UGM Padukan Potensi Daun Pegagan dan Kencur Kurangi Radang Saraf Mata

Peneliti FK-KMK UGM mengaji kombinasi kencur hitam dan daun pegagan sebagai terapi pendamping neuritis optik, dengan memadukan potensi herbal lokal dan pembuktian ilmiah.
Terapi utama neuritis optik akut masih menggunakan kortikosteroid dosis tinggi; kombinasi herbal tersebut berpotensi memberi efek neuroprotektif dan mempertahankan fungsi penglihatan sebanding vitamin B12.
Pengembangan produk herbal ini juga ditujukan untuk memberdayakan petani, UMKM, dan komunitas difabel di Yogyakarta melalui ekosistem pasar yang berkelanjutan.
Sleman, IDN Times - Daun pegagan (Centella asiatica) dan kencur (Kaempferia galanga) kini tak lagi sekadar tanaman liar atau bahan jamu biasa. Kombinasi kedua tanaman herbal ini menyimpan potensi besar dalam mengobati gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata (neuritis optik).
1. Padukan potensi herbal dengan ilmiah

Peneliti Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Indra Tri Mahayana, menyampaikan timnya tengah meneliti khasiat kandungan senyawa dari kedua tanaman tersebut. Penelitian ini berupaya memadukan potensi besar herbal lokal dengan pembuktian ilmiah.
Menurut Indra, racikan kencur hitam, tanaman khas Yogyakarta dan daun pegagan berpotensi menjadi terapi pendamping bagi penderita neuritis optik. "Kencur hitam memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan yang memberi nilai tambah secara ekonomi," ujarnya dikutip lamann resmi UGM, Jumat (31/7/2026).
Sementara Muhammad Taufiq Hidayat dari FK-KMK UGM menjelaskan, terapi utama neuritis optik akut saat ini masih mengandalkan kortikosteroid dosis tinggi. Oleh karena itu, riset terus dikembangkan untuk menemukan terapi pendamping yang memberikan efek neuroprotektif atau perlindungan saraf.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kencur hitam dan daun pegagan berpotensi memberikan manfaat yang sebanding dengan vitamin B12 dalam mempertahankan fungsi penglihatan pasien neuritis optik akut,” papar Taufiq.
2. Pemberdayaan UMKM dan komunitas difabel
Tak hanya di bidang kesehatan, riset ini juga menyentuh aspek ekonomi masyarakat. Founder sekaligus Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur yang juga Dosen FEB UGM, Rika Fatimah, menekankan pentingnya membangun ekosistem pasar yang mendukung produk herbal buatan UMKM lokal.
Menurut Rika, pengembangan produk herbal ini dirancang sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi yang melibatkan petani, UMKM, hingga komunitas difabel di Kota Yogyakarta.
“Keberhasilan sebuah usaha tidak hanya diukur dari besarnya omzet, melainkan dari keberlanjutan rezeki lewat keunikan produk, kesejahteraan pelaku usaha, serta inovasi yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Rika.

















