Aksi bertajuk "Merahkan Titik Nol", Rabu (17/6/2026). (Dok. Istimewa)
Mengetahui kejadian tersebut, pimpinan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) segera melakukan mediasi. Zuly mengingatkan mahasiswa agar tidak melakukan tindakan kekerasan.
“Kami mengingatkan mahasiswa bahwa segala bentuk tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan. Kampus harus menjadi ruang yang menjunjung tinggi dialog, etika, dan penyelesaian masalah secara damai,” kata Zuly.
Melalui komunikasi antara mahasiswa, pimpinan kampus, dan pihak kepolisian, anggota intel tersebut kemudian menjelaskan identitas serta tujuan kehadirannya. Polda DIY juga memberikan klarifikasi resmi dan menjemput anggotanya di kampus.
“Pihak kepolisian telah memberikan penjelasan dan klarifikasi. Karena itu, persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik melalui komunikasi yang terbuka,” tambahnya.
Sekitar pukul 20.00 WIB, situasi di kampus kembali kondusif. Seluruh pihak sepakat menyelesaikan kesalahpahaman tersebut secara damai tanpa tindakan kekerasan.
Zuly menambahkan, UMY dan kepolisian selama ini menjalin hubungan kemitraan yang baik dalam menjaga ketertiban masyarakat. Namun, ia menilai koordinasi dan komunikasi tetap diperlukan dalam setiap aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan kampus.
Menurutnya, peristiwa itu menjadi pembelajaran bersama tentang pentingnya dialog, saling menghormati kewenangan masing-masing pihak, dan menjaga kampus sebagai ruang akademik yang aman.
“Kami mengapresiasi kedewasaan mahasiswa dalam menyikapi situasi ini. Semua pihak akhirnya memilih jalan dialog, sehingga persoalan dapat diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan konflik yang lebih besar,” pungkasnya.