Pasangan Suami Istri Kompak Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM

- Pasangan suami istri dari FMIPA UGM, Prof. Edi Winarko dan Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, dikukuhkan bersamaan sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM pada 4 September 2026.
- Prof. Edi menyoroti pergeseran paradigma pengembangan kecerdasan buatan menuju pendekatan data-centric yang menekankan pentingnya kualitas data untuk meningkatkan akurasi dan keandalan sistem AI.
- Prof. Tutik membahas potensi senyawa pirazolina sebagai molekul multifungsi dengan aktivitas antikanker dan kemampuan fluoresensi yang menjanjikan untuk pengembangan obat serta teknologi kemofluorosensor.
Yogyakarta, IDN Times - Pasangan suami istri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) kompak dikukuhkan bersamaan sebagai Guru Besar pada Kamis (4/9/2026) di Balai Senat UGM. Mereka adalah Prof. Drs. Edi Winarko yang dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Rekayasa Pengetahuan, dan istrinya, Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, yang dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Kimia.
1. Apresiasi kepada kolega dan pasangan masing-masing
Dalam upacara pengukuhan tersebut, keduanya menyampaikan apresiasi kepada kolega dan pasangan masing-masing atas dukungan selama perjalanan karier hingga meraih jabatan akademik tertinggi. “Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya,” kata Edi Winarko.
Tutik juga menyampaikan hal serupa kepada suaminya. “Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D. yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini. Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya,” katanya.
2. Prof. Edi soroti paradigma perkembangan AI ke data-centric
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Data Berkualitas, AI Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan Kecerdasan Buatan di Dunia Nyata”, Prof. Edi Winarko menyoroti pergeseran paradigma dalam pengembangan kecerdasan buatan, dari pendekatan model-centric menuju data-centric AI.
Ia menjelaskan, selama beberapa dekade, kemajuan AI didorong oleh inovasi pada algoritma dan arsitektur model. “Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model,” paparnya.
Pendekatan tersebut melahirkan berbagai terobosan, mulai dari Convolutional Neural Network (CNN), Long Short-Term Memory (LSTM), hingga arsitektur transformer yang kini menjadi fondasi model AI modern.
Namun, ia menilai fokus pada model memiliki keterbatasan. Menurutnya, kegagalan sistem AI kerap dipengaruhi kualitas data yang kurang memadai. “Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda,” jelasnya.
Sebagai respons, pendekatan data-centric AI mulai dikembangkan dengan menempatkan data sebagai elemen utama. “Data-centric AI tidak menggantikan model-centric AI, melainkan melengkapinya. Pengembangan AI modern memerlukan rekayasa model dan rekayasa data yang berjalan secara paralel,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam pendekatan ini data dipandang sebagai aset yang perlu terus ditingkatkan melalui proses pengumpulan, pelabelan, dan kurasi secara berkelanjutan. “Data merupakan fondasi utama kecerdasan buatan. Melalui pendekatan yang berpusat pada data, sistem AI yang lebih akurat dan dapat dipercaya dapat dibangun,” ungkapnya.
3. Prof. Tutik bahas potensi senyawa pirazolina di bidang kesehatan
Sementara, dalam pidato berjudul “Pirazolina sebagai Platform Molekul Multifungsi: Sintesis, Aktivitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluorosensor Selektif”, Prof. Tutik menyoroti potensi senyawa pirazolina sebagai molekul multifungsi di bidang kesehatan dan teknologi sensor.
Ia menjelaskan, melalui pendekatan sintesis organik, struktur molekul dapat dirancang dan dimodifikasi untuk meningkatkan aktivitas biologis, selektivitas terhadap sel target seperti sel kanker, serta menekan efek toksik pada sel normal. Pendekatan ini dinilai penting dalam pengembangan obat yang lebih efektif dan aman.
Tutik memfokuskan risetnya pada senyawa heterosiklik pirazolina yang memiliki struktur cincin dengan atom hetero, seperti nitrogen, oksigen, atau sulfur. Karakteristik ini memberikan sifat elektronik unik yang mendukung berbagai aktivitas farmakologis. “Pirazolina merupakan senyawa heterosiklik dengan cincin lima anggota yang mengandung nitrogen. Dan itu menjadikannya memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antimikroba, antikanker, antiinflamasi, dan antioksidan,” paparnya.
Dalam konteks pengobatan kanker, ia menyoroti tantangan terapi yang masih dihadapi, seperti resistensi obat akibat mutasi DNA dan rendahnya selektivitas kemoterapi. Penelitiannya menunjukkan substituen pendonor elektron, seperti kloro, metoksi, dan dimetilamino, memiliki aktivitas sitotoksik yang menjanjikan terhadap sel kanker, sekaligus berpotensi menekan efek samping.
Selain sebagai kandidat obat, pirazolina juga berpotensi dikembangkan sebagai kemofluorosensor karena sifat fluoresensinya. “Sifat fluoresensi alami dari pirazolina menjadikannya kandidat yang menarik sebagai fluorofor dalam sistem kemofluorosensor,” jelasnya. Ia menambahkan, pengembangannya masih menghadapi tantangan, seperti optimasi selektivitas dan pemahaman mekanisme interaksi molekuler.

















