Buat Konten di Medsos, Ini Beda Viral dan Topik

- Data BPS 2025 mencatat Milenial dan Gen Z mencapai 194 juta jiwa atau 68 persen populasi Indonesia, menjadikan keduanya kekuatan utama dalam arah masa depan bangsa.
- Milenial lebih banyak mengakses informasi resmi dan media massa, namun cenderung skeptis terhadap pemerintah; sementara Gen Z lebih responsif pada data visual, humor, dan partisipasi digital.
- Analisis Exploding Topics menegaskan perbedaan antara viralitas konten yang singkat dengan siklus topik yang panjang, penting bagi brand dan pembuat kebijakan untuk fokus pada tren berkelanjutan.
Yogyakarta, IDNTimes - Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025 menunjukkan, jumlah gabungan Milenial dan Gen-Z mencapai sekitar 194 juta jiwa. Jumlah itu setara dengan 68 persen dari total populasi Indonesia. Dengan jumlah itu, Milenial dan Gen-Z menjadi tulang punggung dan masa depan negara.
Memahami perbedaan ini penting untuk berkomunikasi secara efektif, merancang produk yang relevan, dan merumuskan kebijakan yang beresonansi dengan kedua generasi tersebut.
1. Perbedaan cara akses medsos antara Milenial dan Gen Z

Milenial adalah generasi transisi karena mengalami era media konvensional. Namun juga merasakan ekosistem digital. Berdasarkan data IDN Research, terdapat perbedaan antara Milenial dan Gen Z dalam mengakses informasi, yaitu ilenial mengonsumsi lebih banyak pernyataan resmi dari lembaga sebanyak 37 persen dibanding Gen Z yaitu 31 persen. Milenial juga mengakses lebih banyak informasi melalui media massa yaitu 25 persen dibandingkan Gen Z dengan 18 persen.
Milenial juga merupakan kelompok dengan tingkat ketidakpercayaan tertinggi terhadap pemerintah, di mana 40 persen di antaranya menganggap respons pemerintah lambat. Milenial termasuk audiens yang paling sulit untuk dipikat karena standar tinggi dan skeptisisme yang dibentuk oleh pengalaman nyata, bukan sekadar asumsi.
Hal yang menonjol adalah Gen Z merespons lebih kuat terhadap data visual sebanyak 43 persen dan humor hingga 38 persen dibanding Milenial. Mereka juga hampir dua kali lipat lebih aktif dalam aktivitas partisipasi digital seperti membagikan ulang (sharing/reposting) dan menandatangani petisi hingga angka 66,3% dibanding milenial yaitu 36 persen.
Bagi Gen Z, rasa percaya tidak ditentukan oleh siapa yang lebih besar, melainkan oleh siapa yang terasa lebih konsisten dan tidak transaksional.
1. Perbedaan viralitas dan topik

Membuat unggahan di media, sangat penting untuk membedakan antara viral suatu konten dan siklus sebuah topik. Viral bertahan dalam hitungan hari atau minggu, sementara topik bisa bertahan sampai berbulan-bulan bahkan tahun.
Sebuah analisis yang dilakukan Exploding Topics pada tahun 2020, berdasarkan data pencarian Google di ribuan topik dan industri menemukan bahwa topik umumnya melewati tiga fase: pertumbuhan stabil, pertumbuhan eksponensial (meledak), dan kejenuhan puncak. Durasi dari setiap fase ini sangat bervariasi tergantung pada industrinya.
Topik yang berkaitan dengan fesyen, keuangan, dan perjalanan dapat terus tumbuh lebih dari satu tahun, sementara topik di bidang olahraga atau kebugaran cenderung mengalami siklus yang jauh lebih pendek. Namun, di hampir semua sektor, banyak topik yang belum mencapai fase puncaknya, yang berarti masih ada ruang yang cukup besar untuk eksplorasi dan pengembangan jangka panjang.
Perbedaan ini sangat krusial karena sebuah konten yang viral tidak secara otomatis menunjukkan kematangan dari sebuah topik. Sebuah tren mungkin tampak menghilang dari lini masa, sementara minat yang lebih luas di baliknya terus tumbuh dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Dalam praktiknya, ini berarti bahwa merek atau brands,, perusahaan media, dan pembuat kebijakan harus menghindari penafsiran viralitas jangka pendek.

















