Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Belum Tumbuh Pesat, LPS Sebut Perbankan Syariah Perlu Banyak Supply
Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah 2026 dengan tajuk Ekonomi Syariah (Tidak) Efisien dan (Tidak) sesuai Prinsip Syariah, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Sabtu (28/2/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Ketua Dewan Komisioner LPS, Prof. Anggito Abimanyu, menyoroti masih rendahnya supply bank syariah di Indonesia meski kontribusinya naik dari 5 persen menjadi 9 persen sejak 2022.
  • Anggito menilai perkembangan bank syariah terhambat karena modal kecil dan terbatasnya ekspansi, sehingga perlu langkah anorganik seperti merger untuk memperkuat supply dan layanan.
  • Survei SNLIK 2025 menunjukkan literasi keuangan syariah 43,42 persen dan inklusi 13,41 persen, jauh di bawah konvensional, menandakan perlunya peningkatan akses serta teknologi perbankan syariah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof. Anggito Abimanyu menyebut baru dua bank syariah yang berkembang hingga saat ini. Supply yang masih rendah dinilai menjadi penyebabnya.

Anggito mengatakan saat ini baru Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Syariah Nasional (BSN) yang cukup berkembang. Kontribusi bank syariah yang sebelumnya hanya 5 persen bagi industri, sejak tahun 2022 mengalami kenaikan menjadi 9 persen. “Jadi sudah terjadi kenaikan cukup besar ya kontribusinya,” ujar Anggito, seusai agenda Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah 2026 dengan tajuk Ekonomi Syariah (Tidak) Efisien dan (Tidak) sesuai Prinsip Syariah, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Sabtu (28/2/2026).

1. Supply bank syariah masih kurang

Ilustrasi Bank. (IDN Times/Aditya Pratama)

Anggito mengungkapkan meski bank syariah mengalami kenaikan kontribusi, tapi belum mencapai angka ideal. Ia menyebut ideal untuk kontribusi bank syariah semestinya bisa masuk ke angka 20 persen. “Supaya bank syariah itu bisa lebih berkembang,” kata Anggito. 

Anggito mengatakan yang menjadi persoalan saat ini adalah supply bank syariah masih kurang. Bisnis dari bank syariah menurutnya masih kurang. Meski demikian hal tersebut juga tidak bisa dipaksakan.

“Jadi harus pelan-pelan. Kalau dia nggak bisa dijangkau oleh publik, ya harus pakai teknologi. Jadi saya kira, saya sudah melihat on the track ya. Khususnya dalam 5 tahun terakhir,” ungkap Anggito.

2. Sulit berkembang jika modal kecil

Ilustrasi bank (freepik.com/macrovector)

Guru Besar UGM itu mengatakan jika bank syariah hanya memiliki modal kecil, dinilai akan sulit memberikan layanan. “Jadi harus ada upaya menambah supplynya. Contohnya tadi, BSI, kemudian sekarang BSN, itu kan (hasil) merger,” kata Anggito.

Anggito menilai jika ada cara-cara yang sifatnya anorganik untuk menambah supply, bank syariah akan berkembang. Namun, jika hanya mengikuti jalannya pasar, akan lambat untuk bank syariah berkembang.

3. Tingkat literasi dan inklusi bank syariah

Ilustrasi bank (Pixabay)

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025 indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,42 persen dan inklusi 13,41 persen. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan konvensional yang mencapai 66,46 persen untuk literasi dan 79,71 persen untuk inklusi.

“Kalau syariah itu literasinya kuat, inklusinya nggak kuat. Jadi memang tahu bahwa ada transaksi bank syariah, tapi memang supply-nya kurang. E-bankingnya belum bagus, pricingnya masih tinggi, kalau mau pembiayaan masih mahal, mau cari jaringannya sulit. Jadi itu memang nggak bisa dipaksakan, (perlu) adanya upaya yang sifatnya anorganik,” kata Anggito.

Editorial Team