Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

14 Tahun UUK DIY, Pemda Ajak Masyarakat Merawat Keistimewaan DIY

Kota Yogyakarta
14 Tahun UUK DIY, Pemda Ajak Masyarakat Merawat Keistimewaan DIY
Konferensi pers Memetri Kaistimewan, di Yogyakarta, Jumat (12/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Pemda DIY memperingati 14 tahun UUK DIY melalui Memetri Kaistimewan, sebagai ajakan merawat nilai keistimewaan agar hadir dalam perilaku, karya, pembangunan, dan kehidupan masyarakat.
  • Rangkaian kegiatan menghadirkan seni tradisional, teknologi VR tata ruang, workshop budaya dan edukasi, layanan publik, UMKM, serta pertunjukan musik lintas genre yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
  • Momentum 14 tahun UUK DIY juga menjadi evaluasi pelaksanaan keistimewaan, mencakup budaya, ekonomi, layanan publik, pertanahan, dan tata ruang melalui kolaborasi pemerintah serta masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Yogyakarta, IDN Times — Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY) memasuki usia 14 tahun. Momentum ini diperingati Pemerintah Daerah (Pemda) DIY melalui rangkaian kegiatan bertajuk Memetri Kaistimewan.

Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan mengatakan peringatan tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni untuk menandai perjalanan UUK DIY. Memetri Kaistimewan menjadi ruang untuk mengajak masyarakat kembali melihat, mengenal, sekaligus merawat nilai-nilai yang menjadi bagian dari keistimewaan Yogyakarta.

  1. 1. Memetri Kaistimewan jadi ajakan merawat nilai keistimewaan

    Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Kurniawan menjelaskan, kata memetri dimaknai sebagai upaya merawat, menjaga, dan menghidupkan sesuatu yang dianggap bernilai. Karena itu, Memetri Kaistimewan tidak ditempatkan sebatas peringatan usia UUK DIY.

    "Memetri Kaistimewan bukan semata-mata tentang memperingati usia UUK DIY. Peringatan ini menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana keistimewaan hadir dan dirasakan dalam kehidupan masyarakat," kata Kurniawan, saat konferensi pers di Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).

    Tahun ini, Memetri Kaistimewan mengusung tema "Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad". Tema tersebut menjadi pengingat bahwa pelaksanaan keistimewaan pada akhirnya harus bermuara pada kehidupan masyarakat yang semakin baik.

    Menurut Kurniawan, keistimewaan tidak cukup dipahami sebagai warisan sejarah. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku, karya, pembangunan, serta berbagai bentuk kontribusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. "Karena itu, kami melihat keistimewaan sebagai kerja bersama," ujarnya.

    Pemerintah memiliki tanggung jawab melalui kebijakan, pelayanan, dan program yang berkaitan dengan kewenangan keistimewaan. Namun, masyarakat, komunitas, pelaku budaya, pelaku usaha, akademisi, dan generasi muda juga memiliki peran agar keistimewaan tetap hidup dan relevan.

  2. 2. Seni, budaya, teknologi, dan layanan publik hadir di tengah masyarakat

    Konferensi pers Memetri Kaistimewan, di Yogyakarta, Jumat (12/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Konferensi pers Memetri Kaistimewan, di Yogyakarta, Jumat (12/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Rangkaian Memetri Kaistimewan dibuka di Lapangan Paseban, Bantul, pada Sabtu (15/8/2026). Pemda DIY menghadirkan peringatan keistimewaan dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat. Sejumlah kesenian tradisional ditampilkan, seperti Jathilan dan Toneel Kaistimewan, yang mengangkat keberagaman kabupaten dan kota di DIY. Ada pula senam bersama bagi lansia sebagai ruang partisipasi masyarakat.

    Tidak hanya seni dan budaya, teknologi juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Masyarakat dapat mengenal tata ruang melalui VR Tata Ruang dengan pengalaman yang lebih interaktif. Berbagai workshop edukasi turut digelar, di antaranya Workshop Bahasa Isyarat Indonesia, Mewiru Jarik, Membuat Dluwang, dan klinik aksara.

    Layanan untuk masyarakat juga dihadirkan, mulai layanan kependudukan, literasi, kesehatan, hingga keterlibatan pelaku UMKM. Kehadiran UMKM diharapkan turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

    Rangkaian kemudian berlanjut pada puncak Memetri Kaistimewan di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026). Salah satu kegiatannya yakni Kenduri Kaistimewan yang diisi Kirab Budaya, Tari Ritual Memetri Kaistimewan, Umbul Donga, potong tumpeng, hingga Kembul Bujana Memetri Kaistimewan.

    “Penutupan rangkaian digelar di Teras Malioboro Beskalan, Sabtu (12/9/2026). Masyarakat kembali diajak mengikuti workshop budaya, seperti Mewiru Jarik, Wayang Suket, dan Membuat Dluwang,” ujar Kurniawan.

    Sementara itu, Swaraning Kaistimewan menjadi ruang ekspresi melalui musik. Beragam genre ditampilkan, mulai dari pop, keroncong, reggae, band religi, hingga musik disabilitas. Penampilan tersebut melibatkan peserta dari kabupaten dan kota se-DIY dengan lintas usia, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas. Rangkaian ditutup secara simbolik dengan pembunyian otok-otok secara bersama-sama.

  3. 3. Setelah 14 tahun, pelaksanaan keistimewaan makin dekat dengan masyarakat

    Konferensi pers Memetri Kaistimewan, di Yogyakarta, Jumat (12/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Konferensi pers Memetri Kaistimewan, di Yogyakarta, Jumat (12/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Memasuki 14 tahun perjalanan UUK DIY, Pemda DIY juga menjadikan momentum ini sebagai ruang evaluasi. Kurniawan mengatakan masih ada berbagai hal yang perlu diperbaiki agar pelaksanaan keistimewaan semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Ke depan, pelaksanaan keistimewaan diharapkan tidak hanya kuat dari sisi kebudayaan, tetapi juga berjalan bersama pengembangan pengetahuan, penguatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik, pertanahan, tata ruang, serta bidang lain yang menjadi kewenangan keistimewaan.

    "14 tahun UUK DIY juga menjadi momentum bagi kami untuk terus melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki," kata Kurniawan.

    Ia menegaskan, berakhirnya rangkaian Memetri Kaistimewan bukan berarti proses merawat keistimewaan ikut selesai. Justru, semangat tersebut perlu diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.

    Kurniawan juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan, mulai dari OPD Pemda DIY, pemerintah kabupaten/kota, komunitas, pelaku UMKM, seniman, akademisi, media, hingga masyarakat.

    Dukungan turut diberikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil bagian dalam Memetri Kaistimewandengan mengangkat nilai-nilai luhur sebagai bagian dari fondasi keistimewaan DIY. "Penutupan ini bukan berarti proses memetri juga selesai. Justru setelah rangkaian peringatan berakhir, semangat untuk merawat keistimewaan perlu terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Kurniawan.

    Ia berharap semangat tersebut dapat menjaga Yogyakarta tetap memiliki akar budaya yang kuat sekaligus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More