Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tiyo Ardianto: Kepercayaan Publik terhadap Prabowo-Gibran Sudah Hilang
Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Tiyo Ardianto menilai aksi Rakyat Memanggil di Gejayan mencerminkan hilangnya kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran dan menjadi sinyal perlunya evaluasi serius dari keduanya.
  • Ia mengkritik sikap pemerintah yang menolak kritik terkait UU TNI dan program Makan Bergizi Gratis, karena dianggap mempercepat turunnya legitimasi kekuasaan.
  • Tiyo juga menyoroti kebijakan anggaran yang lebih fokus pada program MBG dibanding peningkatan kualitas pendidikan, padahal konstitusi mewajibkan prioritas pada sektor pendidikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times – Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menilai aksi Rakyat Memanggil di Pertigaan Gejayan, Sleman, Sabtu (13/6/2026), merupakan sinyal kuat menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Prabowo–Gibran didesak untuk segera melakukan evaluasi.

“Bagaimana mungkin presiden yang baru berkuasa, belum ada dua tahun, sudah diminta turun oleh ribuan, bahkan mungkin jutaan orang. Ini tanda yang begitu bahaya,” ujar Tiyo.

Menurutnya, desakan tersebut tidak muncul tanpa sebab. Ia menilai publik mulai merasakan berbagai persoalan yang dianggap sebagai “kerusakan luar biasa”, sehingga kepercayaan rakyat kepada pemerintah semakin memudar. “Kepercayaan rakyat sudah hilang, sudah pudar luar biasa,” katanya.

1. Momentum evaluasi Prabowo Gibran

Aksi Rakyat Memanggil di Pertigaan Gejayan, Sleman, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Tiyo menyebut aksi di Gejayan seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi Prabowo dan Gibran. Ia menilai kerja pemerintah selama hampir dua tahun belum berhasil membangun kembali keyakinan masyarakat.

“Momentum hari ini adalah momentum untuk Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran merasa malu luar biasa. Karena ternyata seluruh kerjanya belum membuahkan kepercayaan rakyat, tetapi justru membuahkan keberanian rakyat untuk melawan,” ujarnya.

Tiyo menilai Prabowo dan Gibran masih memiliki kesempatan untuk melakukan evaluasi dan mengubah arah kebijakan pemerintah. Menurutnya, pemerintah perlu lebih terbuka terhadap kritik masyarakat sebelum ketidakpuasan publik semakin meluas.

2. Kritik terhadap UU TNI dan Program MBG

Aksi Rakyat Memanggil di Pertigaan Gejayan, Sleman, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Tiyo juga menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah yang sebelumnya telah dikritik kelompok masyarakat sipil, di antaranya pengesahan Undang-Undang TNI dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kita sudah mengucapkan bahwa undang-undang TNI itu tidak layak untuk disahkan. Kita juga sudah mengkritik MBG, tetapi respons yang muncul justru tuduhan bahwa pengkritik adalah antek asing atau pihak yang dibayar untuk mengacaukan negara,” kata dia.

Ia menilai sikap pemerintah yang dianggap menutup diri terhadap kritik justru mempercepat erosi legitimasi kekuasaan. “Penolakan terhadap kritik ini sebenarnya adalah usaha membangun liang lahat bagi kekuasaan Prabowo-Gibran,” ujarnya.

3. Soroti prioritas anggaran pendidikan

Aksi Rakyat Memanggil di Pertigaan Gejayan, Sleman, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Tiyo turut mengkritik arah kebijakan anggaran pemerintah yang dinilainya lebih menonjolkan program MBG ketimbang peningkatan kualitas pendidikan. Ia mengingatkan bahwa konstitusi mengamanatkan alokasi anggaran pendidikan melalui ketentuan mandatory spending sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4) UUD 1945. “Kita dikasih MBG, tetapi pendidikan kita tidak diprioritaskan. Padahal itu adalah perintah undang-undang,” kata Tiyo.

Ia menggunakan analogi Fir'aun untuk mengkritik pemerintah. Tiyo menyebut, jika dalam kisah tersebut Fir'aun mempertahankan kekuasaannya dengan membunuh anak laki-laki yang dianggap mengancam, maka pemerintah saat ini dinilainya melemahkan masa depan generasi muda melalui kebijakan yang tidak memprioritaskan pendidikan.

“Fir'aun itu membunuh setiap anak laki-laki yang mengancam kekuasaannya. Prabowo Gibran membunuh anak-anak Indonesia dengan cara membodohi mereka sambil mengenyangkan perut-perutnya. Saya kira masih ada waktu untuk bertaubat sebelum dia akan ditelanggelamkan oleh ‘Musa-Musa’ yang hari ini berkumpul,” ungkapnya.

Aksi Rakyat Memanggil di Pertigaan Gejayan diikuti mahasiswa, aktivis, dan berbagai elemen masyarakat sipil. Mereka menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah sekaligus menuntut perubahan arah kepemimpinan nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article