Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Industri Kerajinan Menengah Indonesia Naik 15 Persen Dibanding 2024

Industri Kerajinan Menengah Indonesia Naik 15 Persen Dibanding 2024
Temu Bisnis IKM Kerajinan, di Grand Rohan, Selasa (10/3/2026). (Dok. Istimewa)
Intinya Sih
  • Kemenperin mencatat ekspor IKM naik 15 persen dibanding 2024, menunjukkan produk kerajinan Indonesia punya keunikan dan karakteristik khas yang diminati pasar global.
  • DIY dinilai memiliki potensi besar berkat fasilitas seperti PDIN, Balai Kerajinan dan Batik, serta tenaga kreatif dengan bahan lokal seperti bambu, kulit, dan keramik.
  • Tantangan utama IKM masih di pemasaran, sehingga Kemenperin memberi pendampingan agar pelaku mampu memanfaatkan era digital untuk memperluas pasar domestik hingga internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sleman, IDN Times – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat potensi besar ekspor hasil Industri Kerajinan Menengah (IKM). Dibanding tahun 2024, jumlah ekspor naik 15 persen.

“Kalau ekspor dari data yang ada, dibandingkan tahun 2024 naik 15 persen,” ungkap Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita, seusai agenda Temu Bisnis IKM Kerajinan, di Grand Rohan, Selasa (10/3/2026).

Reni menyebut angka tersebut menunjukkan produk yang dihasilkan dari Indonesia memiliki keunikan tersendiri. “Punya karakteristik, punya keunikan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain,” tegas Reni.

1. Potensi besar ekspor

Ilustrasi Ekspor (Dok. IDN Times)
Ilustrasi Ekspor (Dok. IDN Times)

Reni mengatakan negara tujuan utama ekspor di antaranya negara di Benua Eropa, Taiwan, China, Amerika, termasuk Jepang. “Kerajinan banyak. Barang-barang kecil itu, Korea, Jepang senang. Misalnya sendok kecil, itu kan juga food grade semua,” kata Reni.

Menurut Reni potensi besar ekspor hasil IKM tersebut juga dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Setelah Covid-19 ekspor dari DIY terus berjalan. “Itu juga pembinaan kita. Itu ada pameran yang kita fasilitasi tiap IKM, paling tidak dia tiga kali harus ikut. Jadi itu meyakinkan buyer bahwa ini memang industri, memang produsen, bukan dia beli di sana terus dia ikut pameran,” ungkapnya.

Dikatakan Reni, pembeli dari luar negeri akan yakin ketika produsen tersebut sudah tampil beberapa kali dalam pameran. Kemudian para pembeli akan bertanya workshopnya. “Terus dia (buyer) datang ke sini. Yang banyak diminiati itu ya dekor-dekor juga, keranjang-keranjang, sama storage  untuk penyimpanan,” kata Reni.

2. DIY miliki berbagai keunggulan

ilustrasi ekspor-impor menggunakan kapal (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi ekspor-impor menggunakan kapal (pexels.com/Pixabay)

Reni mengungkapkan Jogja memiliki sejumlah keunggulan lain untuk mengembangkan IKM. Di antaranya Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) yang menjadi wadah untuk pekerja kreatif. “Di sana nggak hanya ruangan, tapi dilengkapi oleh mesin dan peralatan terkni,” ujar Reni. 

Selain itu juga ada Balai Kerajinan dan Batik, dan Balai Kulit Karet Plastik. Dari sisi edukasi, ada juga Balai Diklat Industri, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK). “Terus juga di sini ada pekerja kreatif. Ada bahan-bahan yang diolah, misal Bantul keramiknya, kemudian bahan kerajinan bambu, kulit, batik. Jogja punya itu semua,” ungkapnya.

3. Penjualan masih jadi pemasaran

Ilustrasi Ekspor (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Ekspor (IDN Times/Aditya Pratama)

Reni tidak menampik masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku IKM. Seperti persoalan pemasaran, para pelaku IKM diberi pendampingan untuk mengenalkan produksi yang benar, hingga penjualan yang benar.

“Tapi kan sekali lagi yang namanya pasar, itu juga kita mencoba apalagi di era digital sekarang kan. Tidak terbatas hanya di pasar Jogja ini, yang harus diambil, tapi juga di Indonesia bahkan luar negeri,” tegas Reni.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Jogja

See More