Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siswa SMA di Jogja Ngaku Dicopot dari OSIS karena Kritik MBG, Ini Klarifikasi
ilustrasi MBG (bgn.go.id)
  • Bayu Elnino, siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, sempat viral karena mengaku dicopot dari jabatan Ketua OSIS akibat menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Sehari kemudian, Bayu mengunggah video klarifikasi yang menyatakan dirinya bukan ketua OSIS, tidak pernah dikudeta, dan justru menjadi penerima manfaat program MBG.
  • Pihak sekolah menegaskan Bayu hanya pernah bergabung di IPM saat kelas X dan membenarkan bahwa pernyataan awalnya soal pencopotan adalah tidak benar serta sudah diklarifikasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Bayu Elnino siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta viral di media sosial setelah mengaku dicopot dari jabatannya sebagai Ketua OSIS karena mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Siswa kelas XII itu pun akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf.

1. Mengaku dikudeta karena tolak MBG

Awalnya, melalui sebuah video yang beredar di sejumlah akun X (Twitter) pada Selasa (6/4/2026), Bayu menyebut dirinya sebagai ketua OSIS yang dikudeta secara paksa karena menolak program MBG.

Dalam video tersebut, Bayu mengungkapkan program MBG mulai masuk ke sekolahnya saat ia masih duduk di kelas XI. Baginya, MBG cuma membuang anggaran dan menguntungkan segelintir pihak, sehingga ia menolak program tersebut. Ia juga mengajak siswa lain untuk menolak program itu serta mengusulkan agar anggarannya dialihkan untuk kesejahteraan guru berpenghasilan rendah.

"Dalam proses perjuangan itu, tiba-tiba dari pihak BGN-nya (Badan Gizi Nasional) atau oknum itu mendesak saya untuk mundur dari jabatan tersebut," kata Bayu dalam video.

Beberapa hari setelahnya, ia mengklaim sekolah menerbitkan surat keputusan (SK) yang menyatakan dirinya diberhentikan dari jabatan.

2. Video klarifikasi Bayu

ilustrasi medsos (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Namun, sehari setelah video tersebut viral, Bayu mengunggah video klarifikasi di akun Instagram pribadinya. Dalam klarifikasinya, ia menyatakan bahwa tidak ada OSIS di sekolahnya dan ia juga tidak tergabung dalam organisasi apa pun di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

Ia menjelaskan saat ini dirinya merupakan siswa kelas XII dan program MBG baru diterapkan di sekolahnya pada tahun ajaran ini. Ia juga menyebut dirinya sebagai penerima manfaat program tersebut.

"Tidak ada intimidasi dari Badan Gizi Nasional yang mendesak kepada saya. Yang selanjutnya, tidak benar pernyataan yang saya sampaikan kemarin dan tidak benar adanya pelengseran atau kudeta sama sekali. Yang terakhir, tidak ada surat keputusan pemberhentian apapun terkait dengan diri saya," katanya.

Bayu kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), pihak sekolah, seluruh unsur Muhammadiyah, serta Badan Gizi Nasional.

3. Bayu keluar dari IPM saat kelas X

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Muflikh Najib, memastikan Bayu adalah siswa di sekolah tersebut yang membuat video klarifikasi.

Muflikh menegaskan tidak ada tekanan dari pihak sekolah di balik pembuatan video klarifikasi Bayu. Ia menuturkan, Bayu adalah siswa kelas XII, tapi bukan ketua OSIS. Ia menjelaskan bahwa organisasi kesiswaan di sekolah tersebut adalah IPM, bukan OSIS.

Ia menambahkan pengurus IPM hanya berasal dari siswa kelas XI. Bayu sendiri hanya sempat bergabung saat kelas X selama beberapa bulan sebelum mengundurkan diri. Selain itu, program MBG mulai diterapkan di sekolah sejak Agustus 2025.

"(Bayu) bukan ketua, ikutnya hanya di kelas X, hanya beberapa bulan kemudian mengundurkan diri," kata Muflikh saat dihubungi, Selasa (7/4/2026).

Menurut Muflikh, Bayu telah mengakui kepada pihak sekolah bahwa pernyataannya soal dilengserkan akibat menolak MBG adalah bohong. Hanya saja, Muflikh belum mengetahui kapan dan dimana video awal tersebut dibuat.

Muflikh menilai Bayu hanya terbawa situasi saat menyampaikan pernyataan tersebut. Pihak sekolah pun memilih untuk tidak memperpanjang persoalan, terlebih setelah adanya klarifikasi dari yang bersangkutan.

"Kalau kita intinya hanya meluruskan, mendampingi dan membina terkait dengan itu semua," katanya.

Editorial Team