Konferensi pers Memetri Kaistimewan, di Yogyakarta, Jumat (12/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Rangkaian Memetri Kaistimewan dibuka di Lapangan Paseban, Bantul, pada Sabtu (15/8/2026). Pemda DIY menghadirkan peringatan keistimewaan dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat. Sejumlah kesenian tradisional ditampilkan, seperti Jathilan dan Toneel Kaistimewan, yang mengangkat keberagaman kabupaten dan kota di DIY. Ada pula senam bersama bagi lansia sebagai ruang partisipasi masyarakat.
Tidak hanya seni dan budaya, teknologi juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Masyarakat dapat mengenal tata ruang melalui VR Tata Ruang dengan pengalaman yang lebih interaktif. Berbagai workshop edukasi turut digelar, di antaranya Workshop Bahasa Isyarat Indonesia, Mewiru Jarik, Membuat Dluwang, dan klinik aksara.
Layanan untuk masyarakat juga dihadirkan, mulai layanan kependudukan, literasi, kesehatan, hingga keterlibatan pelaku UMKM. Kehadiran UMKM diharapkan turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.
Rangkaian kemudian berlanjut pada puncak Memetri Kaistimewan di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026). Salah satu kegiatannya yakni Kenduri Kaistimewan yang diisi Kirab Budaya, Tari Ritual Memetri Kaistimewan, Umbul Donga, potong tumpeng, hingga Kembul Bujana Memetri Kaistimewan.
“Penutupan rangkaian digelar di Teras Malioboro Beskalan, Sabtu (12/9/2026). Masyarakat kembali diajak mengikuti workshop budaya, seperti Mewiru Jarik, Wayang Suket, dan Membuat Dluwang,” ujar Kurniawan.
Sementara itu, Swaraning Kaistimewan menjadi ruang ekspresi melalui musik. Beragam genre ditampilkan, mulai dari pop, keroncong, reggae, band religi, hingga musik disabilitas. Penampilan tersebut melibatkan peserta dari kabupaten dan kota se-DIY dengan lintas usia, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas. Rangkaian ditutup secara simbolik dengan pembunyian otok-otok secara bersama-sama.