Yogyakarta, IDN Times - Hasil pengecekan desil Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi sorotan setelah sejumlah rumah tangga yang masuk desil 9 atau 10 menilai kondisi ekonominya belum mencerminkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan tinggi.
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menjelaskan perbedaan penilaian tersebut tidak otomatis berarti masyarakat keliru memahami kondisi ekonominya atau data pemerintah sepenuhnya tidak tepat. Masyarakat biasanya melihat kesejahteraan dari pendapatan, pengeluaran, dan kebutuhan sehari-hari, sedangkan DTSEN memperhitungkan berbagai indikator sosial ekonomi rumah tangga.
Indikator tersebut antara lain kepemilikan dan kondisi rumah, aset, kendaraan bermotor, serta karakteristik rumah tangga lainnya. Perbedaan dasar penilaian itu membuat persepsi masyarakat mengenai kondisi ekonomi tidak selalu sama dengan posisi desil dalam DTSEN. “Seseorang bisa masuk desil 9 atau 10, tetapi bisa jadi hidup memang pas-pasan dan dua-duanya tetap benar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
