Gagat mengingatkan seluruh jajaran, mulai dari koordinator wilayah, koordinator kecamatan, kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas keuangan hingga seluruh personel SPPG untuk menjaga etika komunikasi.
Ia menilai setiap pernyataan yang disampaikan di ruang publik dapat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan Program MBG secara keseluruhan.
Hal tersebut, kata dia, sejalan dengan pentingnya penguatan tata kelola dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), terutama setelah berbagai kejadian keamanan pangan menjadi perhatian publik.
“Kami mengajak seluruh jajaran untuk saling menghormati. Ketika ada saudara kita, penerima manfaat, atau masyarakat yang diduga terdampak suatu kejadian, respons pertama kita seharusnya adalah empati, bukan menghakimi. Jadikan setiap kejadian sebagai pembelajaran untuk memperbaiki pelayanan dan memperkuat pencegahan,” kata dia.
Gagat menambahkan BGN tetap menghormati proses pemeriksaan dan pembuktian terhadap setiap kejadian. Fokus seluruh jajaran, menurutnya, harus diarahkan pada memastikan keamanan pangan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mencegah kejadian serupa melalui penerapan SOP secara konsisten.
“Kita bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari jaga bukan hanya kualitas makanan yang kita berikan, tetapi juga cara kita memperlakukan dan berkomunikasi dengan masyarakat. Sensitif terhadap keadaan, empati terhadap yang terdampak, dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita,” kata dia.