Yogyakarta, IDN Times - Sebuah benda asing bercahaya kehijau-hijauan yang melintasi langit malam Yogyakarta dipastikan sebagai meteor. Video benda asing melintas di langit Yogyakarta itu sebelumnya telah viral di media sosial.
Viral Benda Asing di Langit Jogja, Dipastikan Meteor

1. Meteor terang alias fireball
Astronom amatir Marufin Sudibyo memastikan benda asing terekam dalam video tersebut sebuah meteor terang alias fireball yang melintas dari selatan ke utara. "Ketampakan ini adalah meteor terang atau fireball," kata Marufin, Minggu (5/5/2024).
Menurutnya, meteor ini tak cuma terpantau di langit Yogyakarta. Beberapa saksi di sisi timur hingga utara DIY juga melihat benda serupa. "Dari laporan terpantau juga di kawasan Jogja, Solo Raya, Magelang dan Semarang," bebernya.
2. Lebih terang dari Venus
Marufin merinci, fireball ini tertangkap kamera tanpa memiliki titik spike atau hanya mempunyai ciri khas pemecah-belahan alias fragmentasi saat memasuki atmosfer bumi.
Meteor dengan kasaran magnitudo -6 hingga -7 itu, lanjut Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah PBNU tersebut, juga tak menghasilkan dentuman suara atau sonic boom.
"Pada puncaknya meteor terang ini 20 kali lebih terang dibanding Venus," imbuhnya.
Berdasarkan laporan saksi, meteor ini terlihat dalam kawasan yang cukup luas. Meteor ini terpantau mulanya dari ketinggian 100 kilometer dan berakhir pada ketinggian 50 kilometer dari permukaan bumi.
3. Bukan Eta Aquarids
Lebih lanjut, Marufin turut memastikan bahwa meteor ini bukanlah bagian dari Eta Aquarids. Fenomena langit berupa hujan meteor itu diperkirakan mencapai puncaknya baru pada 5 dan 6 Mei 2024.
"Karena lintasannya dari Selatan dan terlihat sebelum tengah malam, meteor terang ini bukan meteor Eta Aquarids," jelasnya.
Sedangkan warna hijau pada ekor meteor, kata Marufin, itu adalah indikasi adanya konsentrasi Nikel tinggi. Marufin memperkirakan jika meteor ini merupakan pecahan asteroid berdiameter sekitar 30 centimeter. Dia memastikan fenomena ini nihil dampaknya bagi bumi.
"Meteor semalam itu tidak ada sisanya dan ini normal terjadi rata-rata 200 jam sekali secara global. Dampak ke bumi tidak ada, karena bumi sudah biasa menerima hujan meteor rata-rata 44 ton per hari," tutupnya.