Akses Pendidikan Belum Merata, UGM Sambut Peluang Kuliah di Eropa

- UGM menilai akses pendidikan di Indonesia belum merata, sehingga peluang belajar internasional perlu diperluas bagi generasi muda yang menghadapi keterbatasan.
- EHEF 2026 di UGM menghadirkan 69 institusi pendidikan tinggi Eropa, menyediakan informasi program studi, beasiswa, dan pilihan melanjutkan pendidikan bagi pelajar serta mahasiswa.
- Delegasi Uni Eropa, UGM, dan Pemda DIY mendorong EHEF memperkuat kualitas SDM, pertukaran akademik, penelitian, serta kemitraan pendidikan Indonesia-Eropa.
Sleman, IDN Times - Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Wening Udasmoro, menilai akses pendidikan di Indonesia hingga kini belum sepenuhnya merata.
Meski sebagian masyarakat sudah memiliki kemudahan untuk memperoleh pendidikan, masih ada kelompok lain yang menghadapi keterbatasan dalam menjangkau kesempatan serupa.
"Kita tahu bahwa education itu sesuatu sebetulnya yang biasa-biasa saja bagi satu orang, tapi mungkin menjadi luxury bagi orang lain," kata Wening dalam acara pembukaan European Higher Education Fair (EHEF) 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Rabu (4/11/2026).
Pameran pendidikan yang diselenggarakan Delegasi Uni Eropa (EU) untuk Indonesia tersebut menghadirkan perwakilan dari 69 institusi pendidikan tinggi Eropa. Melalui kegiatan ini, pelajar dan mahasiswa bisa mendapatkan informasi mengenai program studi, beasiswa, hingga kesempatan melanjutkan pendidikan ke berbagai negara di Benua Biru.
Kesempatan pendidikan berkualitas belum dirasakan semua kalangan secara setara

European Higher Education Fair (EHEF) 2026 di GIK UGM. (IDN Times/Tunggul Damarjati) Menurut Wening, pemerataan akses pendidikan membutuhkan berbagai upaya, salah satunya dengan membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan pengalaman belajar di tingkat internasional.
Wening menyambut positif penyelenggaraan EHEF 2026 di Yogyakarta. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai salah satu kesempatan untuk memperluas jangkauan pendidikan, khususnya bagi generasi muda yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
Menurutnya, kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas belum dapat dirasakan semua kalangan secara setara. Karena itu, berbagai inisiatif yang mempertemukan calon mahasiswa dengan institusi pendidikan internasional perlu didukung.
"Kita memberikan kesempatan juga kepada calon-calon mahasiswa yang ada di Jogja. Mereka luar biasa, sangat pintar-pintar, memiliki pandangan yang ke depan, perspektif yang sangat luas, maka kita dukung untuk membukakan jalan agar mereka bisa meraih cita-cita mereka. Banyak yang pengin kuliah di UGM, tapi banyak juga yang pengin kuliah di luar negeri. Mahasiswa UGM juga pengin banyak yang kuliah di luar negeri," kata Wening.
Ia berharap EHEF tidak sekadar menjadi ajang pengenalan kampus-kampus Eropa, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Selain itu, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi lebih luas antara perguruan tinggi Indonesia dan Eropa, baik dalam pendidikan, penelitian, maupun pertukaran akademik.
"Ini kesempatan yang luar biasa sehingga kita membukakan jalan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya dari DIY," tuturnya.
EHEF hadirkan 69 institusi pendidikan tinggi Eropa

Pembukaan European Higher Education Fair (EHEF) 2026 di GIK UGM. (IDN Times/Tunggul Damarjati) Kuasa Usaha Ad Interim Delegasi EU untuk Indonesia, Marco Bonetti, menyampaikan antusiasmenya atas kembali digelarnya EHEF di Yogyakarta. Ia menilai tingginya partisipasi pengunjung menunjukkan besarnya perhatian generasi muda terhadap kesempatan pendidikan dan masa depan mereka.
"Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari institusi lokal, universitas, dan berbagai lembaga seni.
Namun, menurut saya, hal terpenting hari ini adalah para mahasiswa yang sedang menatap masa depan dan berusaha membuka pintu menuju masa depan tersebut," kata Marco.
Antusiasme terhadap EHEF di Yogyakarta bukan kali pertama terlihat. Pada penyelenggaraan tahun 2025, pameran ini berhasil menarik lebih dari 5.000 pengunjung yang tertarik melanjutkan pendidikan tinggi di Eropa. Tahun ini, ribuan peserta kembali memadati lokasi kegiatan.
Marco mengatakan, kehadiran puluhan institusi pendidikan tinggi Eropa bertujuan membantu generasi muda Indonesia mengenali potensi sekaligus menemukan pilihan pendidikan yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.
Ia menambahkan, hubungan pendidikan antara Indonesia dan Uni Eropa telah terjalin melalui berbagai program, mulai dari pertukaran pelajar, kerja sama antaruniversitas, hingga inisiatif akademis yang melibatkan EU dan negara-negara anggotanya.
Menurut Marco, pendidikan juga menjadi bagian penting dari strategi EU Global Gateway. Strategi tersebut diarahkan untuk membangun kemitraan jangka panjang melalui investasi pada pengembangan sumber daya manusia, keterampilan, penelitian, dan inovasi.
"Kami percaya inisiatif ini penting bagi Uni Eropa maupun Indonesia. Kami merasa memiliki masa depan bersama dan menginginkan masa depan yang cerah bagi semua orang," ucapnya.
Pemda DIY harap pelajar Jogja manfaatkan peluang kuliah di Eropa

European Higher Education Fair (EHEF) 2026 di GIK UGM. (IDN Times/Tunggul Damarjati) Dukungan terhadap EHEF 2026 juga disampaikan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY, Ghofar Ismail, menyebut Yogyakarta memiliki posisi penting sebagai salah satu tujuan pendidikan di Indonesia.
Menurutnya, kehadiran institusi pendidikan tinggi Eropa dalam EHEF memberikan nilai tambah bagi ekosistem pendidikan di Yogyakarta. Ajang tersebut mempertemukan pelajar dan komunitas akademik lokal dengan berbagai perguruan tinggi internasional.
"Sebagai kota pelajar, kota pendidikan. Jogjakarta tentu saja sangat menyambut baik inisiatif untuk kerja sama dalam bidang pendidikan," kata Ghofar.
Ghofar berharap EHEF dapat memperluas wawasan generasi muda sekaligus memperkuat hubungan pendidikan antara Yogyakarta dan komunitas internasional. Ia juga mendorong para pelajar dan mahasiswa memanfaatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat universitas-universitas di Eropa.
Kolaborasi Delegasi Uni Eropa, UGM, dan Pemda DIY melalui EHEF 2026 diharapkan tidak hanya memperluas kesempatan generasi muda mengakses pendidikan internasional. Kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat hubungan akademik Indonesia dan Eropa melalui pertukaran pengetahuan serta pengembangan kemitraan antarlembaga pendidikan.
"Pintu yang sangat-sangat bagus buat menimba pengalaman, menimba ilmu, dan juga memperluas wawasan bagi pelajar maupun mahasiswa yang belajar di Jogja," tutup Ghofar.




















