Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Film Pelangi di Mars, Mimpi Besar dari Layar Lebar untuk Anak

Film Pelangi di Mars, Mimpi Besar dari Layar Lebar untuk Anak
Sutradara, Produser, dan pemain film Pelangi di Mars. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Intinya Sih
  • Film Pelangi di Mars karya Upie Guava lahir dari semangat masa kecil dan literasi, menghadirkan tontonan yang menginspirasi anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi besar.
  • Proses produksi film ini melibatkan riset teknologi sejak 2020 dan bertujuan memperkuat ekosistem IP lokal, menjadikan Indonesia pelopor dalam pengembangan perfilman berbasis teknologi.
  • Cerita tentang anak Indonesia di Mars dirancang memicu imajinasi generasi muda agar percaya diri menciptakan masa depan, menanamkan nilai inovasi dan kebanggaan nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Yogyakarta, IDN Times - Film Pelangi di Mars hadir bukan sekadar sebagai tontonan fiksi ilmiah, tetapi sebagai upaya menyalakan kembali imajinasi dan mimpi besar anak-anak Indonesia. Di balik produksinya, tersimpan semangat panjang tentang literasi, teknologi, dan keyakinan bahwa film bisa menjadi jendela masa depan.

Sutradara Pelangi di Mars, Upie Guava, mengungkapkan bahwa inspirasi film ini berakar dari pengalaman masa kecilnya yang lekat dengan berbagai karya fiksi ilmiah dan petualangan. Ia tumbuh dengan tontonan seperti Star WarsBack to the Future, hingga Jurassic Park, serta bacaan seperti komik Tintin dan Gundala.

“Dulu setiap hari saya pengin cepat pulang sekolah, naik sepeda, berkelana, dan berpikir suatu saat bisa menaklukkan dunia,” ujar Upie, seusai pemutaran film di XXI Empire Yogyakarta, Minggu (22/3/2026).

1. Berangkat dari semangat masa kecil

grab still PDM 6.png
Film Indonesia Pelangi di Mars (Dok. Mahakarya Pictures/Pelangi di Mars).

Menurut Upie, semangat masa kecil itulah yang menjadi bahan bakar utama dalam berkarya hingga saat ini. Ia menyebut, imajinasi dan literasi sejak dini memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap masa depan.

“Orang-orang besar itu biasanya sejak kecil sudah berpikir mereka mampu melakukan sesuatu yang besar. Literasi itu yang membentuk,” katanya.

Lewat Pelangi di Mars, Upie ingin menghadirkan alternatif tontonan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga memberi inspirasi bagi anak-anak. Ia menilai saat ini pilihan literasi, khususnya untuk anak, masih terbatas, sehingga banyak yang kehilangan keberanian untuk bermimpi besar.

Film ini menjadi langkah berani bagi Upie setelah lebih dari dua dekade berkecimpung di industri video klip dan iklan. Ia memilih menjadikan film ini sebagai medium ekspresi idealismenya, alih-alih sekadar mengikuti tren pasar.

“Kalau di film, saya ingin membuat sesuatu yang benar-benar saya yakini. Ini seperti kesempatan sekali seumur hidup untuk membuat sesuatu untuk anak-anak kita,” ungkapnya.

2. Semangat besar mengembangkan film Indonesia

Pemutaran Film Pelangi di Mars, di XXI Empire Yogyakarta, Minggu (22/3/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Pemutaran Film Pelangi di Mars, di XXI Empire Yogyakarta, Minggu (22/3/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Tak hanya dari sisi cerita, Pelangi di Mars juga membawa misi besar dalam pengembangan teknologi perfilman Indonesia. Proses produksinya memakan waktu hingga bertahun-tahun, dimulai dari riset teknologi sejak 2020, pembangunan studio, hingga pengembangan karakter dan naskah.

Upie menyebut tantangan terbesarnya adalah minimnya referensi dan peta dalam penggunaan teknologi baru yang mereka adopsi. Meski demikian, timnya justru melihat hal itu sebagai peluang untuk menjadi pelopor.

“Kita ini termasuk early adopters. Kita mulai hampir bersamaan dengan perkembangan teknologi di Hollywood. Harapannya, kita bisa tumbuh pintar bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Pelangi di Mars membawa misi lebih luas, yakni membangun ekosistem intellectual property (IP) Indonesia yang kuat dan berakar pada nilai-nilai lokal. “Negara besar biasanya punya karya yang membentuk karakter bangsanya. Jepang dengan Gundam, Amerika dengan film-film patriotiknya. Kita juga butuh itu,” kata Dendi.

3. Tidak sekedar tontonan

Pelangi di Mars. (Dok. Istimewa)
Film Indonesia Pelangi di Mars (Dok. Mahakarya Pictures/Pelangi di Mars)

Film Pelangi di Mars mengisahkan tentang Pelangi, anak Indonesia yang lahir di Mars, bersama robot batik memimpin robot dari berbagai negara untuk menyelamatkan Bumi di masa depan. Cerita tersebut dirancang untuk memicu imajinasi anak-anak, khususnya pada usia emas di bawah 13 tahun.

Menurut Produser film Pelangi di Mars, Dendi Reynando, paparan terhadap cerita fiksi ilmiah sejak dini dapat memengaruhi cara anak melihat kemungkinan di masa depan. Ia menilai banyak inovasi teknologi saat ini berakar dari imajinasi yang dulu dianggap mustahil.

“Film sci-fi itu sebenarnya tentang kemungkinan. Dulu video call atau robot terasa seperti khayalan, sekarang jadi nyata. Anak-anak yang terinspirasi itulah yang mungkin akan menciptakan masa depan,” ujarnya.

Melalui Pelangi di Mars, para pembuat film berharap dapat memberikan “lompatan besar” bagi generasi muda Indonesia. Lebih dari sekadar keuntungan komersial, film ini diharapkan mampu menanamkan keberanian bermimpi, semangat berinovasi, dan rasa bangga sebagai bangsa.

“Ini bukan cuma soal nonton di bioskop, tapi dampak setelahnya. Kalau anak-anak mulai percaya mereka bisa sejauh itu, di situlah mimpi besar dimulai,” kata Dendi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More