Fakta Bolosego, UMKM Jogja yang jadi Simbol Lawan Pungli

- Bolosego, usaha kuliner Jogja yang lahir dari dapur rumah pada 2020, kini memiliki gerai, produk vacuum, lebih dari 140 lapangan kerja, dan penjualan lebih dari seribu porsi per hari.
- Pemilik Bolosego, Dyah Laily Fardisa, menghentikan operasional food truck di Alkid setelah sehari karena dugaan permintaan biaya parkir, konsumsi, dan listrik di luar izin resmi.
- Keraton menegaskan pungutan itu bukan bagian izin resmi, Dishub menyatakan tidak menerbitkan izin parkir, sementara Polresta Yogyakarta mendalami dugaan pungli melalui Satreskrim dan Propam.
Nama Bolosego mendadak ramai dibicarakan warganet gara-gara sebuah video yang diunggah pemiliknya di TikTok. Dalam video itu, ia bercerita soal pengalaman tak menyenangkan saat berjualan dengan food truck di kawasan Alun-alun Kidul (Alkid) Yogyakarta. Mulai dari dimintai biaya parkir yang dianggap tidak wajar sampai harus menyediakan konsumsi untuk sejumlah orang.
Cerita ini langsung viral dan membuat Bolosego disebut-sebut warganet sebagai simbol perlawanan terhadap pungli. Banyak yang salut karena pemilik usaha berani speak up meski risikonya tidak kecil. Nah, biar makin kenal sama sosok di balik brand kuliner pedas ini, yuk simak fakta-fakta Bolosego berikut ini!
1. Berawal dari dapur rumah saat pandemi

Proses memasak di Bolosego. (Dok. Bolosego) Bolosego lahir pada 2020, tepat saat pandemi COVID-19 membuat banyak pelaku usaha kuliner kelimpungan. Usaha ini dimulai dari dapur rumah dengan tim kecil, cuma tiga sampai lima orang, yang nekat jualan lauk siap santap lewat kanal digital.
Berbekal semangat kewirausahaan, Bolosego pelan-pelan berkembang jadi bisnis yang lebih besar. Dari yang tadinya cuma jualan online, kini Bolosego punya beberapa gerai fisik, layanan makan di tempat, sampai produk siap santap dalam kemasan vacuum yang cocok dijadikan oleh-oleh khas Jogja. Brand ini juga mengusung tagline "Pedas Pangkal Puas" yang jadi ciri khasnya.
Sampai sekarang, Bolosego diklaim sudah membuka lebih dari 140 peluang kerja dan mencatat penjualan lebih dari seribu porsi per hari. Bisnis ini juga sudah merambah ke luar Yogyakarta lewat kolaborasi distributor dan kemunculan di berbagai festival kuliner di kota lain, termasuk Surabaya.
2. Kronologi dugaan pungli yang bikin Bolosego angkat kaki dari Alkid

Alun - alun kidul Yogyakarta. IDN TImes/Febriana Sinta Pemilik Bolosego, Dyah Laily Fardisa, awalnya sudah mengantongi izin resmi dari pihak Keraton Yogyakarta untuk berjualan dengan food truck di Alkid selama lima hari, mulai 16 sampai 20 September 2026. Sayangnya, operasional itu cuma bertahan sehari karena berbagai permintaan yang dianggap tidak wajar.
Dyah mengaku sempat diminta membayar biaya parkir sampai Rp2,5 juta per hari oleh seseorang yang mengaku juru parkir setempat. Setelah negosiasi, angka itu turun jadi Rp1 juta per hari. Selain urusan parkir, ia juga diminta menyediakan makanan untuk belasan orang, termasuk beberapa anggota polisi, ditambah biaya pemasangan listrik untuk operasional food truck-nya.
Kasus ini langsung mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Keraton Yogyakarta menegaskan permintaan pembayaran itu bukan bagian dari izin resmi yang mereka keluarkan. Pengelola parkir setempat juga buka suara dan membantah sejumlah tudingan, sementara Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta menyebut pihaknya tidak pernah menerbitkan izin parkir di kawasan tersebut. Pungutan tersebut bukan berasal dari juru parkir resmi yang izinnya diterbitkan Dishub.
Polresta Yogyakarta pun ikut turun tangan untuk mendalami dugaan pungli ini lewat Satreskrim dan Propam.
3. Menu, harga, dan cabang Bolosego di Jogja

Ilustrasi oseng mercon (freepik.com/KamranAydinov) Bolosego dikenal lewat menu-menu pedas yang jadi andalan, mulai dari sego iga mercon, oseng meteyor, tuna suwir, cumi sambal ijo, sampai ceker mercon. Uniknya, tingkat kepedasan tiap menu bisa disesuaikan mulai dari level 1 yang paling ringan sampai level 3 yang super pedas, jadi tetap ramah buat kamu yang belum terlalu tahan pedas.
Soal harga, menu andalan seperti sego iga mercon dibanderol mulai Rp59 ribuan, sedangkan paket wajan iga mercon untuk berdua ada di kisaran Rp118 ribu lengkap dengan nasi, sayur, lalapan, minuman, dan buah. Sementara, paket ayam kampung dibanderol Rp37 ribu saja.
Ada juga paket combo komplit seharga sekitar Rp169 ribu buat kamu yang mau icip beberapa menu sekaligus. Kalau mau bawa pulang, lauk kemasan vacuum 200 gram dijual mulai Rp58 ribuan dan bisa jadi oleh-oleh khas Jogja.
Bolosego Resto bisa kamu temui di beberapa titik di Yogyakarta, di antaranya Jalan Tamansiswa No 49, Jalan Affandi, dan Jalan Kabupaten kawasan Trihanggo, Sleman. Selain datang langsung, menu Bolosego juga bisa dipesan lewat layanan pesan-antar online buat kamu yang ingin makan pedas tanpa harus keluar rumah.
Itulah beberapa fakta seputar Bolosego, mulai dari sejarah, kronologi dugaan pungli yang bikin ramai jagat maya, sampai info menu dan cabangnya di Jogja. Kalau kamu penasaran sama cita rasa pedas khas Bolosego, tidak ada salahnya mampir ke salah satu cabangnya dan buktikan sendiri kenapa brand ini punya banyak penggemar setia.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















