Kastagila, Kedai Kopi di Kulon Progo yang Tutup Saat Purnama

- Kastagila didirikan oleh seniman lokal bernama Latif Prakosa sebagai ruang kolektif untuk berbagai komunitas di Kulon Progo.
- Kedai kopi ini hanya tutup saat bulan purnama, tetapi tetap menyediakan tempat bagi pelanggan yang ingin nongkrong hingga pagi menjelang.
- Kastagila memiliki program barter buku dan hasil kebun, serta pojok bengong untuk para pengunjung merenung dan merefleksi diri.
Pernah dengar ada kedai yang mengizinkan pelanggannya membawa makanan dari luar? Atau, pernah tahu ada warung kopi yang mengizinkan minumannya dibarter dengan buku atau hasil bumi? Ternyata, ada lho kafe seperti ini di Yogyakarta, namanya Kastagila.
Kastagila yang berlokasi di Kulon Progo ini menolak disebut kafe karena menurut pemiliknya, itu terlalu kebarat-baratan. Namun terlepas apa pun sebutannya, mereka menawarkan keunikan sekaligus keberanian yang gak dimiliki oleh semua usaha FnB.
1. Berawal dari rumah untuk berbagai komunitas

Kastagila berangkat dari ruang kolektif pada 2021 oleh seorang seniman lokal bernama Latif Prakosa. Memanfaatkan rumahnya yang sejuk di Karangsari, Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, siapa sangka kalau kedai ini awalnya justru rumah bagi berbagai komunitas seperti teater, film, sampai sastra. Menyadari bahwa kopi adalah bagian penting dalam sebuah perkumpulan, ia melakukan RnD menu-menu untuk disajikan kepada teman-temannya.
Menariknya, Kastagila tak pernah secara khusus membuat konten harian untuk berusaha menggaet minat pelanggan. Namun entah dari mana, perlahan, banyak anak muda kisaran usia SMA dan mahasiswa mulai berdatangan. Kedai itu menjadi kian ramai dan didatangi bagi pemburu work from cafe (wfc) hingga yang butuh tempat sunyi untuk les.
Kedai ini cukup dekat dari Alun-alun Wates, cuma 3 km atau sekitar 5 menit saja naik motor. Sedangkan kalau kamu dari Bandara YIA, jaraknya cuma 12 km dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
2. Kedai kopi yang cuma tutup saat bulan purnama

Ada yang unik dari jam operasional Kastagila. Mereka ajeg buka pukul 11.00 WIB setiap harinya dan pelayanan pembelian terakhir pada pukul 23.00 WIB. Namun, jika masih ada yang membutuhkan tempat bekerja atau sekadar ingin nongkrong berlama-lama, gak akan diusir buat pulang sekalipun sampai pagi menjelang.
Tak sampai di situ saja. Jika kedai kopi kebanyakan tutup di hari Minggu atau hari tertentu, Kastagila punya tradisi libur di setiap bulan purnama. Sebuah aturan yang memang terasa ganjil, tapi membuat para pelanggannya harus rajin menatap kalender astronomi supaya tak pulang dengan tangan hampa.
3. Bisa barter kopi dengan buku sampai hasil kebun

Di salah satu sudut Kastagila, kamu bisa menemukan tumpukan buku yang bisa dibaca di sekitar situ. Tak ada alasan khusus kenapa ada buku-buku di sini melainkan sang pemilik memang suka baca dan ingin menularkan hobi itu pada siapa pun yang datang. Bahkan, dari niat itu, tercetuslah program barter.
Menurut Latif, program ini didasari pada rasa butuh, baik oleh pelanggan juga kedainya. Pelanggan membutuhkan menu dari Kastagila, dan sebaliknya, apa pun yang dibutuhkan oleh Kastagila, akan diterima, termasuk buku. Meski begitu, mereka juga menerima barang lain seperti hasil kebun, entah itu telur, biji kopi, dan lain-lain. Menarik, kan?
4. Punya pojok bengong yang syahdu

Meski secara tempat Kastagila memang mendukung untuk WFC karena suasananya yang sunyi dan fasilitasnya yang memadai, tapi Latif mengaku ingin menjadikan kedai miliknya sebagai tempat untuk bengong. Ia menyadari, di kondisi yang serba cepat dan orang banyak merasa terburu-buru, harus ada tempat di mana semua orang bisa diam sejenak dan merefleksi diri.
Berangkat dari keinginan sederhana ini, Latif sengaja menciptakan 'pojok bengong' di kedainya. Sebuah bangku semen panjang yang dibangun tepat di bawah pohon, lengkap dengan sebait puisi pada papan triplek sederhana, kian menambah kesyahduan tempat itu. Di situ lah, para pengunjung seolah diizinkan untuk sejenak menanggalkan beban pikiran, berteman segelas kopi dan semilir angin yang lewat di sela dedaunan.
5. Punya menu kopi dengan racikan rempah, hingga izinkan pelanggan bawa makanan dari luar

Pilihan menu di Kastagila tergolong beragam, baik untuk makanan maupun minumannya. Fokus utama mereka terletak pada racikan kopi rempah, bahkan mereka memproduksi sendiri sirup-sirup yang digunakan. Harganya pun masih sangat bersahabat, berkisar belasan ribu saja.
Satu lagi keunikannya. Walaupun sudah menyediakan menu lengkap dari kopi sampai cireng, Kastagila tetap mengizinkan pengunjung membawa makanan atau bekal dari rumah. Hal ini menjadi nilai plus karena menjadikannya sebagai kedai yang terasa seperti rumah sendiri.
Kastagila bukan sekadar warung kopi, tapi ruang pulang yang menambah daftar hidden gem di Kulon Progo. Entah kamu datang untuk mencari asupan kafein, ingin melamun di 'pojok bengong', atau sekadar membaca buku dalam tenang, kedai ini akan menyambutmu dengan hati hangat. Jadi, kapan rencana mampir ke Kastagila?


















