Kulit buah buahan segar untuk bahan fermentasi.(Daruwaskita)
Untuk proses fermentasi menjadi eco-enzyme setidaknya dibutuhkan waktu minimal 3 bulan baru bisa dipanen. Pada minggu pertama dicek tempat fermentasi untuk melihat dan baunya masih bagus atau tidak kemudian ditutup kembali tempat fermentasi tersebut.
Satu bulan setelahnya, hasil fermentasi kembali dicek apakah masih bagus atau tidak dengan membau masih ada aroma asam atau tidak. Jika terdapat belatung saat proses fermentasi, maka eco-enzyme tidak bisa digunakan untuk produk kesehatan dan hanya untuk produk pertanian seperti pupuk.
"Ketika masih bagus maka ditutup kembali dan dua bulan lagi baru bisa dipanen eco enzyme-nya. Alhamdulillah hasil panen eco-enzyme sangat bagus," ungkapnya.
Menurutnya, setelah proses fermentasi pertama maka untuk fermentasi kedua sudah bisa dimanfaatkan untuk membuat produk-produk kesehatan seperti hand sanitizer, obat sakit gigi, obat gatal-gatal. Namun, produk kesehatan dari eco-enzyme ini hanya berupa obat luar, tidak ada yang diminum.
"Kalau untuk obat sakit gigi dan sariawan bisa melakukan fermentasi kedua yakni eco-enzyme dicampur dengan biji suruh dan dalam waktu 20 menit saya praktekkan sendiri rasa sakit berkurang banyak," ungkapnya.
"Selama bulan Januari hingga saat ini sudah lebih dari satu ton kulit buah-buahan hingga sayuran yang masih segar telah kita fermentasi dan menghasilkan eco-enzyme. Namun eco-enzyme untuk dibuat produk turunannya harus menggunakan kulit buah-buahan yang masih segar," tambahnya lagi.
Lebih jauh, Slamet mengatakan untuk hasil fermentasi pertama dari kulit buah-buahan yang segar dan menghasilkan eco-enzyme tidak dijual. Namun, produk turunannya bisa dijual kepada masyarakat luas, seperti pupuk tanaman, obat gatal-gatal,obat sakit gigi, bahkan obat oles untuk ternak yang terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).
"Jadi eco-enzyme ini manfaatnya sangat banyak, mengurangi sampah yang ada di lingkungan sekitar dan yang jelas ramah lingkungan karena seluruh bahannya organik," pungkasnya.