, IDN Times - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong industri batik agar lebih adaptif terhadap perkembangan pasar, termasuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Upaya itu dilakukan melalui pelatihan dan sertifikasi profesi bagi pelaku industri batik, khususnya pada skema pewarnaan alam dan perancangan motif batik, Senin (18/5/2026) – Jumat (22/5/2026).

Dari dua skema kompetensi, yaitu perancangan motif batik dan pewarnaan alam, masing-masing diikuti 20 peserta dari berbagai latar belakang. Pelatihan kali ini tidak hanya diikuti oleh para pelaku dan penggiat batik, tetapi juga melibatkan Gen Z dari berbagai SMK di wilayah DIY.

“Kita menyelenggarakan pembukaan pelatihan dan sertifikasi profesi untuk skema pewarnaan alam batik dan skema perancangan motif batik. Kegiatan ini memastikan UMKM, khususnya batik, memiliki nilai tambah yang dapat meningkatkan mutu dan kualitas produknya,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Yogyakarta, Senin (18/5/2026).

1. Dukung prinsip green economy

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Imam menjelaskan, peningkatan kualitas menjadi penting agar produk batik di Jogja semakin diterima pasar intternasional. “Pasar semakin terbuka bagi industri tekstil, terutama batik yang memenuhi prinsip green economy. Karena itu kami ingin semakin banyak pengrajin batik di Jogja yang mengembangkan pewarna alami,” ujarnya.

Imam menyebut, pengembangan batik berbasis pewarna alami tidak dimaksudkan untuk menggantikan batik dengan pewarna kimia. Keduanya tetap dikembangkan sebagai kekuatan industri batik di Jogja, hanya saja pendekatan ramah lingkungan menjadi perhatian utama.

“Batik pewarna alami punya pasar khusus dan tidak head to head dengan pewarna kimia. Kecenderungan ekonomi dunia sekarang bergerak pada green economy sehingga produk-produk yang memenuhi kriteria itu memiliki pasar tersendiri,” jelasnya.

Selain pengembangan pewarna alami, pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi pengolahan limbah bagi industri batik berbahan kimia agar tetap memenuhi standar ramah lingkungan.

“Untuk batik kimia, bagaimana penanganan limbahnya bisa berjalan dengan teknologi yang baik sehingga masuk dalam kriteria green economy dan bisa diterima pasar luar negeri,” katanya.

2. Tantangan industri batik dan upaya mengatasi

Ilustrasi batik. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Ilustrasi batik. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Imam mengakui, industri batik secara umum mengalami tantangan dalam beberapa tahun terakhir, mulai kondisi perang hingga melemahnya dollar berdampak pada industri.

Diperlukan berbagai strategi agar batik kembali menjadi salah satu fashion utama Indonesia, khususnya dari Jogja. “Perlu upaya untuk memastikan batik kembali menjadi fashion utama. Di sini kami meningkatkan kualitas produksi, motif, desain, hingga bagaimana penyerapan pasarnya,” ungkapnya.

Menurut Imam, pasar luar negeri saat ini mulai melihat batik tidak hanya sebagai pakaian, tetapi produk aksesoris dan karya koleksi. Produk batik pewarna alami dinilai memiliki potensi besar untuk segmen tersebut.

“Kalau pasar luar negeri, kecenderungannya batik digunakan untuk aksesoris seperti tas, dompet, syal, hingga hiasan dan koleksi. Pewarna alami ini punya nilai artistik dan eksklusif tersendiri,” katanya.

Imam menegaskan batik memiliki posisi penting sebagai identitas budaya Jogja yang berperan besar dalam mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Melalui pelatihan dan sertifikasi ini, kami berharap lahir sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan mampu menghadirkan inovasi batik yang tetap berakar pada budaya lokal namun relevan dengan perkembangan industri saat ini,” ujarnya.

3. Gandeng generasi muda dan pengembangan motif

Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba, menyampaikan BBSPJIKB terus berkomitmen mendukung peningkatan kompetensi pelaku industri batik melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri serta sertifikasi profesi yang terstandar. Kolaborasi antara BBSPJIKB dan Dispar DIY ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing industri batik Indonesia. 

Zya mengharapkan para pengrajin bisa berinovasi, menyesuaikan perkembangan yang ada. Pengembangan motif modern bukan berarti meninggalkan nilai filosofis dan pakem batik tradisional yang selama ini menjadi identitas budaya Indonesia.

“Bukan berarti kita tidak bangga dengan motif-motif yang sudah ada beserta filosofi dan pakemnya. Tetapi perancangan batik ke depan tidak hanya bicara pasar lokal saja,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan konsumen saat ini terus berkembang sehingga modernisasi desain batik menjadi hal yang diperlukan. Jika tidak mengikuti perkembangan pasar, industri batik dikhawatirkan akan tertinggal. “Kebutuhan customer sekarang berubah. Modernisasi batik juga diperlukan. Kalau tidak, kita akan tertinggal,” katanya.

Di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil, pelaku industri batik diminta tetap optimistis. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar disebut tidak boleh menjadi ketakutan berlebihan bagi pelaku usaha kecil dan menengah. “Semoga kondisi ekonomi seperti ini tidak menjadi ketakutan pelaku usaha. Justru usaha kecil dan menengah selama ini terbukti bisa survive dan tangguh,” ujarnya

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Jogja

See More