Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mahasiswa di Sleman Ditemukan Tewas di Kamar Kos
Ilustrasi jenazah (IDN Times/Sukma Shakti)

Sleman, IDN Times - Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ditemukan tewas di kamar kosnya di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Minggu (9/7/2023). Mahasiswa berinisial DAP (19), warga Srandakan, Bantul, DIY, tersebut sebelumnya sempat tak merespons saat dipanggil-panggil dari luar kamarnya.

1. Ayah antar makanan

ilustrasi kamar kos (pexel.com/pixabay)

Panit Reskrim Polsek Ngaglik Ipda YS Udin Afriyanto menjelaskan, mulanya ayah korban datang ke kost putranya itu di Candikarang, Minggu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Ayah DAP datang membawakan makanan namun korban tak merespons saat pintu kamar kosnya diketuk.

"Pintu tidak dibuka, kemudian saksi (ayah korban) meninggalkan makanan yang dibawanya di meja depan kamar korban," imbuh Udin dalam keterangannya, Minggu siang.

2. Masih tak ada jawaban, masuk lewat jendela

ilustrasi akhiri hidup (IDN Times/Arief Rahmat)

Setelahnya, ayah DAP meninggalkan kos putranya untuk pergi bekerja dan baru kembali ke lokasi kejadian sekitar pukul 11.30 WIB. Sekembalinya ke lokasi, kamar DAP masih tertutup rapat. Ayah korban kembali mengetuk pintu, tapi lagi-lagi tak ada jawaban.

Sang ayah lalu memanggil pemilik kos untuk meminta kunci kamar putranya. Namun demikian, pintu kamar tersebut tetap tidak bisa dibuka.

"Selanjutnya kedua saksi melepas engsel jendela kamar korban, dan saat berhasil masuk ke dalam kamar, korban sudah tergantung di pojokan kamar kos dengan menggunakan tali kenur warna putih yang diikat di usuk," papar Udin.

3. Diperkirakan meninggal lebih dari 3 jam

Ilustrasi jasad. (IDN Times/Mardya Shakti)

Udin melanjutkan, melihat hal tersebut kedua saksi langsung menurunkan korban dan memanggil petugas kepolisian setempat. Dari hasil pemeriksaan terhadap tubuh korban, dinyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan kecuali bekas jeratan di leher kurang lebih 15 sentimeter.

"Korban diperkirakan meninggal lebih dari tiga jam sebelumnya," jelas Udin.

Sedangkan keterangan dari pihak keluarga menyebutkan bahwa korban tak memiliki masalah apa-apa belakangan. Korban juga disebut pendiam dan jarang bercerita kepada anggota keluarga.

"Pihak keluarga korban menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak menuntut untuk dilakukan visum," tutupnya.

--

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.

Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:

RSJ Amino Gondohutomo Semarang | (024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor | (0251) 8324024, 8324025
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta | (021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang | (0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang | (0341) 423444

Selain itu, layanan konseling kesehatan jiwa juga tersedia di rumah sakit umum, puskesmas, biro psikologi, dan juga melalui online. terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.

Editorial Team

Related Article