Sleman, IDN Times - Kementerian Pertanian mencatat Indonesia menghasilkan rata-rata 782,30 juta ton kopi dengan hampir semua laju pertumbuhan provinsi mengalami peningkatan. Sementara menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kopi Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$1,87 miliar, naik 81,08 persen dari tahun 2024.
Beberapa negara yang rutin menjadi target ekspor kopi Indonesia sejak 2024 di antaranya Amerika Serikat yang meraup 18,77 persen dari total ekspor, dilanjut Mesir 8,70 persen, Malaysia 7,96 persen dan Belgia 7,06 persen.
Meski menjadi negara penghasil kopi terbesar di dunia, tapi kesejahteraan petani kopi belum meningkat sepenuhnya. Hal itu disebabkan produktivitas perkebunan kopi yang masih rendah dan hasil panen dijual ke tengkulak dengan kualitas biji yang fluktuatif.
Guru Besar Bidang Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Prof. Supriyadi mengatakan hanya sekitar 75 persen wilayah perkebunan kopi yang dapat diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, sisanya tidak dalam kondisi produktif dan mengalami kerusakan. “Terdapat 10 persen kerusakan lahan perkebunan kopi di Indonesia yang masih rusak. Selain kuantitas, tentu kualitas biji kopi yang fluktuatif,” kata Supriyadi, Kamis (12/3/2026) di Kampus UGM.
