Dosen UGM Ungkap 3 Penyebab Konsumsi Ikan di Indonesia Rendah

- Indonesia menempati posisi kedua produsen perikanan dunia dengan total produksi 26,25 juta ton pada 2025, namun tingkat konsumsi ikan nasional masih rendah dibanding negara lain.
- Rendahnya konsumsi ikan di Jawa disebabkan kebiasaan makan non-ikan sejak kecil, kurangnya pengetahuan gizi ikan, serta minimnya produk olahan siap santap di pasaran.
- Distribusi dan logistik yang terbatas membuat pasokan ikan ke daerah padat penduduk terhambat, sehingga berdampak pada harga dan daya serap pasar hasil perikanan.
Yogyakarta, IDN Times - Indonesia menjadi negara maritim yang memiliki produksi perikanan terbesar kedua di dunia setelah China, yang memasok sekitar 25 persen dari total permintaan ikan global.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2025, total produksi mencapai 26,25 juta ton, terdiri 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya. Namun produksi perikanan yang besar tersebut tidak membuat masyarakatnya banyak mengonsumsi ikan.
Dibanding negara lainnya, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih tertinggal. Data menunjukkan konsumsi ikan di Indonesia masih di bawah negara lain, seperti Malaysia dan Jepang. Angka Konsumsi Ikan (AKI) nasional tahun 2024 berada di angka 58, 76 kg per kapita per tahun.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan wilayah Jawa secara umum, rerata konsumsi ini cenderung lebih rendah dibandingkan kawasan pesisir atau Indonesia Timur yang rata-rata konsumsinya mencapai 77 hingga 82 kg per kapita per tahun.
1. Rendahnya konsumsi hasil laut banyak ditemukan di Pulau Jawa

Guru Besar Departemen Perikanan UGM, Prof Alim Isnansetyo, menilai rendahnya angka konsumsi hasil laut banyak ditemukan di Jawa. Salah satunya disebabkan kebiasaan makan masyarakat.
"Di Jawa sebagian besar sumber lauk di meja makan mereka sehari-hari bukan ikan. Sebab, masyarakat Jawa sejak kecil dibiasakan makan protein dari ayam, tahu, atau tempe. Sementara di Indonesia Timur, sejak kecil sejak kecil mereka sudah dibiasakan untuk makan ikan," terangnya, Senin (29/6/2026).
2. Penyebab rendahnya konsumsi ikan

Alim menyebut kurangnya pengetahuan menjadi faktor rendahnya angka konsumsi ikan di Indonesia. Masyarakat pun belum tahu bahwa ikan memiliki nilai gizi tinggi, mengandung asam amino lengkap, baik esensial maupun non-esensial, serta asam lemak tidak jenuh, seperti omega 3 yang baik untuk kesehatan peredaran darah, jantung, dan perkembangan otak tanpa memicu kolesterol.
“Belum banyak beredar produk olahan ikan yang siap santap di masyarakat, membuat mereka malas untuk mengkonsumsinya,” ujarnya.
Menurut Alim, permasalahan distribusi dan logistik juga menjadi penyebab sedikitnya konsumsi ikan. Sebagian besar ikan berasal dari Indonesia Timur, sehingga pengiriman ke daerah berpopulasi tinggi membutuhkan waktu, biaya, angkutan, dan penanganan khusus.
“Nah, logistik untuk mengirim ke daerah-daerah yang mempunyai populasi tinggi itu kan memerlukan waktu dan biaya, juga memerlukan penanganan khusus. Tidak semua daerah itu kan mempunyai logistik yang memadai, sehingga distribusi itu terbatas,” jelasnya.
3. Rendahnya konsumsi ikan berdampak pada bisnis perikanan

Lebih lanjut, Alim menjelaskan rendahnya angka konsumsi ikan ini akan berdampak pada sektor bisnis perikanan. Harga ikan akan menjadi sangat sensitif terhadap tingkat konsumsi. Saat panen banyak hasil tangkap ikan, tetapi angka konsumsi turun maka akan membuat harga ikan menurun, karena daya serap konsumen yang rendah.
Alim menjelaskan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah atau stakeholder untuk mengatasi permasalahan ini. Pertama, perlu dilakukan edukasi sejak dini gerakan makan ikan sejak usia dini. Kedua, membantu kelompok pengolah ikan dalam mengembangkan produk pengolahan ikan yang siap santap, agar mudah untuk dikonsumsi serta mudah didistribusikan.
Ketiga, memastikan ketersediaan pasokan ikan segar untuk bahan baku. Keempat, membantu distribusi ikan dari laut ke daerah penduduk agar cepat sampai tanpa menurunkan kualitas ikan.


















