Pakar Hidrologi UGM Tawarkan Solusi Atasi Ancaman Krisis Air Bersih

- Populasi dunia mencapai 7,9 miliar jiwa, sementara ketersediaan air bersih menurun setiap tahunnya
- Air hujan dapat menjadi sumber air alternatif yang perlu dikonservasi untuk mengatasi krisis air bersih di Indonesia
- Gerakan Memanen Air Hujan dan Restorasi Sungai telah menuai hasil signifikan dalam mencegah krisis air bersih di beberapa daerah di Indonesia
Sleman, IDN Times - Laporan Bank Dunia di tahun 2022 menyebutkan, saat ini populasi dunia mencapai lebih dari 7,9 miliar jiwa, dan terus meningkat setiap tahunnya. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ketersediaan air bersih dunia. Indonesia sendiri diperkirakan akan mengalami krisis air bersih pada tahun 2040. Ancaman ini tentunya memerlukan penanganan dan antisipasi khusus agar masyarakat tidak kekurangan air bersih.
Pakar hidrologi sekaligus Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Agus Maryono, memperkenalkan Gerakan Memanen Air Hujan Indonesia dan Gerakan Restorasi Sungai Indonesia untuk mencegah krisis air bersih.
1. Air hujan sebagai sumber alternatif

Menurut Agus Maryono, air hujan dapat menjadi salah satu sumber air alternatif, terlebih dengan kondisi dua musim yang dimiliki Indonesia. "Sebenarnya air tanah itu tidak hanya dipompa, dipakai, dan diukur, tapi perlu dikonservasi. Salah satu konservasinya adalah dengan air hujan," kata Agus, Senin (27/5/5/2024).
Menurut Agus, air hujan yang turun setiap periode musim penghujan selama ini langsung dialirkan ke saluran drainase tanpa adanya upaya pengolahan kembali. Padahal, rata-rata curah hujan Indonesia mencapai 2.000-3.000 millimeter per tahun.
"Air hujan yang dikonversi bisa diinjeksikan ke dalam tanah itu akan bisa memperbaiki kualitas dan kuantitas air tanah," ungkap Agus.
2. Upaya restorasi sungai

Selain memanen air hujan, Agus Maryono juga menyampaikan upaya restorasi sungai. Menurutnya, sungai memiliki peran strategis bagi kehidupan masyarakat, termasuk dalam hal ketersediaan air bersih. Sayangnya, kondisi sungai-sungai di Indonesia justru sangat memprihatinkan dengan adanya tumpukan sampah dan ekosistem yang tidak terawat. Untuk itu, ia menawarkan lima konsep restorasi sungai, yakni restorasi hidrologi, restorasi ekologi, morfologi, sosial ekonomi, serta restorasi kelembagaan dan peraturan.
Dikatakan Agus, kedua solusi menghadapi ancaman krisis air ini sudah diterapkan bertahun-tahun di masyarakat dan menuai hasil yang signifikan. Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta dan Glintung, Malang, Jawa Timur menjadi dua desa yang memelopori Gerakan Memanen Air Hujan. Komitmen Kecamatan Tegalrejo menerapkan inovasi tersebut membuat daerah ini mendapat predikat Kampung Ramah Air Hujan.
3. Kesadaran ancaman krisis diharap tumbuh

Kesadaran akan ancaman krisis air bersih diharapkan dapat tumbuh di masyarakat, sehingga memunculkan kebiasaan bijak menggunakan air bersih. Selain itu, pemerintah juga harus mengambil langkah.
“Krisis air itu akan terjadi, karena perubahan iklim. Masyarakat akan tergantung pada air-air yang dari PDAM, lama-lama tidak bisa memenuhi kebutuhan. Saya harap pemerintah bisa mendesain untuk memaksimal air hujan ini untuk kebutuhan masyarakat,” tutup Prof. Agus.



















