Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pakar UMY Bagikan Cara Mahasiswa Baru Hadapi Tekanan Saat Kuliah
Ilustrasi mahasiswa baru yang sedang melakukan daftar ulang universitas secara online (pexels.com/Bimbim Sindu)
  • Dosen Psikologi UMY, Cahyo Setiadi Ramadhan, menyebut tekanan yang dialami mahasiswa baru saat memasuki dunia perkuliahan merupakan respons yang wajar karena mereka harus beradaptasi dengan sistem belajar, lingkungan sosial, hingga kehidupan yang lebih mandiri.

  • Menurut Cahyo, generasi Z bukan lebih lemah secara mental, tetapi menghadapi tantangan berbeda akibat perkembangan media sosial yang dapat memicu kebiasaan membandingkan diri, FOMO, dan kecemasan.

  • Mahasiswa baru disarankan memanfaatkan masa orientasi untuk beradaptasi, mempertahankan rutinitas positif, membangun relasi, serta menjaga komunikasi dengan keluarga, sementara orang tua dan kampus perlu bersama-sama mendukung proses transisi tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Memasuki dunia perkuliahan menjadi fase penyesuaian yang menantang bagi mahasiswa baru. Dalam waktu yang hampir bersamaan, mereka dituntut beradaptasi dengan sistem pembelajaran, lingkungan pergaulan yang berbeda, hingga menjalani kehidupan secara lebih mandiri.

Proses transisi tersebut berpotensi memicu tekanan psikologis apabila tidak dikelola dengan baik. Apalagi, kondisi ini kerap dialami mahasiswa yang untuk pertama kalinya tinggal jauh dari keluarga dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Lantas, bagaimana menyiasati tekanan tersebut agar survive beradaptasi dengan dunia perkuliahan? Simak pendapat dari pakar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berikut ini.

Tekanan yang dirasakan adalah respons yang wajar

Dosen Program Studi Psikologi UMY, Cahyo Setiadi Ramadhan, mengatakan tekanan yang dirasakan mahasiswa baru merupakan respons yang wajar terhadap berbagai perubahan yang terjadi dalam waktu bersamaan.

Menurut Cahyo, mahasiswa tidak hanya perlu beradaptasi dengan pola pembelajaran di perguruan tinggi, tetapi juga membangun relasi sosial, mengatur waktu secara mandiri, serta menghadapi tuntutan akademik yang berbeda dibandingkan saat masih bersekolah.

“Perubahan dari lingkungan sekolah menuju lingkungan kampus membawa banyak penyesuaian. Mahasiswa bertemu teman dari berbagai daerah dan berada di lingkungan yang jauh lebih besar. Bagi mereka yang belum pernah merantau, proses adaptasi juga mencakup penyesuaian dengan tempat tinggal baru,” kata Cahyo, Jumat (24/7/2026), dilansir laman UMY.

“Berbagai perubahan itu tentu dapat menjadi tekanan. Namun, apakah tekanan tersebut berkembang menjadi masalah psikologis atau tidak sangat bergantung pada resiliensi, pengalaman, dan cara seseorang menyikapinya,” tambah dia.

Tantangan bagi Gen Z

Ilustrasi mahasiswa baru yang akan menjalani perkuliahan (pexels.com/Phạm Anh)

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, generasi Z kerap dinilai lebih rentan mengalami tekanan dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, Cahyo menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena kondisi psikologis setiap orang dipengaruhi berbagai faktor.

Menurutnya, lingkungan keluarga, pola asuh, pengalaman hidup, kemampuan mengelola emosi, hingga dukungan sosial turut memengaruhi cara seseorang menghadapi tekanan.

Ia menjelaskan, generasi Z tumbuh di tengah pesatnya perkembangan internet dan media sosial. Kondisi itu menghadirkan tantangan tersendiri, termasuk kecenderungan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain.

Kebiasaan tersebut dapat memicu fear of missing out (FOMO), perasaan tertinggal, hingga kecemasan, terutama saat mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru.

“Media sosial membuat seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Pikiran seperti, ‘Mengapa teman saya sudah seperti itu, sementara saya belum?’ dapat meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan,” jelasnya.

“Namun, hal tersebut bukan berarti generasi Z lebih lemah. Mereka hanya menghadapi dinamika dan tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya,” tegas Cahyo.

Saran bagi mahasiswa baru

Cahyo menilai masa orientasi seharusnya dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus, membangun relasi sosial, dan memahami kehidupan akademik. Menurutnya, kegiatan orientasi tidak semestinya menjadi sumber tekanan yang justru menghambat proses adaptasi mahasiswa.

Ia juga menyarankan mahasiswa baru mempertahankan kebiasaan positif yang telah dijalani, seperti berolahraga, menekuni hobi, beribadah, beristirahat dengan cukup, serta menjaga komunikasi dengan keluarga dan orang terdekat. Menurut Cahyo, rutinitas tersebut dapat membantu mahasiswa menjaga kestabilan diri saat menghadapi berbagai perubahan.

“Kebiasaan baik dapat menjadi jangkar ketika menghadapi perubahan. Selain itu, jangan ragu membangun pertemanan baru dan tetap berkomunikasi dengan orang tua, terutama pada masa-masa awal kuliah,” ujarnya.

Cahyo menambahkan, dukungan keluarga tetap dibutuhkan meski mahasiswa mulai belajar hidup mandiri. Di sisi lain, orang tua juga perlu memberi ruang agar anak dapat mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan membangun kemandirian secara bertahap.

“Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sambil tetap memberikan dukungan. Proses ini akan lebih optimal apabila kampus dan keluarga bersama-sama mendampingi mahasiswa menjalani masa transisinya,” tutupnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article