Aksi aliansi masyarakat sipil Yogyakarta tentang ajakan warga agar patuh pada protokol kesehatan, 1 Agustus 2020. Dokumentasi masyarakat sipil
Tanda-tanda melemahnya kepatuhan publik terhadap protokol kesehatan akhir-akhir ini juga mendapat sorotan kelompok-kelompok masyarakat sipil di Yogyakarta. Seperti warga mulai jarang mengenakan masker di tempat umum dan mulai berkerumun.
Masyarakat sipil DIY dari berbagai elemen kemudian membentuk aliansi untuk bergotong-royong menjaga Yogyakarta. Ada lebih dari 20 lembaga yang bergabung dengan latar belakang aktivis, akademisi, jurnaliss, professional, dan mahasiswa.
“Sebelum pandemi ini nyata-nyata punah, masyarakat Yogyakarta harus terus mempertahankan kewaspadaan dengan menjaga sikap aja lena, aja sembrana (jangan terlena, jangan sembrono),” kata koordinator aliansi, Nurcholis Majid salam siaran pers tertanggal 1 Agustus 2020.
Nurcholis mengimbuhkan, gerakan tersebut bersifat terbuka dan non partisan. Dia berharap aliansi ini mampu berkontribusi untuk menggerakkan semangat gotong-royong antara elemen masyarakat, instansi pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, media massa, dan organisasi masyarakat sipil.
“Kami akan terus melakukan gethok-tular mengajak masyarakat Yogyakarta saling menjaga, pakai masker di ruang publik, rajin cuci tangan, menjaga jarak fisik, dan menghindari keramaian,” kata Nurholis.
Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho yang juga bergabung dalam aliansi menjelaskan aliansi ini juga berperan untuk memerangi infodemi, yaitu kabar bohong yang mengikuti pandemi COVID-19. Infodemi dinilai tidak kalah berbahaya dibanding virus corona itu sendiri.
Infodemi ditengarai menjadi salah satu penyebab turunnya ketidakpatuhan masyarakat. Bahkan di beberapa tempat memicu ketidakpercayaan dan intimidasi kepada tenaga kesehatan dan rumah sakit.
“Infodemi ini menimbulkan problem besar tidak hanya di Indonesia,” kata Septiaji.
Dia mencontohkan, seperti gelombang penolakan masker di Amerika hingga pembakaran tower 5G di Inggris yang diperparah dengan maraknya hoaks dan teori konspirasi. Indonesia pun kebanjiran infodemi berupa hoaks dan teori konspirasi dengan jumlah hampir 100 topik setiap bulan.
“Kami berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari penyakit informasi ini supaya mereka bisa mengambil keputusan atas informasi yang benar,” jelas Septiaji.
Aliansi ini memasang banner besar dengan tema “Jaga Jogja, Aja Lena, Aja Sembrana” di Tugu Pal Putih Yogyakarta sebagai simbol dimulainya aksi aliansi pada 1-2 Agustus 2020.