Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tak Gentar Harga Sayur Mahal, Wanita Tani Rejo Sari Sukses Mandiri Pangan

Kab. Sleman
3 min read
Tak Gentar Harga Sayur Mahal, Wanita Tani Rejo Sari Sukses Mandiri Pangan
Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari Dusun Kledokan, Caturtunggal sedang memanen buncis. (IDNTimes/Febriana Sinta)
  • KWT Rejosari di Sleman mengelola kebun 800 meter persegi dengan sistem piket, menyediakan sayur gratis secukupnya bagi anggota dan harga lebih murah dibanding pasar.

  • Saat harga sayur naik akibat cuaca ekstrem, anggota tetap memiliki pasokan dari panen buncis, lombok, terong, dan timun; kebun disebut tidak pernah gagal panen.

  • Selain bertani, anggota belajar membuat kompos dan mencegah virus melalui pelatihan, lalu memasarkan hasil panen ke warga, pasar, Instagram, dan TikTok.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

"Ibu-ibu hari ini kita panen buncis ya. Mumpung banyak yang bisa kita petik, dan harganya pas mahal. Lombok yang dipetik baru rawit ya"

Yogyakarta, IDN Times - Itulah seruan yang disampaikan Ibu Marthin Kusumarahayu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari yang terletak di Dusun Kledokan, Caturtunggal Depok, Sleman saat memimpin piket hari ini, Rabu (23/9/2026). Sebagai ketua, ia harus datang setiap jam 16.00 WIB untuk memeriksa panenan sekaligus memberikan arahan harga sayuran.

Tak hanya melihat kebun, tiap hari perempuan berusia 59 tahun ini harus memantau media sosial untuk melihat perkembangan harga sayur. Ia akan menentukan besaran harga untuk dijual ke pedagang pasar sekaligus kepada anggotanya.

"Kalau harga untuk anggota KWT ada diskon banyak dibanding dari harga pasar. Jadi lebih murah banget," terangnya kepada IDN Times.

Bagi anggota yang sedang piket, diperbolehkan untuk memetik dan mengambil sayur gratis. "Jadi anggota kami ada 40 lebih, dibagi enam hari untuk piket. Mereka boleh mengambil gratis, tapi secukupnya saja, karena hasil petikan kan dibagi untuk semua anggota. Ya boleh ambil, tapi gak boleh banyak," tuturnya.

  1. Cuaca ekstrem, harga sayur tetap murah

    Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari Dusun Kledokan, Caturtunggal sedang menimbang hasil panen. (IDNTimes/Febriana Sinta)
    Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari Dusun Kledokan, Caturtunggal sedang menimbang hasil panen. (IDNTimes/Febriana Sinta)

    KWT Rejosari mempunyai lahan seluas 800 meter persegi, dengan belasan tanaman pangan, buah, rempah hingga kolam ikan. Saat ini tanaman lombok, buncis, terong dan timun mendominasi hasil panen. "Kami pernah memanen timun hingga satu ton. Selain diberikan kepada anggota, tetangga di sekitar lahan KWT, kami juga menjual ke pasar,""terangnya.

    Beberapa anggota mengklaim, mereka tidak pernah terpengaruh harga sayur yang mahal. "Kalau sekarang banyak yang mengeluhkan musim panas panjang karena El Nino yang menyebabkan harga sayur mahal, kami tidak merasakannya,""terang salah satu anggota kwt, Ari Bambang

    Pensiunan bagian tata usaha di sebuah kampus di Jogja ini menyatakan, para anggota akan memasak sayur sesuai hasil panen yang didapatkan di kebun kwt. " Jika ada buncis yang dioseng-oseng, kalau yang banyak timun dibuat pecel," terangnya.

    Mereka pun menyatakan, kebun milik bersama ini tidak pernah mengalami gagal panen. Air dan pupuk serta sistem piket anggota yang diatur untuk merawat tanaman menjadi salah satu kuncinya. "Kami tiap sore datang giliran untuk siram-sitam, cabut rumput hingga membuat pupuk," terang Ari.

  2. Belajar bertani, pembuatan pupuk hingga minimalkan pengeluaran uang

    Ibu Marthin Kusumarahayu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari yang terletak di Dusun Kledokan, Caturtunggal Depok, Sleman
    Ibu Marthin Kusumarahayu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari yang terletak di Dusun Kledokan, Caturtunggal Depok, Sleman

    Ibu Marthin menambahkan, para anggota juga belajar cara membuat pupuk dari sisa makanan dan tanaman. "Kami ikut trainning yang dilakukan dinas hingga kampus. Cara membuat pupuk kompos, cara mencegah virus,"" terang Erry.

    Tak hanya memasarkan hasil panen untuk anggota, tetangga dan pedagang pasar yang letaknya dekat kebun kwt, hasil panen mereka jual melalui media sosial. "Kami tak hanya bisa bertani, tapi juga harus bisa menjual dan bermedia sosial. Kami jual lewat Instagram dan Tik Tok," terangnya.

    Para anggota kwt yang didominasi ibu lansia ini yakin, konsep bertanam yang mereka lakukan selama lebih dari 10 tahun ini mampu mengurangi beban finansial keluarga. "Walau harga buncis, lombok, tomat mahal, kami tetap bisa masak dan menikmatinya tanpa keluar uang banyak." pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More