Petani Bawang Merah di Bantul Sampaikan Uneg-Uneg ke Kementan
- Petani bawang merah Parangtritis meminta Kementan menangani genangan melalui drainase dan tanggul, memperbaiki jalan usaha tani, serta menyediakan alsintan karena kekurangan tenaga kerja.
- Petani menyoroti pembatasan pupuk subsidi, kebutuhan gudang tunda jual saat harga turun, serta akses drone; Pemkab juga mendorong instalasi pembenihan untuk menekan biaya produksi.
- Di lahan 200 hektare, produktivitas mencapai 21 ton per hektare atau lebih dari 4 ribu ton, didukung elektrifikasi penyiraman yang menghemat biaya hingga 88 persen.
Bantul, IDN Times - Para petani bawang merah di Dusun Bulak Bungkus, Parangtritis, Kretek, Bantul, menyampaikan sejumlah uneg-uneg atau aspirasi kepada Kementerian Pertanian RI.
Di tengah produktivitas bawang merah yang tinggi, petani masih menghadapi sejumlah persoalan mulai dari genangan air, akses jalan usaha tani, keterbatasan tenaga kerja, kebutuhan pupuk, hingga fasilitas penyimpanan hasil panen.
1. Deret uneg-uneg para petani bawang merah
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Parangtritis, Kadiso, mengatakan salah satu persoalan utama yang dihadapi petani adalah kondisi geografis wilayah yang membuat lahan pertanian rawan tergenang ketika hujan deras.
"Karena letak geografis lahan persawahan di Parangtritis yang mangku gunung di sebelah timur, sehingga ketika hujan deras, lahan pertanian di Parangtritis terjadi genangan air yang menggenangi lahan pertanian. Ini disebabkan karena memang saluran drainase yang belum sempurna dan juga sebenarnya perlu adanya penambahan saluran drainase, sehingga terjadi debit air yang tinggi air tidak menggenang di lahan persawahan," kata Kadiso usai Panen Raya Bawang Merah di Bulak Bungkus yang dihadiri jajaran petinggi Kementan, Kamis (21/8/2026).
Selain drainase, petani juga mengeluhkan kondisi sejumlah jalan menuju lahan pertanian yang belum memadai. Kondisi tersebut menyulitkan aktivitas budidaya maupun pengangkutan hasil panen.
"Kendala untuk aktivitas ke lahan pertanian ada beberapa titik yang cukup menyulitkan karena untuk kegiatan budidaya maupun mengambil hasil pertanian, jalan yang dilalui belum baik. Sehingga kita perlu untuk perbaikan atau renovasi jalan usaha tani," ucap Kadiso.
Persoalan berikutnya adalah keterbatasan tenaga kerja. Menurut Kadiso, generasi muda di Parangtritis banyak yang lebih tertarik bekerja di sektor pariwisata, sementara tenaga kerja yang lebih tua semakin terbatas kemampuannya untuk bekerja di lahan.
"Sementara yang muda di Parangtritis kebanyakan tertarik di sektor pariwisata, sehingga tenaga kerja kita harus dari luar daerah," lanjutnya.
Dengan alasan itu, petani membutuhkan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan). Salah satu alat yang dinilai mendesak adalah hand tractor rotary.
2. Persoalkan pembatasan jenis pupuk bersubsidi

Ilustrasi petani bawang merah. (IDN Times/ Riyanto) Petani juga meminta agar kebijakan pupuk bersubsidi lebih disesuaikan dengan kebutuhan komoditas di lapangan. Kadiso menilai pembatasan jenis pupuk bersubsidi berdasarkan komoditas membuat petani hortikultura harus membeli pupuk tertentu dengan harga nonsubsidi.
"Peraturan dari pusat atau ketentuan dari pusat terkait dengan plotting jenis pupuk bersubsidi per jenis komoditas. Salah satu contoh kami petani hortikultura, jatah pupuk bersubsidi kami hanya NPK Phonska. Padahal kami butuh ZA, butuh SP. Nah itu artinya kita harus membeli yang non-subsidi dengan harga yang cukup tinggi. Nah ini bagaimana kalau ini bisa dirubah, bahwa e-RDKK itu sesuai dengan kebutuhan petani," paparnya.
e-RDKK mengacu pada sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok yang dipakai oleh Kementerian Pertanian untuk mendata dan memverifikasi kebutuhan serta penerima pupuk bersubsidi bagi petani di Indonesia. Petani wajib terdaftar di dalam sistem ini agar bisa menebus pupuk subsidi dengan KTP di kios resmi.
Persoalan lain muncul ketika harga bawang merah turun saat panen. Petani berharap dapat menerapkan sistem tunda jual dengan menyimpan bawang merah terlebih dahulu hingga harga kembali membaik. Namun, fasilitas gudang penyimpanan masih menjadi kendala.
"Kami berharap bahwa di Parangtritis ini bisa melakukan ketika harga jatuh dengan sistem tunda jual. Jadi ketika panen kita keringkan, kita tahan, kita menunggu harga sekitar 1 sampai 1,5 bulan, ketika harga naik baru kita lepas. Akan tetapi kendala kita, kita perlu gudang untuk penyimpanan bawang merah konsumsi yang untuk tunda jual," tutur Kadiso.
Di sisi teknologi, petani mulai merasakan manfaat penggunaan drone untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Namun, drone yang digunakan saat ini masih merupakan pinjaman.
"Harapan dari adik-adik petani milenial inginnya itu ingin punya drone sendiri," tuturnya.
3. Produktivitas tinggi, kebutuhan dukungan tetap besar
Aspirasi tersebut disampaikan di tengah capaian produksi bawang merah Parangtritis yang cukup tinggi. Luas tanam bawang merah di wilayah tersebut mencapai 200 hektare, dengan potensi hasil mencapai 21 ton per hektare. Itu sudah bersih dan dikemas, tanpa ada daun juga akar.
Petani Parangtritis juga menerapkan sejumlah strategi budidaya, termasuk elektrifikasi untuk penyiraman. Menurut Kadiso, penggunaan pompa listrik mampu menekan biaya penyiraman secara signifikan dibandingkan pompa berbahan bakar minyak.
"Sistem penyiraman yang dilakukan oleh petani di Parangtritis adalah menggunakan elektrifikasi, jadi dengan pompa listrik. Dengan penggunaan elektrifikasi ini, efisiensi biaya penyiraman bisa tertekan sebesar 88 persen dibanding dengan pompa BBM," ungkapnya.
Elektrifikasi juga dimanfaatkan untuk mendukung pengendalian hama melalui light trap yang dinilai ramah lingkungan, terjangkau dan sangat efektif.
Sementara itu, pola tanam serentak diterapkan untuk membantu memutus siklus hidup hama dan penyakit. Menurut Kadiso, seluruh lahan bawang merah di Parangtritis ditanam dengan komoditas yang sama, dengan cabai sebagai tanaman tumpangsari. Pada waktu tertentu, tanaman lain seperti cabai, terong, dan tomat harus dibersihkan dari lahan.
4. Butuh tanggul, alat berat dan tekankan swasembada benih bawang merah
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menyebut sektor pertanian sebagai salah satu dari tiga sektor ekonomi strategis di wilayahnya, bersama industri dan pariwisata. Ia mengatakan pertanian memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.
"Di mana sektor pertanian ini memberikan kontribusi PDRB kedua setelah sektor industri. Berarti sektor pertanian di Bantul ini telah memberikan kesejahteraan yang signifikan terhadap mayoritas warganya," kata Halim.
Menurut Halim, peningkatan produksi pertanian Bantul terjadi di tengah kecenderungan penyusutan luas lahan sawah. Ia mencontohkan produksi beras yang mengalami surplus 50 ribu ton pada 2024 dan meningkat menjadi 70 ribu ton pada 2025.
"Dengan demikian, maka bisa kita simpulkan bahwa intensifikasi mulai dari pemilihan benih, pemilihan pupuk, mekanisasi, elektrifikasi, bahkan hari ini sudah kita mulai digitalisasi, itu terbukti mampu meningkatkan produktivitas per satuan lahannya," katanya.
Dalam agenda panen raya bawang merah di Parangtritis, Abdul Halim juga menyoroti besarnya potensi komoditas tersebut. Luas panen mencapai 200 hektare dengan produksi 21 ton per hektare atau lebih dari 4 ribu ton bawang merah.
Jika harga bawang merah di tingkat petani mencapai Rp18 ribu per kilogram, nilai penjualan dari hasil panen tersebut diperkirakan mencapai Rp72 miliar.
Namun, di balik capaian tersebut, Abdul Halim menilai masih terdapat kebutuhan infrastruktur dan sarana produksi yang perlu mendapat perhatian pemerintah pusat.
"Ada beberapa aspirasi dari petani yang menurut kami, pemerintah daerah, ini masuk akal," tegas Halim.
Salah satu yang didorong adalah pembangunan tanggul dan penyediaan alat berat untuk mengatasi genangan air rob yang berdampak terhadap lahan bawang merah dan cabai di kawasan Parangtritis.
"Di antaranya adalah untuk mengatasi rob tahunan yang itu berdampak pada produktivitas bawang merah dan cabai merah di kawasan Parangtritis ini, yaitu kita memerlukan tanggul. Tanggul dan alat berat yang bisa mengatasi tergenangnya air rob itu pada hamparan ladang bawang merah kita," katanya.
Selain persoalan air, Pemkab Bantul juga mendorong kemandirian benih bawang merah untuk menekan biaya produksi.
"Kemudian ada usulan bahwa sudah saatnya kita swasembada benih, agar dapat dikurangi biaya produksi pertanian bawang merah kita dengan swasembada benih bawang merah itu. Jadi kita memerlukan instalasi pembenihan bawang merah," tambah Halim.
Bagi petani, tingginya produktivitas belum sepenuhnya menghilangkan persoalan di tingkat usaha tani. Karena itu, berbagai aspirasi tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian Kementerian Pertanian, terutama terkait infrastruktur pertanian, alsintan, pupuk, fasilitas penyimpanan, teknologi, hingga kemandirian benih.
Di sisi lain, capaian produksi bawang merah Bantul menunjukkan bahwa dukungan terhadap petani dapat menghasilkan produktivitas sekaligus memberikan dampak ekonomi yang besar bagi daerah. Halim menegaskan apresiasinya terhadap para petani yang terus meningkatkan produksi bawang merah.
"Bawang merah Bantul ini terbukti hebat, diminati oleh para konsumen, dan bisa diserap oleh pasar kita," pungkasnya.


















