Viral Penghuni Kos di Sleman Tinggalkan Tumpukan Sampah di Kamar

- Kamar kos penghuni berinisial F di Condongcatur, Sleman, ditemukan dipenuhi sampah setelah pihak kos membuka paksa pintu pada 16 Agustus saat pembersihan rutin.
- Sampah dari kamar berukuran sekitar 3x4 meter mencakup botol plastik, kemasan, barang rusak, kandang kucing, hingga botol urine; pengelola mengeluarkan empat sampai lima kantong besar.
- F, penghuni sekitar enam tahun, tak merespons komunikasi setelah mengabarkan kemungkinan pindah. Pihak kos menanggung biaya penanganan dan berencana melakukan inspeksi kamar berkala.
Sleman, IDN Times - Sebuah unggahan menunjukkan kondisi kamar seorang penghuni rumah kos di kawasan Condongcatur, Sleman, DIY, yang dipenuhi tumpukan sampah viral di media sosial.
Dalam unggahan tersebut, terlihat seorang pria mengenakan masker dan sarung tangan membersihkan sampah dari kamar tersebut. Sampah yang dikeluarkan antara lain botol plastik, bekas kemasan, peralatan elektronik, dan berbagai barang lainnya.
Di luar kamar, sampah yang telah dikeluarkan terlihat mencapai sekitar lima kantong plastik besar. Diketahui, rumah kos tersebut berada di kawasan Condongcatur, Sleman, tepatnya di daerah belakang UPN Yogyakarta. Sang pemilik kos, Ade Roberta, kemudian membeberkan kronologi kejadian tersebut.
Menurut Ade, kondisi kamar yang penuh sampah itu baru diketahui pada pertengahan Agustus. Saat itu, Ade sedang berada di Jakarta sehingga pengelolaan kos sementara diserahkan kepada saudara sepupunya.
Kronologi gunungan sampah terungkap
Informasi mengenai kondisi kamar tersebut bermula dari sepupu Ade. Pada awal Agustus, sepupunya yang baru pulang kerja sempat melihat kendaraan seperti truk pikap berada di sekitar kos dan diduga sedang mengambil barang. Namun, saat itu ia tidak terlalu memikirkannya.
Tidak lama kemudian, penghuni kamar berinisial F menyampaikan bahwa dirinya kemungkinan tidak melanjutkan sewa. Ia mengaku akan pindah karena mendapat beasiswa sekolah di Australia.
Namun, ketika dikonfirmasi kembali, F mengatakan masih berada di kos selama Agustus dan barang-barangnya masih ada di kamar. Karena itu, Ade dan sepupunya mengira F masih akan menyelesaikan masa sewanya hingga akhir Agustus.
"Asumsinya kan Agustus masih bayar sewa, mungkin September mau keluar gitu kan ya. Kami menangkapnya begitu kalau misalkan memang sudah selesai Agustus, kita mau sewakan ke yang lain gitu loh. Terus dipastikan lagi sama sepupu saya, ‘Jadi di situ udah enggak ada barang atau bagaimana?’ gitu. ‘Masih ada kok, baju-baju saya masih ada di situ.’ Ya okelah ya karena akhir Agustus ini masih sewa," kata Ade, Jumat (20/8/2026) malam.
Setelah itu, komunikasi dengan F tidak lagi berjalan. Pihak kos juga sempat berusaha menghubungi F selama sekitar satu minggu untuk memastikan apakah ia masih akan melanjutkan sewa. Namun, pesan dan upaya komunikasi tersebut tidak mendapat respons.
Sampai akhirnya pada 16 Agustus, pihak kos melakukan kegiatan pembersihan rutin. Pada hari tersebut, petugas kebersihan datang sekitar pukul 06.00-06.30 WIB.
"Tanggal 16 itu memang rencananya jadi ada sebulan sekali kami itu panggil ya sejenis cleaning service untuk bersihkan semua area kosan gitu lah," katanya.
Selain pembersihan, saat itu juga terdapat pekerjaan perbaikan di area kos. Ketika melakukan pemeriksaan, sepupu Ade teringat bahwa kamar F biasanya memiliki gembok tambahan yang dipasang sendiri. Kamar-kamar lain tidak menggunakan gembok tambahan tersebut.
Menurut Ade, hal itu sebelumnya tidak menimbulkan kecurigaan karena F merupakan salah satu penghuni paling lama di kos tersebut. Ia telah tinggal selama sekitar enam tahun.
Namun, saat itu sepupu Ade melihat pintu kamar F tidak lagi terkunci dengan gembok tambahan seperti biasanya. Pintu kemudian diketuk, tetapi tidak ada respons.
"Biasanya kalau digembok jelas pasti orangnya enggak ada gitu. Nah ini, iya. Nah ini tuh kok enggak ada (gemboknya). Tapi digedor juga enggak nyaut. Udah pasti orangnya enggak ada nih. Terus kata sepupu saya, ‘Udah deh, kita ini aja lah, didobrak aja,’ gitu," kata Ade.
Karena F tidak dapat dihubungi dan tidak memberikan respons saat pintu diketuk, pihak kos akhirnya memutuskan membuka pintu kamar secara paksa.
Sampah plastik, kandang kucing hingga botol urine
Di dalam kamar berukuran sekitar 3x4 meter itu, pihak kos menemukan tumpukan sampah dalam jumlah sangat banyak. Ade mengatakan sampah tersebut sebagian besar bukan sampah basah sehingga tidak menimbulkan bau menyengat dan selama ini tidak memunculkan kecurigaan.
"Jadi seperti ini loh, kayak botol plastik, kasur, ya kasur-kasur yang udah rusak, kipas angin rusak, kandang kucing. Bahkan sorry ya, ada air kencing di dalam botol pun ada, dan itu banyak," ungkap Ade.
Sampah yang dikeluarkan dari kamar saat itu mencapai sekitar empat hingga lima kantong plastik besar. Jumlah tersebut pun belum mencakup seluruh sampah yang masih berada di dalam kamar.
Setelah mengetahui kondisi kamar, pihak kos kembali berusaha menghubungi F dan meminta pertanggungjawaban. Pesan WhatsApp disebut masuk, tetapi tidak mendapatkan respons.
Menurut Ade, kejadian tersebut juga menimbulkan kerugian bagi pihak kos karena harus mengeluarkan biaya untuk menangani kondisi kamar.
Setelah kejadian tersebut, penghuni lain baru menceritakan bahwa F memang dikenal tertutup dan jarang berinteraksi dengan penghuni kos lainnya. Ia juga hampir tidak pernah menerima kunjungan saudara maupun teman.
Selama tinggal di kos, F tidak pernah bermasalah dalam pembayaran maupun perilaku di lingkungan kos. F juga tidak menunjukkan perilaku yang membuat pihak pengelola curiga. Dari luar, ia justru terlihat menjaga kebersihan diri.
Ade mengatakan kondisi tersebut membuat pihak kos tidak pernah menduga kamar F menyimpan tumpukan sampah dalam jumlah besar.
Pihak kos juga mengaku kesulitan mengetahui lebih jauh mengenai F karena ia merupakan penghuni lama dan data identitasnya tidak lagi berada dalam pegangan pengelola.
Berdasarkan informasi dari penghuni lain, Ade juga menduga F memiliki tempat tinggal lain karena tidak setiap hari menginap di kos.
Ogah lagi kecolongan, buat sidak kamar kos
Setelah kejadian tersebut, Ade mengatakan pihak keluarga akan membenahi sistem pengawasan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Salah satu rencana yang dipertimbangkan adalah melakukan pemeriksaan kamar secara berkala.
Karena pengelolaan kos selama ini dititipkan kepada saudara, pihak keluarga menilai pengawasan langsung perlu ditingkatkan. Kos tersebut merupakan kos non-AC dan tidak memiliki kamar mandi di dalam kamar, sehingga pemilik menilai pemeriksaan kondisi kamar secara berkala memungkinkan dilakukan.
"Jadi sebenarnya kalau ke depan ya udah akhirnya kami putuskan kalau memang mau 2 bulan sekali, 3 bulan sekali mau dipantau, sidak oleh pemilik enggak apa-apa, enggak usah cari alasan apa-apa, ya memang kita mau mau lihat kondisi gitu aja, gitu iya. Pembersihan rutin aja gitu," imbuh dia.
Ade mengaku tidak menyangka dokumentasi kondisi kamar tersebut akan menjadi viral. Ia berharap kejadian tersebut setidaknya menjadi pelajaran agar hal serupa tidak kembali terjadi.
"Ya supaya enggak kejadian lagi. Supaya nyampe ke orangnya juga nih semoga, kalau kayak gini. Paling enggak sadar, gitu," pungkasnya.

















