Hari Anak Nasional, 500 Siswa Diajak Lestarikan Candi Prambanan

- Sebanyak 500 siswa SMP mengikuti peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Candi Prambanan dengan tema ‘Wujudkan Impian, Lestarikan Indonesia’ melalui kegiatan edukatif budaya seperti membatik dan ecoprint.
- InJourney menegaskan komitmen menjadikan Candi Prambanan sebagai living heritage, yaitu ruang belajar dan tumbuh bagi generasi muda yang menyeimbangkan pelestarian budaya, pengelolaan wisata, dan pemberdayaan masyarakat.
- Wakil Bupati Sleman mengapresiasi perayaan HAN yang tidak sekadar seremonial karena turut menanamkan nilai menjaga warisan budaya serta membangun karakter anak agar mencintai seni dan sejarah bangsa.
Sleman, IDN Times – Sebanyak 500 siswa SMP dari kawasan sekitar Candi Prambanan mengikuti peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, Rabu (22/7/2026). Kegiatan yang digelar InJourney tersebut mengusung tema Wujudkan Impian, Lestarikan Indonesia, dengan mengajak anak-anak mengenal sekaligus mencintai warisan budaya sejak dini.
Rangkaian acara diisi dengan berbagai kegiatan edukatif, seperti belajar membatik, ecoprint, hingga pengenalan pelestarian cagar budaya yang dikemas dalam suasana menyenangkan. Dalam kesempatan tersebut, InJourney juga menyerahkan bantuan pendukung kegiatan seni dan budaya sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus pengembangan potensi generasi muda di kawasan Prambanan.
1. Kenalkan situs warisan dunia sejak dini

Chief Human Capital and Digital Officer InJourney, Herdy Harman mengatakan tema Hari Anak Nasional tahun ini mengandung pesan agar anak-anak Indonesia berani memiliki cita-cita, terus belajar, dan tidak takut mencoba hal baru. Menurutnya, masa depan Indonesia akan ditentukan oleh generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga memahami akar budaya bangsa.
"Tema ini mengajak anak-anak Indonesia untuk terus belajar, berani mencoba, dan meyakinkan bahwa tidak ada mimpi yang tidak bisa digapai. Masa depan Indonesia hanya akan kuat apabila generasi mudanya memiliki akar yang kuat, termasuk akar budaya," ujar Herdy.
Ia menambahkan, Candi Prambanan yang berdiri sekitar seribu tahun merupakan simbol kejayaan peradaban Indonesia. Karena itu, mengenalkan situs warisan dunia tersebut kepada anak-anak menjadi bagian penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dalam menjaganya.
"Prambanan sudah ada lebih dari seribu tahun lalu dan menjadi simbol peradaban bangsa Indonesia yang luar biasa. Kita bisa menjaganya dengan terlebih dahulu mencintainya. Mengenalkan anak-anak kepada Prambanan adalah bagian dari upaya tersebut. Kami meyakini pembangunan yang paling penting adalah membangun sumber daya manusianya," katanya.
2. Prambanan dikembangkan sebagai living heritage

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko InJourney Destination Management, Joel Siahaan mengatakan peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk menegaskan komitmen InJourney Group bersama berbagai pihak dalam mendukung hak anak untuk tumbuh, belajar, bermain, dan berekspresi.
Menurut Joel, kawasan Candi Prambanan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga ruang belajar dan ruang tumbuh bagi generasi muda. "Kami ingin menghadirkan manfaat melalui kawasan yang menjadi living heritage. Pengalaman wisata tidak hanya untuk berkunjung, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, kreativitas, kolaborasi, dan ruang tumbuh generasi muda," ujarnya.
Ia menjelaskan, sekitar 500 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Para siswa juga diajak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam relief Candi Prambanan. "Prambanan bukan sekadar legenda. Ada pesan dan nilai yang terpahat pada setiap relief. Tugas kita bersama memastikan warisan budaya ini tetap lestari sehingga dapat dinikmati generasi berikutnya," katanya.
Joel menegaskan konsep living heritage berarti warisan budaya harus tetap hidup, relevan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengurangi nilai keasliannya. "Dalam mengelola Prambanan, kami berupaya menyeimbangkan pelestarian cagar budaya, pengelolaan destinasi yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan masyarakat. Ketiganya harus berjalan beriringan," ungkapnya.
3. Perayaan HAN tak sekadar seremonial

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa mengapresiasi penyelenggaraan Hari Anak Nasional yang tidak hanya menghadirkan hiburan bagi anak-anak, tetapi juga memberikan pendidikan mengenai pentingnya menjaga warisan budaya. Menurut Danang, generasi muda merupakan penerus yang akan menentukan masa depan bangsa sekaligus penjaga peninggalan sejarah Indonesia.
"Kami bersyukur peringatan Hari Anak Nasional ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan pelajaran penting bahwa kita harus merawat dan menjaga warisan budaya. Leluhur telah mewariskan peninggalan yang luar biasa di wilayah Sleman, dan menjadi tugas kita untuk menjaganya agar tetap bisa diceritakan kepada dunia," katanya.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap budaya Indonesia sekaligus membangun karakter generasi muda yang peduli terhadap lingkungan, seni, dan sejarah bangsa.

















