Dosen UGM Teliti Parasit di Komodo, Ini Hasilnya

- Tim FKH UGM menemukan cacing pita endemik Kapsulotaenia sandgroundi pada komodo dengan prevalensi 6,67 persen, menunjukkan adaptasi unik terhadap lingkungan sabana semi-arid habitat aslinya.
- Penelitian menyoroti risiko peningkatan beban parasit dan potensi lompatan penyakit akibat interaksi dekat antara komodo, satwa mangsa, serta manusia di kawasan wisata Pulau Rinca.
- UGM mendorong pembangunan sistem cegah dini berbasis one health dan menegaskan bahwa parasit juga berperan sebagai indikator kesehatan ekosistem satwa liar.
Sleman, IDN Times - Tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, menemukan cacing pita endemik Kapsulotaenia Sandgroundi dengan prevalensi 6,67 persen di hewan komodo. Parasit ini memiliki adaptasi berupa kapsul pelindung ganda pada telurnya sehingga mampu bertahan hidup pada lingkungan sabana semi-arid yang menjadi habitat komodo.
Hasil penelitian dilakukan mahasiswa jenjang doktor Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Aji Winarso. Penelitian dilakukannya menyoroti sisi aspek kesehatan komodo liar masih menjadi bagian yang belum banyak dikaji dalam upaya konservasi.
Selama ini, sebagian besar penelitian lebih menitikberatkan pada populasi dan ekologi, padahal penyakit dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa endemik yang hidup di pulau-pulau kecil. “Kami ingin membangun baseline data mengenai patogen dan parasit komodo sebagai dasar untuk mendeteksi ancaman penyakit sejak dini, terutama di tengah meningkatnya interaksi komodo dengan manusia akibat aktivitas pariwisata,” ujarnya dikutip laman resmi UGM, Senin (13/7/2026).
1. Parasit dapat mengancam daya tahan komodo

Ia menjelaskan penelitian diawali dengan pemenuhan aspek legal melalui ethical clearance dan perizinan akses sumber daya genetik dari Kementerian Kehutanan. Selanjutnya, tim berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Komodo sebagai mitra penelitian sebelum melakukan observasi habitat dan pengambilan sampel biologis berupa feses, darah, serta ektoparasit komodo liar.
Sampel yang diperoleh kemudian diidentifikasi secara morfologis menggunakan mikroskop. Untuk memastikan identitas setiap parasit, tim melanjutkan analisis menggunakan metode molekuler sehingga hasil identifikasi dapat dipastikan secara lebih akurat.
Dari hasil penelitian, Aji mengatakan keberadaan cacing di saluran pencernaan maupun caplak pada kulit komodo merupakan kondisi yang lazim ditemukan di alam liar. Namun, peningkatan beban parasit akibat perubahan habitat atau stres lingkungan dapat mengancam daya tahan hidup komodo.
2. Pemerintah diminta bangun sistem cegah dini
Ia juga menyoroti temuan caplak komodo yang menggigit manusia di Pulau Rinca sebagai sinyal penting bagi pengelola kawasan konservasi. Caplak berpotensi menjadi vektor berbagai mikroorganisme patogen sehingga interaksi yang terlalu dekat antara komodo, satwa mangsa seperti rusa dan babi, serta manusia di kawasan wisata dapat meningkatkan risiko spillover atau lompatan penyakit. “Jika terjadi interaksi yang terlalu dekat tanpa batas antara komodo, satwa mangsa (seperti rusa dan babi), dan manusia di zona wisata, risiko lompatan penyakit sangat nyata,” ungkapnya.
Dengan begitu, Aji menyarankan kepada pengelola Taman Nasional Komodo (TNK) dan pemerintah agar segera membangun sistem cegah dini kesehatan berbasis one health. Ia mengatakan bahwa pengelola arus rutin memantau tren parasit pada komodo secara berkala, memastikan satwa mangsanya bebas dari penyakit menular, dan memperkuat biosekuriti bagi petugas dan wisatawan agar rantai penularan zoonosis bisa terputus.
3. Parasit tidak hanya dipandang sebagai penyebab penyakit
Sementara itu, Guru Besar Bidang Parasitologi FKH UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, mengatakan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa parasit tidak hanya dipandang sebagai penyebab penyakit, tetapi juga dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem, dan itu merupakan tonggak penting bagi kedokteran hewan satwa liar. “Parasit bukan sekadar patogen, melainkan indikator integritas ekologis. Ledakan populasi ektoparasit dan interaksinya dengan lingkungan serta manusia memproyeksikan perlunya manajemen biosekuriti yang lebih strategik,” katanya.



















