Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Era Algoritma, Media Harus Adaptif tanpa Korbankan Prinsip Jurnalistik

Era Algoritma, Media Harus Adaptif tanpa Korbankan Prinsip Jurnalistik
ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo)
Intinya Sih
  • Perkembangan teknologi digital mengubah industri media, menuntut adaptasi tanpa meninggalkan prinsip jurnalistik agar kepercayaan publik tetap terjaga di tengah banjir informasi dan dominasi konten viral.
  • Algoritma yang menonjolkan konten lokal membuka peluang bagi media daerah untuk memperkuat relevansi, profesionalisme, serta kolaborasi dalam menghadirkan informasi berkualitas dan mendukung pembangunan.
  • Industri media menghadapi krisis kepercayaan akibat hoaks dan clickbait; jurnalisme positif ditekankan untuk membangun optimisme, solidaritas publik, serta menjaga legitimasi melalui penyajian fakta yang solutif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Yogyakarta, IDN Times – Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah industri media secara signifikan. Di tengah derasnya arus informasi dan persaingan dengan platform digital maupun kreator konten, media dituntut beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik yang menjadi fondasi kepercayaan publik.

Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, mengatakan perubahan yang dipicu teknologi tidak hanya berdampak pada industri media, tetapi juga hampir seluruh sektor kehidupan. Farida menjelaskan, masyarakat kini tidak hanya bergantung pada media konvensional seperti televisi, radio, maupun surat kabar untuk memperoleh informasi. Kehadiran berbagai platform digital membuat akses informasi menjadi jauh lebih luas.

"Kalau dulu distribusi informasi terbatas pada media, sekarang setiap orang bisa menjadi kreator konten sekaligus pendistribusi informasi," ujar Farida, saat Workshop Membangun Media Lokal yang Berkelanjutan, di Isvara Riverside Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membawa dua sisi. Di satu sisi, masyarakat memperoleh lebih banyak pilihan informasi. Namun di sisi lain, banjir informasi juga memunculkan tantangan berupa sulitnya membedakan mana informasi yang benar, fakta, atau hasil manipulasi.

1. Algoritma mendorong konten sensasional

WhatsApp Image 2026-07-08 at 20.03.24.jpeg
Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Farida menilai algoritma platform digital turut memengaruhi pola konsumsi informasi masyarakat. Konten yang bersifat sensasional cenderung lebih banyak muncul dibandingkan informasi yang edukatif. Situasi itu menjadi pekerjaan rumah bagi industri media dan para jurnalis untuk tetap menghadirkan informasi yang akurat di tengah kecenderungan publik mengonsumsi konten yang viral. "Apakah media akan mengejar clickbait saja, atau tetap bertahan sebagai institusi yang menjaga verifikasi, kredibilitas, dan integritas?" katanya.

Ia menegaskan tantangan media saat ini bukan hanya bersaing dengan sesama perusahaan pers, tetapi juga dengan platform digital dan konten buatan pengguna (user generated content/UGC) yang ikut memperebutkan perhatian audiens maupun pendapatan iklan. Farida menekankan bahwa di tengah perubahan ekosistem digital, kecepatan bukan lagi satu-satunya faktor penting. Yang harus dipertahankan media adalah kemampuannya menghadirkan informasi yang dapat dipercaya.

Menurutnya, media juga perlu membangun hubungan yang kuat dengan pembaca sehingga lahir kepercayaan publik. "Kepercayaan publik adalah aset yang sangat berharga bagi media. Tanpa kepercayaan tidak akan ada loyalitas. Tanpa loyalitas, keberlanjutan media juga akan sulit terwujud," ujarnya.

Ia mengingatkan agar transformasi digital tidak mengorbankan prinsip-prinsip jurnalistik hanya demi mengikuti algoritma platform. "Jangan karena mengejar algoritma, kita kehilangan hal yang paling penting. Publik tetap membutuhkan informasi yang terpercaya," tegasnya.

2. Media lokal dinilai punya peluang lebih besar

ilustrasi media massa (freepik.com/rawpixel-com)
ilustrasi media massa (freepik.com/rawpixel-com)

Farida juga menyoroti perubahan algoritma yang kini semakin mengedepankan konten lokal. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi media lokal untuk memperkuat posisinya. Ia menilai media lokal memiliki keunggulan karena lebih memahami karakter masyarakat, budaya, serta persoalan yang berkembang di daerah sehingga mampu menyajikan informasi yang lebih relevan bagi publik. Karena itu, Komdigi mendorong media lokal untuk terus bertransformasi dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memanfaatkan teknologi, serta mengembangkan distribusi konten melalui berbagai platform digital.

"Kami membutuhkan media lokal yang kuat, kredibel, sekaligus menjadi mitra pembangunan. Transformasi harus dijadikan peluang untuk memperkuat kolaborasi dan profesionalisme media," kata Farida.

Ia mengakui industri media saat ini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Namun, menurutnya, penguatan ekosistem media nasional tetap diperlukan untuk menjaga ruang publik yang sehat dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang berkualitas.

3. Tantangan industri media

WhatsApp Image 2026-07-08 at 20.04.05.jpeg
Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli (tengah). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli menilai industri media tengah menghadapi krisis kepercayaan akibat maraknya penyebaran hoaks, praktik clickbait, hingga pemberitaan yang cenderung membangun framing negatif. Fenomena tersebut, lanjutnya, ikut mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. "Kalau dulu masyarakat lebih banyak membaca berita, sekarang mereka lebih banyak menonton konten di media sosial," ujarnya.

Ia menambahkan, siapa pun kini dapat memproduksi konten dan menyebarkannya melalui berbagai platform digital. Padahal, tidak semua pembuat konten memiliki pemahaman mengenai prinsip-prinsip jurnalistik dan etika pers. Menurut Jazuli, media arus utama memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar karena diikat oleh berbagai regulasi dan standar etik.

Dari sisi konten, media wajib mematuhi Undang-Undang Pers, ketentuan Dewan Pers, Undang-Undang Penyiaran, hingga berbagai aturan lain yang mengatur penyajian informasi, baik dalam bentuk tulisan, audio, maupun video. "Kepercayaan masyarakat menjadi kebutuhan utama. Jika kepercayaan itu hilang, media juga akan kehilangan audiens sekaligus legitimasi," tegasnya.

Sementara dari sisi bisnis, Jazuli mengingatkan bahwa aset terbesar yang dimiliki perusahaan media bukan sekadar teknologi atau jumlah pembaca, melainkan kepercayaan publik. Dalam workshop ini juga ditegaskan bahwa media memiliki tanggung jawab lebih luas dibanding sekadar menyampaikan informasi. Media diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan sosial, membangun optimisme masyarakat, memperkuat solidaritas publik, serta menghadirkan narasi yang mendorong semangat kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaan. Konsep jurnalisme positif pun menjadi salah satu fokus pembahasan. Pendekatan ini bukan berarti menutup-nutupi persoalan yang terjadi di masyarakat, melainkan menyajikan fakta dengan perspektif yang memberikan solusi dan membangun harapan.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Jogja

See More