RS di Sleman Penuh, 41 Orang Meninggal saat Jalani Isoma

Sleman, IDN Times - Sebanyak 41 orang yang terpapar COVID-19 di Sleman meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri. Koordinator Posko Dekontaminasi COVID-19 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Vincentius Lilik Resmiyanto memaparkan, beberapa di antara mereka yang meninggal karena tak kunjung mendapatkan layanan medis.
1. Kebanyakan yang meninggal adalah lansia

Kebanyakan dari pasien yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri adalah yang berusia lanjut atau lansia yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta.
"Untuk orang yang meninggal dunia karena di rumah tidak punya oksigen. Kebanyakan (kasus) saturasi 80. Kalau gak dibantu oksigen kira-kira 1 hingga 2 jam meninggal," bebernya,” ujar Lilik saat konferensi pers virtual, Rabu (30/6/2021).
2. Rumah sakit penuh, pasien terpaksa jalani isoma

Lilik Resmiyanto mengungkapkan dari 41 orang, hingga Selasa (29/6/2021) tercatat 39 orang di antaranya meninggal dunia saat isolasi mandiri. Sisanya adalah orang yang mempunyai riwayat kontak erat.
Rumah sakit yang tidak mampu menampung menjadi alasan para pasien harus menjalani isolasi mandiri. Lilik mengakui pihaknya beberapa kali dimintai pertolongan untuk membawa orang yang terpapar COVID-19 ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Namun, sebagian tak tertolong lantaran rata-rata rumah sakit sudah penuh.
3. Sehari makamkan 16 jenazah

Selama bulan Juni 202, di Sleman terjadi lonjakan kegiatan untuk memakamkan jenazah. Kenaikan ini mencapai 100 persen lebih banyak dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sebanyak 225 pemakaman dengan menggunakan protokol COVID-19 telah dilakukan di bulan ini.
"Di bulan Mei dan April rata-rata 7 kali, paling banyak 9 per hari. Di bulan Juni ini melonjak karena banyak rumah sakit penuh. Terbanyak Juni ini memakamkan 16 jenazah pasien terkonfirmasi atau terduga COVID-19 dalam sehari.

















