Tips Dapat Manfaat Optimal dari Olahraga Lari, Jangan Cuma FOMO

- dr. Iman Permana dari UMY menekankan pentingnya menjadikan olahraga, termasuk lari, sebagai bagian gaya hidup jangka panjang, bukan sekadar ikut tren atau FOMO.
- Lari memberi manfaat fisik dan mental bila dilakukan teratur sesuai prinsip FITT serta rekomendasi WHO, yaitu 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu.
- Persiapan matang seperti pemanasan, pendinginan, sepatu yang tepat, dan strategi latihan sesuai tujuan diperlukan agar manfaat optimal tercapai dan risiko cedera berkurang.
Yogyakarta, IDN Times - Olahraga lari kian ngetren, khususnya di kalangan anak muda. Maraknya penyelenggaraan ajang lari serta kemudahan membagikan aktivitas olahraga melalui aplikasi seperti Strava dan media sosial membuat olahraga ini semakin diminati.
Namun, tidak sedikit orang yang mulai berlari hanya karena fear of missing out (FOMO) tanpa memahami prinsip latihan yang tepat. Kondisi ini membuat manfaat kesehatan yang diharapkan tidak optimal, bahkan berpotensi memicu cedera dan membuat kebiasaan berolahraga sulit dipertahankan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang juga Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer, dr. Iman Permana, M.Kes., Ph.D., mengingatkan agar olahraga dijadikan bagian dari gaya hidup, bukan sekadar mengikuti tren.
"Apa pun bentuk aktivitas fisiknya, kalau menyangkut pola hidup, kita harus mengaitkannya dengan manfaat jangka panjang, bukan hanya manfaat sesaat," ujarnya, Kamis (9/7/2026), dikutip dari laman resmi UMY.
Olahraga lari yang memberi manfaat

Menurut dr. Iman, olahraga memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Dari sisi fisik, aktivitas tersebut dapat menurunkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal. Sementara dari sisi psikologis, olahraga membantu mengurangi stres, kecemasan, hingga depresi.
Meski demikian, manfaat tersebut hanya bisa dirasakan jika olahraga dilakukan dengan prinsip yang tepat. "Olahraga harus dilakukan secara teratur dan terukur. Di situlah manfaat kesehatannya akan benar-benar dirasakan," tegasnya.
Iman mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menganjurkan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki selama minimal 30 menit setiap hari. Adapun untuk olahraga aerobik intensitas sedang, seperti lari, WHO merekomendasikan total durasi 150 menit per minggu yang dapat dibagi menjadi lima sesi latihan, masing-masing 30 menit.
Ia juga menekankan pentingnya menerapkan prinsip FITT (Frequency, Intensity, Time, dan Type), yang mencakup frekuensi, intensitas, durasi, serta jenis olahraga. "Kalaupun awalnya ikut-ikutan atau karena FOMO, harapannya lama-kelamaan orang menyadari manfaat jangka panjangnya sehingga olahraga menjadi kebiasaan yang terus dilakukan," jelasnya.
Persiapan sebelum lari

Menurut Iman, olahraga lari tetap membutuhkan persiapan yang matang meski terlihat sederhana. Persiapan tersebut penting agar manfaat yang diperoleh maksimal sekaligus mengurangi risiko cedera. Ia mengatakan, setiap orang perlu memiliki tujuan yang jelas saat berolahraga karena hal itu dapat menjadi motivasi untuk tetap konsisten meski pada awal latihan muncul rasa lelah atau nyeri otot.
Ia juga mengingatkan agar tidak mengabaikan pemanasan dan pendinginan. Kedua tahapan tersebut berperan dalam menekan risiko cedera sekaligus membantu proses pemulihan setelah berolahraga. Selain itu, pemilihan perlengkapan, terutama sepatu lari, juga perlu diperhatikan.
"Sepatu yang sesuai akan sangat membantu menunjang aktivitas lari. Sepatu tenis, misalnya, tidak dirancang untuk berlari sehingga karakteristiknya berbeda dengan sepatu lari," katanya.
Strategi perlu disesuaikan dengan tujuan

Iman mengatakan strategi latihan perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, misalnya untuk menurunkan berat badan atau mengikuti lomba lari.
Ia mencontohkan, penderita hipertensi atau orang dengan kelebihan berat badan umumnya dianjurkan menjalani latihan aerobik secara rutin yang dibarengi dengan pengaturan pola makan. Sementara itu, persiapan menghadapi lomba maraton memerlukan program latihan yang lebih spesifik.
Iman mengaku mulai mempersiapkan diri sejak enam bulan sebelum mengikuti maraton pada akhir 2025. Persiapan itu meliputi latihan kekuatan otot, latihan lari jarak jauh secara bertahap, serta pengaturan pola makan, termasuk strategi carbo loading menjelang perlombaan.
"Setiap tujuan memiliki strategi latihan yang berbeda. Karena itu, jangan hanya mengikuti tren, tetapi pahami juga bagaimana cara mencapainya dengan benar," ujarnya.
Menurut Iman, olahraga dapat disebut telah menjadi bagian dari gaya hidup apabila dilakukan secara konsisten atas dorongan diri sendiri, bukan karena pengaruh lingkungan atau tren yang sedang berkembang.
"Kalau olahraga sudah menjadi gaya hidup, seseorang akan merasa senang melakukannya dan selalu menyempatkan waktu di tengah kesibukan. Bahkan, ketika tidak berolahraga, akan muncul perasaan seperti ada yang kurang. Itulah tanda bahwa olahraga sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar mengikuti tren," pungkasnya.


















