Lebih lanjut, Hempri mengklaim bahwa UGM mengerahkan petugas Kantor Keamanan Keselamatan Kerja Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) UGM untuk memonitor aksi mahasiswa sedari sore hingga dini hari. "Kita lihat Adik-adik nggak ada hal-hal yang tadi apa, provokatif, semuanya bisa berjalan dengan baik dan sebagainya," kata Hempri.
Akan tetapi, kata dia, tindakan provokatif malah datang dari kelompok lain selain massa aksi di lokasi unjuk rasa sekitar pukul 19.00 WIB. "Yang saya kira sempat menyebabkan ya mungkin konflik sesaat," ucap Hempri.
Hempri juga menyampaikan sewaktu situasi kembali normal sekitar pukul 19.20 WIB. Awalnya, ia berpikiran semua akan berjalan dengan baik hingga selesai.
"Tapi sekitar jam 22.00 saya kira teman-teman mahasiswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan berbagai bentuk aksi kekerasan yang tidak sepantasnya terjadi," imbuh Hempri.
Sebelumnya, ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil menggelar aksi unjuk rasa di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).
Massa sebelum memulai aksi unjuk rasa berkumpul di sekitaran kawasan Bundaran UGM. Mereka kemudian bergerak melalukan long march sekitar pukul 16.00 WIB.
Sepanjang aksinya, mereka menyuarakan sejumlah tuntutan. Salah satunya adalah pengusutan kasus kematian Bambang Setiawan, penjual cermin yang tewas dalam kericuhan di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, 27 Agustus 2026 lalu.
Dalam aksinya, massa menyinggung besarnya anggaran pertahanan di era Pemerintahan Prabowo Subianto yang kontras dengan kesejahteraan guru.
Beberapa orator mempertanyakan keseriusan pemerintahan Prabowo-Gibran dalam pemulihan bencana Aceh dan Sumatra, gempa bumi NTT serta kebakaran hutan lahan (karhutla) di Kalimantan. Secara umum, massa menuntut rezim Prabowo-Gibran diturunkan.