Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cuaca di Indonesia Menyengat, Dosen UGM Ingatkan Heat Stoke
ilustrasi panas terik (freepik.com/freepik)
  • Kenaikan suhu rata-rata di Indonesia meski kecil berdampak besar pada kesehatan, meningkatkan risiko heat stress hingga heat stroke yang bisa berujung fatal bila tak segera ditangani.
  • Penelitian UGM menunjukkan kenaikan suhu mingguan 1°C berkorelasi dengan peningkatan 15,5% kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer di Yogyakarta.
  • Aditya Lia Ramadona menekankan pentingnya perubahan perilaku, penyesuaian jam kerja luar ruangan, serta perlindungan kelompok rentan melalui edukasi dan penyediaan ruang teduh komunitas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Panas yang melanda Indonesia menjadi ancaman seriu. Meski kenaikan suhu rata-rata di Indonesia hanya sekitar 0,5 derajat Celsius dan tampak kecil, dampaknya terhadap tubuh manusia terasa signifikan. Kondisi iklim tropis yang lembap, ditambah peningkatan suhu akibat perubahan iklim, meningkatkan risiko terjadinya heat stress (serangan stres) yang dapat berujung pada heat stroke atau serangan panas.

Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM, Aditya Lia Ramadona, Ph.D., menjelaskan heat stroke merupakan bentuk gangguan kesehatan paling berat akibat paparan panas. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tak mampu mengendalikan suhu sehingga mengganggu fungsi organ maupun otak.

Gejalanya meliputi suhu tubuh yang sangat tinggi, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Apabila tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berujung pada kematian. “Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak,” kata Ramadona, Sabtu (11/7/2026).

1. Anggap panas merupakan hal biasa

Cuaca panas di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Menurut Ramadona, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap heat stroke dipengaruhi oleh faktor. Salah satunya anggapan cuaca panas merupakan hal yang wajar karena masyarakat Indonesia hidup di wilayah beriklim tropis.

"Padahal, peningkatan suhu yang tampak kecil sekalipun dapat berdampak besar terhadap kesehatan. Ia mengungkapkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkorelasi dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer. Riset heat-health menunjukkan bahwa kenaikan suhu kecil saja dapat meningkatkan beban layanan kesehatan. "Studi kami di Yogyakarta menemukan kenaikan 1°C suhu rata-rata mingguan berasosiasi dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu-anak di layanan primer,” ungkapnya.

2. Cara minimalkan panas

ilustrasi panas siang hari (freepik.com/freepik

Ramadona menambahkan menghadapi dampak panas ekstrem, masyarakat perlu membiasakan diri mencukupi kebutuhan cairan, mengenakan pakaian yang ringan, menghindari aktivitas fisik berat pada siang hari, mencari tempat teduh, serta mengenali gejala awal heat stress.

“Perubahan perilaku individu penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya strategi. Risiko panas juga dipengaruhi oleh kualitas rumah, kepadatan permukiman, ruang hijau, jenis pekerjaan, akses terhadap air minum, listrik, sistem pendinginan, hingga kesiapan fasilitas kesehatan,” ujarnya.

3. Perlindungan pekerja luar ruangan

ilustrasi tukang bangunan (pexels.com/illustrate Digital Ug)

Terkait perlindungan pekerja luar ruangan, Ramadona menegaskan pendekatan yang diperlukan bukan melarang masyarakat bekerja, melainkan menciptakan kondisi kerja tetap aman tanpa mengorbankan mata pencaharian. Upaya yang dapat dilakukan antara lain menyesuaikan jam kerja agar aktivitas berat dilakukan pada pagi atau sore hari, menyediakan waktu istirahat terjadwal di tempat teduh, memastikan ketersediaan air minum dan elektrolit, serta menerapkan sistem saling mengawasi antarrekan kerja untuk mengenali gejala heat stroke sedini mungkin.

Sementara itu, kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penyandang penyakit kronis memerlukan pendekatan yang lebih proaktif melalui edukasi, pemantauan kondisi kesehatan, peningkatan ventilasi rumah, hingga penyediaan ruang teduh di tingkat komunitas. Ramadona kembali mengingatkan bahwa lansia justru banyak terpapar panas di dalam rumah sehingga intervensi tidak boleh hanya difokuskan pada aktivitas luar ruangan

Curated For You

Editorial Team

Related Article