Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Biarawati Asal Maluku Pilih Kuliah Radiologi di Unisa Jogja
Mahasiswa Radiologi Unisa Yogyakarta, Sebastiana Bwarleling. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Biarawati asal Kepulauan Tanimbar, Sebastiana Bwarleling, menjadi mahasiswa D3 Radiologi Unisa Yogyakarta 2026/2027 setelah diutus Kongregasi DSY Manado untuk memenuhi kebutuhan tenaga radiologi RS Dharma Ibu Ternate.
  • Sebastiana memilih Unisa karena kualitas pendidikan kesehatan, fasilitas radiologi, serta toleransi kampus. Ia merasa diterima sebagai non-Muslim, meski sempat canggung beradaptasi dengan mahasiswa baru yang lebih muda.
  • Unisa menerima 2.878 mahasiswa baru dari 34 provinsi dan empat negara, termasuk puluhan non-Muslim. Kampus menyalurkan beasiswa Rp18,3 miliar kepada 596 mahasiswa serta mendorong pengembangan potensi dan toleransi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sebastiana dari Maluku adalah seorang suster. Ia kuliah radiologi di Unisa Yogyakarta. Ia dikirim supaya nanti bisa membantu Rumah Sakit Dharma Ibu di Ternate. Sebastiana tinggal di biara dan punya teman baru yang lebih muda. Ia merasa diterima walau agamanya berbeda. Setelah lulus, ia diharap pulang ke Ternate.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - Sebastiana Bwarleling tak menyangka perjalanan panggilannya sebagai biarawati membawanya ke ruang kelas radiologi. Perempuan asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu kini menjadi salah satu mahasiswa baru Program Studi D3 Radiologi Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta tahun akademik 2026/2027.

Sebastiana merupakan anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado. Ia diutus melanjutkan pendidikan di Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, Maluku Utara, yang dikelola kongregasinya.

Selama menempuh pendidikan, Sebastiana tinggal di Biara DSY Pringgolayan, Gejayan, Yogyakarta. Ia telah berada di Yogyakarta sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan masa studinya.

Pilihan terhadap Unisa Yogyakarta, kata Sebastiana, didasarkan pada kualitas pendidikan kesehatan dan fasilitas penunjang pembelajaran radiologi.

"Saya memilih kuliah di Unisa Yogyakarta karena pertama, di bidang pendidikan kesehatan itu unggul. Yang kedua, sarana prasarana yang sangat memadai. Karena mengambil jurusan radiologi, dan sebelum itu saya sudah mencari tempat di Jogja dan Unisa Yogyakarta punya fasilitas yang sangat memadai untuk mengembangkan minat dan bakat," ujar Sebastiana saat pembukaan Masa Ta'aruf (Mataf) Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).

1. Merasa diterima meski berbeda agama

Suasana pembukaan Mataf Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Bagi Sebastiana, ada pertimbangan lain yang tak kalah penting. Ia merasa Unisa Yogyakarta memberikan ruang bagi mahasiswa dengan latar belakang agama yang beragam. "Saya memilih Unisa Yogyakarta juga karena mempunyai iman yang lebih dan bertoleransi tinggi di tempat ini. Dan juga terbuka bagi siapa saja, terlebih khusus bagi saya seorang biarawati juga diterima dengan baik di tempat ini," katanya.

Sebastiana mengaku tidak terlalu kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kampus yang mayoritas mahasiswanya Muslim. Pengalamannya bekerja di rumah sakit di Ternate membuatnya terbiasa berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang agama berbeda.

"Kalau saya pribadi mau bersosialisasi sudah terbiasa. Di Ternate, kami punya mayoritas karyawannya masih dibilang 90 persen Islam. Jadi untuk mau beradaptasi atau mau bersosialisasi dengan yang lain saya sudah terbiasa," ungkapnya.

Tantangan justru muncul karena perbedaan usia. Sebastiana telah bergabung dengan kongregasi sejak 2015, sementara sebagian besar mahasiswa baru yang ditemuinya merupakan lulusan SMA. Ia sempat merasa canggung ketika harus berbaur dengan teman-teman baru. Namun, penerimaan dari kelompoknya membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah.

"Pas mulai dari pra Mataf, itu kelompok baru bagi saya, semua masih mau dibilang adik-adik yang baru tamat SMA. Kalau saya kan masuk biara sudah dari 2015, jadi untuk membaur dengan teman-teman ini sebenarnya rasa canggung ada. Tapi karena teman-teman yang lain juga menerima saya dengan baik, kami membangun komunitas seperti kelompok saya dari Khafilah 37," tuturnya.

2. Kuliah radiologi karena kebutuhan rumah sakit

Mahasiswa Radiologi Unisa Yogyakarta, Sebastiana Bwarleling. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Keputusan Sebastiana mengambil D3 Radiologi bukan semata-mata pilihan pribadi. Pendidikan tersebut merupakan bagian dari kebutuhan Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph untuk menyiapkan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate.

"Memilih jurusan itu bukan pilihan saya, tetapi karena kebutuhan Kongregasi kami. Di rumah sakit kami diwajibkan untuk setiap unit itu harus dipegang oleh para suster. Di apoteker dan lain-lain sudah ada, tapi di radiologi belum ada," jelasnya.

Selama beberapa tahun ke depan, biaya pendidikan Sebastiana ditanggung Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia diharapkan kembali ke Ternate untuk memperkuat layanan radiologi di rumah sakit tersebut.

"Jadi saya diutus untuk berkuliah radiologi untuk bisa kembali mengembangkan rumah sakit kami yang ada di Ternate," katanya.

Sebastiana berharap lingkungan inklusif yang ia rasakan di Unisa Yogyakarta dapat terus dipertahankan. "Harapan saya semoga hal baik yang telah dikembangkan oleh universitas bisa ke depannya dikembangkan lebih baik lagi. Walaupun saya dari agama lain, tetapi saya merasa bahwa tempat ini mempunyai toleransi yang tinggi," pungkasnya.

3. Keberagaman di kampus Unisa Yogyakarta

Suasana pembukaan Mataf Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Kehadiran Sebastiana menjadi bagian dari keberagaman mahasiswa baru Unisa Yogyakarta tahun akademik 2026/2027. Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti mengatakan terdapat 14.872 pendaftar dan sebanyak 2.878 mahasiswa baru diterima. Mereka berasal dari 34 provinsi di Indonesia dan empat negara, yakni Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand. Dari jumlah tersebut, terdapat puluhan mahasiswa non-Muslim dari kalangan Hindu, Katolik, dan Kristen.

Sebanyak 2.326 mahasiswa baru merupakan perempuan dan 504 laki-laki. Mereka tersebar di berbagai jenjang dan jalur pendidikan, mulai dari diploma dan sarjana, pascasarjana, profesi, hingga Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Unisa Yogyakarta juga menyalurkan dana beasiswa sebesar Rp18,3 miliar kepada 596 mahasiswa.

Warsiti mengatakan keberagaman mahasiswa menjadi kekayaan yang perlu dijaga bersama. Perbedaan daerah asal, budaya, bahasa, maupun agama, menurutnya, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk belajar dan berkembang.

Mahasiswa juga didorong beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memperluas pengetahuan, serta membangun integritas dan toleransi. Ilmu dan profesi yang mereka tekuni diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengatakan Mataf Unisa Yogyakarta tidak hanya menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus.

Mataf juga menjadi ruang untuk mengenali sekaligus mengembangkan potensi mahasiswa selama menjalani pendidikan. "Jadi selain kalian akan menempuh ilmu yang kalian minati di Unisa Yogyakarta, tentunya potensi yang kalian punya itu juga akan dikembangkan di Unisa Yogyakarta melalui berbagai macam program-program yang ada. Jangan sampai ada yang tertinggal. No one left behind," ujar Salmah.

Menurutnya, prinsip tersebut juga mencakup akses mahasiswa terhadap berbagai informasi dan fasilitas kampus, termasuk beasiswa dan kegiatan kemahasiswaan. “Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal. Sehingga Unisa Yogyakarta menyediakan itu semuanya, fasilitas yang ada untuk menjadikan kalian semua kelak menjadi generasi yang hebat, generasi yang berkualitas, tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan tentunya peduli terhadap sesama,” katanya.

Berbagai program kemahasiswaan yang diperkenalkan selama Mataf, lanjut Salmah, diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menggali minat dan bakat. Salah satunya melalui kegiatan bela diri Tapak Suci.

Curated For You

Editorial Team

Related Article